Sains Palsu, Bid'ah Masa Modern

Demon Haunted World--Carl Sagan

Sains dan Masyarakat
Typography

Penilaian: 0 / 5

Nonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan Bintang
 

Kalangan agama mengenal konsep "nabi palsu", orang-orang yang memuntir ajaran agama untuk mendapatkan keuntungan pribadi. Ternyata dunia sains pun mengenal "sains palsu" (pseudo science), di mana sains dipuntir dan diselewengkan untuk mendatangkan ketenaran atau keuntungan finansial bagi para pengusungnya. Baik nabi palsu maupun sains palsu sama merugikannya bagi dunia karena mendatangkan kesesatan. Carl Sagan, ahli fisika perbintangan ternama itu, menulis tentang hal ini dengan apik dalam bukunya "A Demon Haunted World".

Dalam dunia di mana segala hal digerakkan oleh ilmu pengetahuan--sejak gosok gigi pagi sampai berbaring tidur malam--sangat wajar apabila banyak orang haus akan ilmu. Sekalipun mungkin tidak sampai berpikir: "bagaimana sebenarnya kipas angin ini bisa berputar?" atau "bagaimana mungkin sebuah ponsel cerdas diberi harga lebih murah dari sebuah ukiran seni?", banyak orang ingin mengenal dunia di sekitarnya dengan lebih baik.

Sayangnya, sarana dan prasarana untuk mengenal dunia itu tidak tersedia. Sejak di bangku sekolah, anak sudah diajari untuk takut terhadap ilmu pengetahuan. Dengan hapalan dan guru-guru yang galak, kita dilatih untuk takut terhadap ilmu. Dan, setelah beranjak dewasa, kita dapati semua sumber informasi di sekitar kita bukanlah sumber yang mendasarkan diri pada sains. Acara televisi dipenuhi gosip dan kehidupan selebriti, demikian pula dengan media cetak. Koran-koran diisi skandal korupsi dan kecurangan politik, konflik dan kekerasan. Kalaupun ada sumber untuk mendapatkan pengetahuan, sumber itu mahal atau bahasanya tidak dipahami awam.

Maka tidaklah terlalu mengherankan apabila orang lantas beralih pada sains palsu. Cara penulisan yang bombastis, penuh sensasi, diiringi teknik pemasaran yang menggebu-gebu, membuat orang tertarik. Dan orang yang dipenuhi rasa ingin tahu akan menelan sains palsu ini bulat-bulat.

Para nabi palsu sangat berbahaya karena menyesatkan manusia dari ajaran agama. Para pengikut nabi palsu akan memenuhi dirinya dengan kebencian, kerelaan untuk menyengsarakan orang lain, atas nama ilah yang disembahnya. Sains palsu juga sama berbahayanya, karena mendorong orang untuk bertindak irasional di hadapan masalah-masalah nyata dalam dunia. Ketidakpahaman atas cara pasar bekerja membuat orang terseret dalam arus konsumerisme. Kesesatan dalam pemahaman tentang evolusi membuat orang tidak merasa bersalah ketika merusak lingkungan. Sesat pikir atas sosiologi membuat orang memaksakan "modernisme". Daftar masih bisa sangat diperpanjang.

Bagaimana cara mengetahui apakah sebuah "pengetahuan" datang dari sains sejati atau palsu? Cara pertama adalah berpegang pada prinsip utama sains: pertanyakan segala sesuatu. Setiap keping pengetahuan sejati dipublikasi melalui jurnal, yang diperiksa oleh sesama ilmuwan. Sebuah pengetahuan baru akan diperiksa ulang (dikoroborasi) oleh tim lain, untuk menguji kesahihan metode atau penyimpulan dari datanya. Jika kita bisa mengurutkan satu data atau fakta pada sumber aslinya, kita boleh menerimanya sebagai bagian dari sains sejati.

Tapi tidak semua orang punya kesempatan atau cara untuk melakukan penelusuran. Cara kedua yang sangat berguna adalah dengan bertanya: "adakah cara untuk membuktikan kebenaran atau kesalahan dari keterangan ini?" Jika ada orang menyatakan: usia bumi adalah 6000 tahun, adakah cara untuk membuktikan berapa usia bumi yang sesungguhnya? Jika ada orang mengatakan bahwa bumi akan didatangi mahluk antariksa, adakah cara untuk membuktikannya?

Jika kita tidak cukup banyak mengenal teknik pembuktian ilmiah, atau teknik pemeriksaan argumen ilmiah, ada cara ketiga untuk mengenali sains sejati: kemampuannya untuk meramalkan gejala alam secara konsisten. Ini berhubungan dengan salah satu hukum utama sains: sebab-akibat. Jika usia bumi benar 6000 tahun, apa akibatnya? Dapatkah keterangan itu menjelaskan adanya fosil hewan laut di puncak pegunungan Himalaya? Jika mahluk angkasa luar pernah mendatangi bumi, apa dampaknya?

Jika satu "pengetahuan" a) tidak melalui proses koroborasi, b) tidak dapat dibuktikan kebenaran/kesalahannya atau c) tidak dapat digunakan untuk meramalkan satu gejala, maka kita boleh yakin bahwa keterangan itu tidak datang dari sebuah proses sains yang sejati.

Referensi:

http://www.amazon.com/The-Demon-Haunted-World-Science-Candle/dp/0345409469

 

Silakan berlangganan pada layanan Newsletter kami, untuk mendapatkan kabar apabila ada artikel baru yang diunggah.

"Definisi kegilaan adalah: terus mengulang-ulang sesuatu, sambil mengharapkan hasil yang berbeda. "

Albert Einstein