Teori vs "Teori"

Ah, cuma "teori"!

Sains dan Masyarakat
Typography

Penilaian: 0 / 5

Nonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan Bintang
 

Seringkali kita dengar orang bilang: "Ah, cuma teori. Jangan dipercaya." Mungkin ada yang tidak percaya evolusi karena dianggap "hanya teori". Tapi bagaimana jika ada yang tidak percaya bahwa bumi itu bulat, atau tidak percaya teori gravitasi, atau teori medan magnet--karena "hanya teori"? Bagaimana memilah antara teori yang harus dipercaya dan "teori" yang harus dipertanyakan lebih lanjut?

Kerancuan ini berasal dari campur-aduknya penggunaan istilah "teori". Dalam dunia keilmuan, sebuah teori adalah satu penjelasan yang konsisten atas berbagai gejala, sudah teruji dalam eksperimen, dan memiliki kemampuan meramalkan sesuatu yang belum teruji dalam eksperimen. Ketiga unsur tersebut harus terpenuhi sebelum sebuah penjelasan dinobatkan sebagai satu teori. 

Jika orang membuat penjelasan terhadap satu gejala, tapi penjelasan ini belum teruji, penjelasan ini belum berpangkat teori. Ini adalah hipotesis. Hipotesis adalah dugaan. Berdasarkan fakta-fakta yang tersedia, kita membuat dugaan terhadap kemungkinan penjelasan yang dapat merangkai fakta-fakta itu menjadi kisah utuh. 

Mari kita ambil Teori Relativitas Einstein--baik yang umum maupun yang khusus. Penjelasan Einstein mengenai Relativitas Umum dan Relativitas Khusus telah dinobatkan sebagai teori, karena sudah terbukti. Ada sekian banyak bukti tersedia, mulai dari bom atom (bukti dari rumus e=mc2), red shift (efek Doppler yang berlaku pada cahaya), sampai pembelokan cahaya oleh gravitasi. Bahkan perangkat GPS di ponsel pintar (termasuk yang murah-meriah) hanya dapat dibuat dengan memakai perhitungan Teori Relativitas. 

Sebelum dibuktikan, penjelasan dan rumus Einstein mengenai relativitas hanyalah berpangkat hipotesis--sekalipun hipotesis yang tersusun dengan sangat baik, dengan jabaran matematika yang terperinci. Hipotesis Einstein ini baru resmi diterima sebagai teori ketika di tahun 1941, eksperimen berhasil membuktikan terjadinya pembelokan cahaya oleh gravitasi. Dibuat dan digunakannya bom atom sebagai pemungkas Perang Dunia II merupakan mahkota yang mengukuhkan posisi Relativitas sebagai salah satu teori terbaik yang pernah dihasilkan Manusia. 

Namun ada satu persamaan dari teori dan hipotesis: keduanya menempatkan diri sebagai satu hal yang "dapat dipertanyakan". Apa artinya? Sebuah hipotesis membuat ramalan: jika A maka B. Dari ramalan ini, para ilmuwan dapat merancang eksperimen pembuktiannya. Dengan terciptanya kondisi A, apakah kondisi B akan terbukti muncul? Jika ya, maka hipotesis akan terangkat derajatnya menjadi teori. 

Teori pun diperlakukan dengan cara sama. Contoh terbaik yang dapat diajukan adalah Teori Newton. Sebelum datangnya Teori Relativitas, Teori Newton-lah yang dipakai untuk menentukan segala hal mengenai gerak. Teori Newton sudah terbukti dalam hampir segala macam gejala di muka bumi ini mengenai gerak. Namun kemudian, eksperimen membuktikan bahwa Teori Newton gagal menjelaskan mengenai gerak cahaya. Ternyata, dalam kecepatan yang begitu tinggi, Teori Newton tidaklah memadai. Dengan pengujian, ternyata Teori Relativitas Einstein tidaklah menggantikan Teori Gerak Newton, melainkan merupakan penjelasan yang lebih konsisten atas gerak. Dalam kecepatan rendah (dibandingkan kecepatan cahaya), rumus Newton masih sangat memadai untuk mendapatkan perhitungan yang presisi. 

Kondisi "dapat dipertanyakan" inilah yang membedakan baik teori maupun hipotesis dengan spekulasi. Spekulasi bisa didasarkan pada fakta atau kejadian yang bisa dibuktikan keberadaannya--tapi tidak ada cara untukmengujinya lebih jauh. Penjelasan tentang kejadian spektakuler yang baru saja dihebohkan sebagai "sangkakala dari langit" adalah sebuah spekulasi--karena tidak ada cara untuk menguji kebenarannya. Kejadian itu hanya satu kali, sehingga data yang dipakai untuk membuat kesimpulan terlalu sedikit; dan penjelasan itu tidak dapat membuat ramalan apapun. Ketidakmampuan untuk membuat ramalan ini membuat mustahil diadakan eksperimen untuk membuktikannya. Beberapa jenis spekulasi memungkinan adanya ramalan--seperti ramalan bahwa bumi akan mengalami kiamat pada tanggal sekian tahun sekian. Persoalannya adalah tetap mustahilnya sebuah eksperimen dilakukan untuk menguji ramalan ini. Kita hanya bisa menunggu tanggal itu lewat--dan semua ramalan tentang hari kiamat telah terbukti gagal. 

Bagaimana dengan "keberadaan mahluk planet lain"? Sebagian dari pernyataan itu adalah spekulasi--yakni bahwa benda terbang tak dikenal adalah pesawat antar-planet yang membawa mahluk asing ke bumi. Tapi sebagian lagi adalah hipotesis: bahwa, di planet-planet yang terpindai mampu mendukung adanya kehidupan, mungkin kehidupan telah berkembang bahkan menghasilkan mahluk cerdas. 

TLDR (Too Long, Don't Read): Teori adalah penjelasan yang telah terbukti; makin sering pembuktian terjadi, dan makin beragam kondisi pembuktian itu, makin sahih teorinya. Hipotesis adalah dugaan terdidik, berdasarkan fakta dan dapat melahirkan eksperimen untuk membuktikan kebenarannya. Spekulasi adalah dugaan liar, yang hanya didukung bukti tidak langsung, dan tidak dapat melahirkan eksperimen untuk pengujiannya. 

Kemampuan kita membedakan mana teori, mana hipotesis dan mana spekulasi adalah kunci bagi lahirnya kemampuan berpikir secara ilmiah.

Referensi:

http://www.diffen.com/difference/Hypothesis_vs_Theory

 

Silakan berlangganan pada layanan Newsletter kami, untuk mendapatkan kabar apabila ada artikel baru yang diunggah.

"Sains bukan hanya berhutang budi pada nalar, tapi juga pada romansa dan gairah."

Stephen Hawking