Reaktor Fusi, Penghasil Energi Nuklir Bersih

Reaktor Eksperimental di Washington Uni

Energi dan Lingkungan
Typography

Penilaian: 0 / 5

Nonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan Bintang
 

Banyak orang menolak reaktor nuklir karena takut akan resikonya: kebocoran nuklir dan kesulitan dalam pembuangan limbahnya yang radioaktif. Namun, kebutuhan energi dunia yang makin meningkat tidak akan dapat dipenuhi semata dengan mengandalkan bahan bakar fosil. Untuk itu, sejak 1950-an, para ahli telah berusaha untuk membuat reaktor nuklir yang bersih--dengan resiko radiasi yang sangat kecil, bahkan nyaris tidak ada.

Reaktor nuklir yang sekarang dioperasikan secara komersial adalah reaktor fisi. Sumber energinya adalah pemecahan atom. Dengan membombardir inti atom menggunakan partikel berat, atom pecah menjadi unsur yang lebih ringan; dan dalam proses itu melepaskan energi yang teramat besar. Namun, karena prosesnya, reaktor fisi menghasilkan sisa banyak unsur yang bersifat radioaktif; dan naasnya, unsur radioaktif yang dihasilkan ini memiliki masa hidup ratusan bahkan ribuan tahun. Inilah yang membuat limbah nuklir dari reaktor fisi menjadi sangat berbahaya. Dalam kasus kebocoran nuklir (nuclear meltdown), unsur-unsur radioaktif ini lepas dan seluruh wilayah di sekitarnya akan tercemar. Tidak ada yang dapat dilakukan selain menunggu ratusan atau ribuan tahun sebelum wilayah itu kembali aman untuk ditinggali manusia.

Reaktor fusi bekerja dengan cara kebalikannya, yakni dengan menggabungkan atom-atom dari unsur yang lebih ringan menjadi unsur yang lebih berat. Proses fusi menjadi jauh lebih aman daripada proses fisi, karena limbah yang dihasilkannya terutama adalah hidrogen. Resiko terbesar bagi sebuah reaktor fusi adalah dihasilkannya tritium, yakni salah satu isotop hidrogen yang memiliki massa atom = 3 (3H atau Hidrogen-3) yang bersifat radioaktif. Ini masih jauh lebih aman daripada limbah reaktor fisi: Tritium hanya memiliki masa hidup 12 tahun dan, karena bentuknya gas, teknologi untuk mengamankannya sudah tersedia secara murah dan terpercaya. Di samping itu, dalam tubuh manusia tritium hanya memiliki half-life sepanjang 7-14 hari; dan proses dekontaminasi tritium dari tubuh manusia dapat dipercepat dengan konsumsi alkohol dalam jumlah tertentu.

Saat ini, reaktor fusi yang dioperasikan secara komersial belumlah tersedia. Para ilmuwan masih terus mencari metode yang efisien agar jumlah energi yang dibutuhkan untuk menggabungkan atom bisa jauh lebih kecil daripada energi yang dilepaskan ketika dua atom bergabung.

Namun para ahli optimis bahwa dalam dekade mendatang, reaktor fusi yang operasional akan dapat diwujudkan. Saat ini, ada beberapa perancang yang tengah bersaing membangun prototipe reaktor fusi dalam skala sebenarnya. Salah satunya ditunjukkan dalam gambar yang tersemat sebagai ilustrasi artikel ini, yang dibangun oleh para teknisi dari University of Washington. Prototipe ini menggunakan magnet untuk mengurung plasma gas dalam suhu yang cukup tinggi sehingga "terbakar" dan menghasilkan energi nuklir. Rancangan lain dibangun oleh Lockheed Martin, menggunakan cermin magnetik dan aliran superkonduktif untuk mencapai efek serupa. Lockheed Martin telah memamerkan prototipe mereka pada Google Solve for X Forum pada tahun 2013. Perusahaan lain, EMC2, Inc., menggunakan sistem polywell untuk menghasilkan energi nuklir, dalam proyek yang dibiayai Angkatan Laut AS.

Sistem mana yang akan diterima sebagai dasar bagi reaktor nuklir bersih pertama di dunia? Kita masih harus menunggu satu dasawarsa lagi untuk jawabannya.

Referensi:

http://www.sciencedaily.com/releases/2014/10/141008131156.htm



Silakan berlangganan pada layanan Newsletter kami, untuk mendapatkan kabar apabila ada artikel baru yang diunggah.

"Kita sekarang tengah terancam bahaya oleh kebodohan dan kerakusan kita sendiri."

Stephen Hawking