Thomas Alva Edison, Anak Pemberontak yang Menjadi Penemu

Thomas Alva Edison

Biografi
Typography

Penilaian: 0 / 5

Nonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan Bintang
 

Thomas Alva Edison adalah satu sosok yang banyak disaput legenda. Penemuannya yang begitu banyak dan sangat berguna, bahkan tak tergantikan selama berpuluh tahun, membuatnya menjadi idola banyak orang. Dan, sebagai idola, tentu banyak kabar burung dan kisah menakjubkan yang disematkan padanya. Tapi, dari sekian banyak kisah menakjubkan itu, tidak banyak yang tahu bahwa Thomas Alva Edison adalah anak seorang pemberontak.

Masa Kecil

Banyak kisah mengenai Thomas Alva Edison dirajut dengan tema "anak miskin yang menjadi kaya". Sesungguhnya, keluarga besar Edison merupakan keluarga yang cukup terpandang dan cukup kaya.

edison kid
Kakek buyutnya, John Edison, adalah tuan tanah kaya yang bermigrasi dari Inggris ke West Orange, New Jersey, di tahun 1730. Selama perang kemerdekaan Amerika Serikat, keluarga Edison berpihak pada Kerajaan Inggris. Sebagai akibatnya, tanah mereka diserbu oleh para pejuang kemerdekaan dan sang Kakek Buyut nyaris menemui ajal sebagai "pengkhianat". Hanya berkat lobi intensif dari para kerabatnya yang berpihak pada para pejuang kemerdekaan, John Edison selamat.

Pasca insiden ini, keluarga Edison pindah ke Nova Scotia (di Kanada, sekarang), di mana Samuel Edison Sr., kakek Thomas Alva, menjadi kapten dalam Angkatan Darat Inggris. Di tahun 1812, ketika rakyat Kanada bangkit dalam perang kemerdekaan mereka sendiri, Kapten Samuel Edison Sr. berperang di pihak kerajaan dan menang. Ini memberi keluarga Edison banyak kekayaan dan prestise.

Walau turun-temurun keluarga Edison berpihak pada Kerajaan Inggris, ayah Thomas Alva, Samuel Edison Jr., justru berpihak pada pejuang kemerdekaan. Samuel Edison Jr. terlibat dalam Pemberontakan McKenzie di tahun 1837, upaya kedua untuk meraih kemerdekaan bagi Kanada.

Naas bagi keluarga Edison, Pemberontakan McKenzie menemui kekalahan. Berhadapan dengan rasa permusuhan dari keluarga besarnya, juga dikejar-kejar oleh tentara Inggris, Samuel Edison Jr. melarikan diri dari Kanada, menuju Milan, Ohio.

Dalam suasana pelarian inilah Thomas Alva Edison terlahir di tahun 1847. Kondisi keluarga mereka cukup mengalami kesulitan karena status pelarian mereka, dan bahaya yang harus mereka tempuh karena pengejaran tentara Inggris. Namun, koneksi yang cukup banyak memudahkan keluarga Edison menapakkan kaki di pelarian. Dan, di tahun 1854, Samuel Edison Jr. mendapatkan pekerjaan sebagai penjaga mercu suar dan tukang kayu di Benteng Gratiot di Port Huron, Michigan. Pekerjaan ini memberi penghasilan cukup bagi keluarga Edison.

Sedari kecil, Edison adalah seorang pemberontak. Dia sangat ingin tahu dan tidak pernah mau menerima mentah-mentah keterangan orang lain. Ada anekdot mengenai bagaimana dia mengerami telur di kandang ayam ayahnya, karena ingin tahu bagaimana anak ayam dapat menetas dari sebutir telur.

Gurunya di sekolah sangat kerepotan dengan berbagai pertanyaan yang diajukannya. Dia juga sangat tidak menyukai aktivitas bersekolah, yang hanya diisi kegiatan menghapal. Karenanya, dia menjadi anak yang dikenal sangat bandel. Ditambah lagi dengan gangguan pendengaran yang sudah diidapnya sejak kecil. Ketika para gurunya kehabisan kesabaran, ibunya memulangkan dia dari sekolah; lalu Alva pun mulai bersekolah di rumah.

Untuk memuaskan nafsu Alva untuk membaca, orang tuanya memperkenalkannya dengan perpustakaan. Ayahnya, seorang yang bersemangat modern, memberi insentif pada Alva sebesar 10 sen untuk tiap buku klasik yang tuntas dibaca. Dan Alva melahap semua buku yang tersedia di perpustakaan seperti orang yang baru bertemu makanan setelah kelaparan bertahun-tahun. Pada usia 12 tahun, Alva telah menyelesaikan karya klasik Gibbon "The Rise and Fall of the Roman Empire", karya Sears "History of the World", The World Dictionary of Science dan karya Newton "Principia".

Secara khusus, Principia inilah yang sangat berpengaruh pada pendekatan Alva terhadap ilmu pengetahuan di masa dewasanya. Di antara semua buku yang dia baca, Principia memberi kesan ganda yang sangat membekas pada diri Alva kecil: dia sangat mengagumi bagaimana Newton mencatat semua eksperimennya, sekaligus sangat membenci uraian matematis yang memusingkan kepala dalam buku itu. Kelak, hampir seluruh penemuannya didasarkannya pada ketekunan melakukan dan mencatat eksperimen.

Berdiri di Atas Kaki Sendiri

Karena kedua orang tuanya sudah tidak lagi mampu menjawab pertanyaan-pertanyaannya, yang makin lama makin rumit akibat bacaannya yang membludak, Alva kemudian memutuskan untuk mencoba hidup mandiri. Pada usia 14 tahun, dia berhasil membujuk kedua orang tuanya untuk membiarkannya bekerja di perusahaan kereta api.

Alva berhasil mendapatkan pekerjaan sebagai penjual surat kabar dan permen di stasiun kereta setempat. Di sinilah minat politik, yang ditularkan ayahnya, membukakan jalan baginya menuju kewirausahaan. Saat itu, isu perbudakan tengah menjadi isu panas di seluruh Amerika; di mana seorang politisi muda bernama Abraham Lincoln mulai terkenal karena mengkampanyekan pembebasan budak. Abe Lincoln, saat itu, tengah mengejar kursi Senat Amerika Serikat; dan dia harus bertarung melawan seorang politisi senior yang juga anti-perbudakan: Stephen Douglas. Debat Lincoln-Douglas tahun 1858 ini menjadi sangat menarik karena keduanya sama-sama anti-perbudakan, tapi posisi Lincoln lebih tegas: perbudakan harus dihapuskan di seluruh Amerika Serikat, sementara Douglas lebih kompromis dan memberi ruang pada Negara Bagian untuk menetapkan sendiri posisi mereka.

Dalam usia semuda itu, baru 14 tahun, Alva telah menjadi seorang partisan--menetapkan pilihan politiknya. Dan dia adalah pendukung Lincoln. Untuk menyebarluaskan dukungan terhadap pahlawanannya ini, Alva mulai mencetak isi debat Lincoln vs Douglas dalam sebuah gerbong kosong di stasiun kereta, di mana dia bekerja. Cetakan ini dibuat dalam bentuk koran yang diberinya nama Weekly Herald.

Dari penjualan koran ini, Alva mendapatkan sekitar 300 pelanggan dan keuntungan bersih harian sebesar USD 10 (setara dengan sekitar USD 300 di masa sekarang). Jumlah itu sangat banyak dan memberinya kesempatan untuk membangun sebuah laboratorium pribadi di gerbong, yang dia pakai juga sebagai tempat mencetak korannya.

Laboratorium ini menjadi pijakan pertamanya untuk menjadi ilmuwan eksperimental, sebagaimana kesan yang dia kagumi dari Principia-nya Newton.

Sayang sekali, pada satu ketika yang naas, kereta yang menarik gerbong laboratorium/percetakannya itu terpaksa harus mengerem mendadak; dan segumpal fosfor terguling dari meja percobaannya. Seantero gerbong lantas terlalap api. Kepala masinis murka dan menamparnya. Tamparan ini menyebabkan telinga kirinya, yang sudah mengalami gangguan pendengaran, menjadi tuli sama sekali. Di samping itu, dia lantas dilarang melakukan percobaan atau mencetak surat kabar lagi di stasiun kereta itu.

Pergi ke Boston

Beruntung bagi Alva, masa itu adalah masa keemasan telegram. Di masa itu, orang yang menguasai penggunaan telegram dapat dibandingkan dengan seorang teknisi komputer di masa sekarang. Dengan kegemarannya pada sains dan teknologi, Alva segera beralih menjadi seorang operator telegram.

edison telegraph op
Sepanjang Perang Saudara Amerika Serikat, atau juga dikenal sebagai Perang Pembebasan Budak, Alva bekerja sebagai operator telegram yang handal. Dan di masa inilah, dia membuat ciptaannya yang pertama: pengetik telegram otomatis. Dengan alat ini, stasiun telegram yang tidak berawak dapat tetap menerima telegram; yang akan langsung diterjemahkan dan diketik rapi, siap diambil jika petugasnya datang.

Sehabis Perang Saudara, Alva memutuskan untuk pindah ke Boston, Massachusetts. Boston, di masa ini, adalah pusat perkembangan teknologi di Amerika Serikat. Pembukaan jalur kereta api dari Boston ke Albany, yang disertai oleh pendirian perusahaan telegram Western Union, mengubah kota kecil ini menjadi satu pusat informasi global. Pada masa itu, telegram adalah cara tercepat untuk bertukar informasi; dan jalur kereta api adalah tempat di mana instalasi telegram menjadi salah satu tulang punggung.

Alva diterima bekerja di Western Union, namun karirnya sebagai operator telegram tidak berjalan lama. Kegemarannya untuk terus mengadakan percobaan, sekali lagi, menimbulkan satu kecelakaan. Cairan asam dari batere yang tengah dikerjakannya meleleh, dan menetes ke lantai bawah; tepat ke ruangan kerja bosnya. Alva pun segera dipecat karena dianggap melalaikan pekerjaannya.

Namun, dalam jangka waktu singkat di mana dia berdiam di Boston, Alva menghadiri banyak seminar ilmiah dan menjalin pertemanan dengan Benjamin Bredding, seorang penemu. Dari Bredding, Alva mempelajari teknik multiplexing, cara membuat sinyal telegraf berjalan bolak-balik, serta pinjaman senilai USD 35 untuk pergi ke New York setelah dia dipecat dari Western Union.

New York ... dan New Jersey

Ketika akhirnya Alva sampai ke New York, dia berada dalam keadaan miskin dan berhutang. Kembali, pertolongan seorang teman dari jejaring operator telegram membantunya memijakkan kaki di Kota Apel Besar. Di hari-hari awal masa berdiamnya Alva di New York, dia diberi tempat tinggal, di gudang bawah tanah, oleh Franklin Leonard Pope. Pope adalah seorang operator telegram, juga seorang penemu, presiden dari American Institute of Electrical Engineers dan pengacara paten untuk Western Union.

Bersama Pope, Edison membuat perbaikan mendasar dalam sistem pencetakan pesan telegram. Pada saat itu, Western Union tengah menghadapi persaingan keras dari Gold and Stock Telegraph Company. Edison "memainkan" kedua perusahaan itu, karena keduanya sangat menginginkan pencetak telegram baru ciptaan Edison ini. Akhirnya, Edison menjual patennya pada Gold and Stock seharga USD 40.000 (senilai USD 718.000 di tahun 2015).

Berkat uang dari hasil penjualan patennya, ia membangun sebuah bengkel kerja yang terhitung modern di Newark, New Jersey. Dan, sejak itu, dia tidak lagi pernah bekerja tanpa sebuah tim kuat yang mendukung etos kerjanya yang gila-gilaan.

Salah satu penemuan terbesarnya di Newark, yang justru tidak dijual patennya, adalah apa yang disebutnya "etheric force", di mana dia berhasil mengirim sinyal telegram tanpa kawat. Dia tidak tahu bahwa dirinya telah menemukan sinyal radio, dalam bentuk yang masih primitif. Teknologi ini justru diberikannya pada Guglielmo Marconi, seorang juru telegram dari Italia yang kemudian berhasil membangun transmisi radio pertama di dunia.

Penyihir dari Menlo Park

Tidak berapa lama, Gold and Stock dibeli oleh Western Union, sehingga dia pun kini bekerja untuk konglomerasi Western Union. Namun kebiasaannya bermain dua kaki masih terus berlanjut. Kali ini, dia menjual paten telegraf quadrupleks (dapat mengirim empat pesan sekaligus lewat satu jalur kabel) kepada Jay Gould, investor yang menjadi pesaing baru bagi Western Union, seharga USD 100.000 (senilai USD 2,1 juta dalam nilai sekarang).

menlo park team
Berkat strateginya ini, Alva kemudian mampu membangun satu bengkel kerja baru di Menlo Park, 18 km di selatan bengkel lamanya di Newark, di tahun 1876. Dari Menlo Park inilah muncul karya-karya Alva yang paling ternama dan berguna; di antaranya fonograf (sistem perekam suara paling awal), carbon-button transmitter untuk pengeras suara (yang sampai sekarang masih digunakan pada pesawat telepon dan mikrofon), serta tentu saja bohlam lampu. Sebagai bonus, dalam kerja kerasnya menemukan bohlam lampu, Alva berhasil membangun sistem pembangkit listrik sentral pertama di dunia. Penemuan lain, yang merupakan hasil sampingan dari sekian banyak percobaannya dalam menciptakan fonograf, adalah batere alkaline.

Penemuan fonograf-lah yang memberinya ketenaran di luar lingkaran industri perlistrikan dan telegraf. Demonstrasi fonograf, yang dilakukan di bulan April 1878, di hadapan anggota Akademi Sains Nasional, Kongres dan Presiden AS Rutherford Hayes, memberinya status selebriti di hadapan pers dan publik AS.

Alva berhasil memanfaatkan ketenarannya ini untuk pemasaran paten-patennya. Dan Menlo Park lantas berubah menjadi mesin uang yang luar biasa produktif bagi dirinya.

Edison sebagai Pribadi

Secara pribadi, Alva bukanlah orang yang mudah diajak berteman. Bahkan setelah dia berstatus selebriti, dia hanya memiliki sedikit sahabat. Etos kerjanya yang luar biasa membuat dia seringkali memaksa stafnya ikut bekerja membanting tulang. Namun, di pihak lain, dia bukan orang yang hanya bisa menyuruh-nyuruh; di bengkel kerja dia sama gembelnya dengan stafnya yang lain.

Dia sangat kompetitif, dan sifatnya ini membuatnya tidak segan mengadu-domba orang-orang yang berebut ingin membeli paten darinya--demi mendapatkan harga tertinggi. Sifat kompetitifnya ini pula yang membuatnya terlibat dalam pertikaian legendaris antara dirinya dengan Nikola Tesla.

Secara politik, dia adalah seorang liberal; dia menentang perbudakan dan meningkatnya kekuasaan para bankir atas ekonomi-politik Amerika Serikat. Dalam pengakuannya sendiri, dia seorang pecinta damai dan penganut non-kekerasan. Walau demikian, mungkin karena semangat jamannya yang dipenuhi perang, dia menerapkan semangat non-kekerasan ini dengan cara yang ganjil: dia menganjurkan penggunaan kursi listrik sebagai bentuk hukuman mati yang "manusiawi", terlibat dalam penciptaan teknologi militer bagi AS dalam Perang Dunia I (walau terbatas pada teknologi komunikasi dan perlistrikan), serta menganjurkan penciptaan sebuah senjata yang "begitu mematikan sehingga orang akan takut akan perang".

Secara relijius, Alva paling tepat disebut "deist"--dia percaya akan adanya "Pencipta Tertinggi", namun bukan dalam bentuk yang diusung oleh agama-agama. Kecintaannya akan sains tercermin dalam kepercayaannya bahwa sang Pencipta Tertinggi ini menciptakan alam, beserta hukum-hukumnya, lalu membiarkan alam ini berjalan sendiri sesuai hukum-hukum itu.

West Orange dan Akhir Hidupnya

Berkat limpahan uang yang diperolehnya dari status selebriti dan penemuan-penemuannya, Alva lantas membangun sebuah kompleks laboratorium industrial di West Orange, New York di tahun 1886. Inilah kompleks laboratorium R&D pertama di dunia, dan tidak tersaingi sampai jauh ke abad ke-20.

edison lab
Walau demikian, Laboratorium West Orange ini dibangun ketika dirinya telah melewati puncak keemasannya sebagai penemu. Lagipula, karena gaya kerjanya, Alva hanya bisa bekerja produktif di tengah satu tim yang terhubung erat secara emosional. Sebuah laboratorium industrial yang besar dan membutuhkan manajemen rapi bukanlah titik kuat Alva Edison.

Jadi, sekalipun West Orange masih menghasilkan beberapa penemuan yang memberi penghasilan cukup besar baginya, termasuk proses pembuatan Semen Portland,  tidak ada lagi penemuan spektakuler yang dihasilkannya dari sini.

Alva juga sempat berusaha menciptakan mobil listrik, ketika industri mobil mulai berhasil mempopulerkan sarana transportasi ini. Namun upayanya ini terjegal oleh keberhasilan lobi perusahaan minyak untuk membuat bahan bakar fosil tersedia dalam jumlah banyak dan murah. Pada akhirnya, Alva meninggalkan proyek ini.

Poyek terakhir yang digelutinya adalah penciptaan bahan pengganti bagi karet, yang dimulainya ketika dia berusia 80 tahun. Namun, sebelum dia berhasil dengan proyek ini, ia wafat pada tanggal 31 Oktober 1931, tepat di malam Halloween, pada usia 84 tahun.

Pada akhirnya, Thomas Alva Edison adalah seorang manusia. Dia mencintai ilmu pengetahuan dan kebebasan, namun juga seorang yang egois dan tidak segan menggunakan taktik kotor untuk mencapai kemenangan. Dia seorang yang sangat berjasa bagi kemanusiaan, namun juga mengabaikan keluarganya. Dia seorang kapitalis yang mencari keuntungan sebesar-besarnya, namun juga menentang sistem perbankan yang mencekik rakyat kecil. Dia jelas bukan malaikat, namun juga tidak sepenuhnya setan. Dan, yang terutama, dia adalah seorang penemu besar yang meraih ciptaannya melalui kerja keras dan ketaatan pada prinsip-prinsip sains.

Referensi:

 

Silakan berlangganan pada layanan Newsletter kami, untuk mendapatkan kabar apabila ada artikel baru yang diunggah.

"Yang membedakan antara kegilaan dan kejeniusan hanyalah kesuksesan."

Bruce Feirstein