Margaret Hamilton, Pelopor Konsep Perangkat Lunak

Margaret Hamilton dalam Kokpit Apollo

Biografi
Typography

Penilaian: 0 / 5

Nonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan Bintang
 

Perangkat lunak telah menjadi kenyataan sehari-hari bagi sebagian besar di antara kita. Bahkan tulisan di web Indosains ini tak dapat dibaca tanpa perangkat lunak. Tapi tahukah kamu kalau konsep "perangkat lunak" ini dipelopori seorang perempuan? Seorang perempuanlah yang membuka jalan sehingga aku dan kamu sekarang bisa berjejaring di dunia maya seperti sekarang ini. Nama perempuan itu: Margaret Hamilton.

Ketika Margaret bekerja di NASA, di awal 1960-an, konsep software belumlah dikenal. Yang ada hanyalah computer progremming--yang dilakukan dengan cara menyolder gerbang ON dan OFF secara fisik pada komputer yang kemudian digunakan untuk keperluan tunggal, sebagaimana tujuan dari pemrograman itu. Komputer pertama di dunia, yang dibangun oleh Alan Turing di pertengahan 1940-an untuk memecahkan pesan sandi NAZI, harus ditempatkan dalam sebuah gudang agar muat.

margaret hamilton dan putrinya, laurenSebagai sebuah ilmu baru, yang bahkan belum diajarkan di sekolah-sekolah, pemrograman komputer memberi tantangan yang amat besar. Margaret menyukai tantangan ini, dia merasa hidup karena terlibat dalam upaya menjawab tantangan ini. Margaret, seorang ahli matematika lulusan Eartham College, mendapat posisi di MIT sebagai programmer untuk komputer navigasi Apollo 11, pesawat antariksa Amerika yang akan membawa umat manusia untuk pertama kalinya mendarati bulan. Ketika dia mulai bekerja di sana, pemrograman komputer adalah keahlian yang harus dipelajari sambil jalan--tidak ada kursus atau jurusan apapun di universitas yang mengajarkan teknik penulisan program ini.

Jika sekarang Ibu Bekerja (working mother) sudah menjadi hal biasa--walau tetap dapat penentangan dari banyak pihak--di tahun 1960-an hal itu adalah sebuah keanehan. Margaret banyak mendapatkan tekanan, terutama tuduhan bahwa dia menelantarkan keluarganya. Margaret menjawab semua tekanan itu dengan membawa putrinya, Lauren, untuk berada bersamanya di ruang kerja selama akhir pekan atau setelah pulang sekolah.


Sebagai sebuah ilmu baru, yang bahkan belum diajarkan di sekolah-sekolah, pemrograman komputer memberi tantangan yang amat besar. Margaret menyukai tantangan ini, dia merasa hidup karena terlibat dalam upaya menjawab tantangan ini. Dan, dalam prosesnya, dia malah membidani kelahiran disiplin ilmu pemrograman komputer itu sendiri.

Semua itu gara-gara kompleksitas proses pendaratan sebuah wahana luar angkasa di bulan, maupun proses navigasi untuk kembali ke bumi. Ada begitu banyak kemungkinan kesalahan, baik kesalahan manusia oleh para astronot maupun kesalahan dari perangkat komputer itu sendiri. Margaret dan timnya harus membuat program komputer yang sanggup mengenali kemungkinan kesalahan-kesalahan ini, mengoreksinya, bahkan juga memutuskan langkah terbaik sekalipun astronot maupun perangkat melakukan kesalahan.

Di sinilah Margaret menyusun satu proses pemrograman yang asynchronous (menggunakan event-handler), memiliki priority scheduling dan kapabilitas untuk pengambilan keputusan secara human-in-the-loop. Kesemua unsur ini adalah basis bagi penulisan perangkat lunak modern sampai hari ini.

margaret dan kode yang ditulisnya
Awalnya, petinggi NASA bersikeras menolak penggunaan paradigma pemrograman baru ini; dengan alasan bahwa para astronot telah dilatih dengan sempurna dan perangkat keras berharga jutaan dollar itu tidak akan gagal menjalankan tugasnya. Namun Margaret tanpa henti berupaya meyakinkan para petinggi ini untuk mengijinkan penulisan kode cadangan untuk keadaan darurat.

Berkat karya Margaret, satu bencana atas Apolo 11 berhasil dihindarkan. Yang pertama adalah ketika pendaratan di bulan, di mana peralatan pengindra pendaratan membanjiri prosesor dengan data yang tak relevan untuk proses pendaratan. Berkat program yang berjalan asynnchrous, prosesor berhasil memilah data yang benar-benar diperlukan dan akhirnya mendaratkan wahana Eagle dengan selamat di Sea of Tranquility, di atas permukaan bulan.

Keberhasilan sistem operasi Apollo 11 melahirkan disiplin ilmu pemrograman. Berdasarkan paradigma yang dipakai dalam pemrograman Apollo 11, lahirlah ilmu penulisan perangkat lunak modern. Sekalipun program komputer Apollo 11 dikerjakan oleh satu tim besar, karya Margaret Hamilton-lah yang membuat perangkat lunak ini memperoleh sukses besar.

Selepas keberhasilannya dalam penerbangan Apollo 11, Margaret meneruskan karyanya dalam merintis jalan ke arah perangkat lunak yang makin cerdas, dapat diandalkan dan beresiko rendah. Dia menciptakan Universal System Language, sebuah bahasa pemrograman yang dikhususkan untuk mengoptimalkan system engineering. Di usianya yang sudah hampir 80 tahun, dia masih aktif memimpin Hamilton Technologies, Inc., perusahaan yang dibangunnya untuk mengembangkan USL.

Tanpa keberanian, gairah, pengorbanan dan kecerdasan seorang perempuan, Margaret Hamilton, bukan saja pendaratan Apollo 11 di bulan akan mengalami kegagalan--dunia informatika seperti yang kita nikmati sekarang mungkin belum akan terwujud.

Referensi:

 

Silakan berlangganan pada layanan Newsletter kami, untuk mendapatkan kabar apabila ada artikel baru yang diunggah.

"Ini adalah jaman di mana pertama kalinya Manusia begitu tertarik tentang masa depan, terutama justru karena mungkin kita telah menghancurkannya."

Arthur C. Clarke