As soon as you open an account Bet365 will send you a 10 digit Offer Code via email. Receive Your £200 bet365 Welcome Promo Bonus plus £50 Mobile Promo

Penilaian: 0 / 5

Nonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan Bintang

Lion King poster

Film Lion King (2019) merupakan pembuatan ulang atas film dengan judul serupa, yang tayang di tahun 1994. Serupa dengan film yang terdahulu, Lion King (2019) mendapatkan banyak ulasan positif baik dari pengulas film profesional maupun dari penonton. Namun demikian, film ini bukanlah sebuah dokumenter tentang kehidupan singa di alam liar. Ada banyak ketidaksesuaian antara kehidupan satu kawanan singa (pride) di alam bebas dengan yang digambarkan dalam kedua film Lion King. Di alam liar, Simba bukan saja tidak akan punya kesempatan untuk merebut tahta dari cengkeraman Scar, dia bahkan tidak punya harapan hidup setelah Mufasa tewas.

Berikut ini adalah hal-hal yang membedakan kehidupan singa ala Disney dengan kehidupan singa di habitat aslinya.

Penilaian: 0 / 5

Nonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan Bintang

Baru-baru ini, kota Jakarta mendapatkan satu "penghargaan" level global: dinobatkan sebagai salah satu kota dengan kualitas udara terburuk di dunia. Penelitian Greenpeace dan AirVisual IQ yang dirilis pada bulan Maret 2019, atas kondisi udara berbagai kota besar di dunia, menempatkan Jakarta sebagai kota dengan polusi tertinggi di kawasan ASEAN. Memasuki Juni 2019, Jakarta malah melejit ke urutan nomor wahid dalam hal polusi; walau tidak konsisten berada di sana.

Gubernur DKI Anies Baswedan menyatakan akan menanam Lidah Mertua (Sansevieria hyacinthoides) untuk mengatasi soal polusi udara Jakarta ini. Apakah pendekatan ini sudah memadai? Adakah pendekatan lain yang lebih efektif?

Penilaian: 0 / 5

Nonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan Bintang

Gejala peningkatan vote-absenteeism, atau yang di sini sekarang lebih dikenal sebagai "golput", terjadi paralel secara global dengan peningkatan gerakan politik yang berlandaskan pada diksriminasi, kebencian atau agresi. Tidak heran jika para ilmuwan politik berusaha menemukan hubungan di antara keduanya. Dan, hasilnya lumayan dapat diduga: kedua gejala ini lahir dari rahim yang sama. Mereka berdua adalah kakak-beradik, hanya berbeda ekspresi.

Penilaian: 0 / 5

Nonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan Bintang

Katakan Tidak pada Profil Palsu

Kita baru mendengar tentang tertangkapnya banyak pegiat hoax yang tergabung dalam sebuah grup bernama Saracen. Pemberitaan media menyebutkan bahwa grup ini memiliki sekurangnya 400.000 akun palsu untuk menyebarkan berita hoax yang mereka produksi. Mengapa harus sekian banyak? Kalau berita palsu itu menyebar di kalangan akun palsu mereka sendiri, bukankah tidak ada bahayanya? Tapi, persis di sinilah apa yang disebut Bandwagon Effect bermain.

Penilaian: 5 / 5

Aktifkan BintangAktifkan BintangAktifkan BintangAktifkan BintangAktifkan Bintang

mobil listrik

Keinginan melihat mobil listrik beroperasi di jalan-jalan Indonesia telah muncul dalam dua periode pemerintahan terakhir. Target utama tentu saja untuk memproduksi mobil listrik dan industri pendukungnya seperti baterai ion-litium made-in Indonesia. Pertama kali ide ini dikemukakan oleh Dahlan Iskan, menteri BUMN era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada tahun 20121. Tetapi kemudian ide ini tenggelam oleh berbagai isu kontroversial yang menyertainya. Terakhir, Presiden Joko Widodo menyatakan dukungannya terhadap mobil listrik (Kompas2, Republika3, CNN Inodnesia4). Tidak sedikit yang mencibir ide ini dengan berbagai alasan seperti kesinambungan ketersedian baterai ion-lithium sebagai alat penyimpan dan pengubah energi kimia ke energi listrik dan sebaliknya; belum siapnya infrastruktur pengisian ulang baterai; dan masalah pajak impor mobil listrik. Dengan timbul tenggelamnya ide mobil listrik, sangat wajar jika para pemangku kepentingan dalam bidang ini bertanya, apa yang berbeda dalam wacana mobil listrik kali ini, dibandingkan dengan era Dahlan Iskan?

Penilaian: 5 / 5

Aktifkan BintangAktifkan BintangAktifkan BintangAktifkan BintangAktifkan Bintang

Amazon: fiksi vs realita

Film Wonder Woman berkisah tentang sebuah bangsa legendaris, Amazon, yang keseluruhannya hanya berkelamin perempuan. Mereka adalah petarung-petarung perkasa yang setara, bahkan lebih hebat, daripada laki-laki. Salah satu di antara mereka, Diana, memasuki dunia manusia dan, dengan kekuatan supernya, menjadi Wonder Woman. Ini semua bisa kita nikmati lewat tayangan layar perak. Yang barangkali tidak dituturkan dalam film itu adalah bahwa legenda tentang bangsa Amazon berakar pada kenyataan--kekaguman bangsa Yunani akan para wiranita (woman warriors) bangsa Scythia, yang turut berperang bersama kaum lelakinya.

Penilaian: 0 / 5

Nonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan Bintang

Moon Clock

Sejak fajar menyingsing bagi Homo sapiens, langit malam telah menjadi sumber ketakjuban bagi spesies ini. Bagi mahluk-mahluk yang mengembara di padang rumput Afrika, tentu saja malam membentangkan satu pemandangan luar biasa nun jauh di sana. Kerlip bintang-bintang dan rembulan yang bagaikan lentera, tentu merupakan sumber misteri yang tiada tara. Kita mungkin tidak akan pernah tahu siapa yang pertama kali menghitung jarak jeda antara satu purnama ke purnama berikutnya; namun inilah kali pertama Manusia mengenal kalender.

Penilaian: 0 / 5

Nonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan Bintang

Kala Kebencian Merajalela

Jauh di masa lalu, ketika manusia masih hidup dalam kelompok-kelompok kecil yang berburu berpindah-pindah, kemampuan mengenali kawan dari lawan adalah salah satu ketrampilan sosial yang penting. Di jaman di mana peradaban belum lagi lahir, gagal mengenali lawan bisa berujung maut. Agar ketrampilan sosial yang vital ini bisa diajarkan dengan cepat, ia pun disederhanakan: kawan itu baik, lawan itu jahat. Sial bagi kita, pranata sosial, yang dikembangkan untuk kelangsungan hidup itu, kita warisi sampai sekarang dalam bentuk prasangka. Untungnya, kita sekarang juga memiliki sains; yang tengah bekerja keras untuk membongkar mekanisme yang menghasilkan prasangka dan kebencian terhadap "orang luar" ini.

Penilaian: 5 / 5

Aktifkan BintangAktifkan BintangAktifkan BintangAktifkan BintangAktifkan Bintang

HOAX!

Ini adalah jaman di mana hoax memenuhi media sosial. Dari mulai isu mengenai simbol palu-arit pada muka uang kertas Republik Indonesia, sampai munculnya kelompok-kelompok yang percaya bahwa bumi sebenarnya datar. Menariknya, banyak di antara para penyebar dan pendukung hoax ini adalah orang yang berkesempatan mengenyam pendidikan tinggi. Bagaimana mungkin orang yang sudah diajari ilmu pengetahuan malah mendukung dan menyebarkan hoax? Para peneliti pun tertarik dengan gejala ini dan mulai mengadakan penyelidikan mendalam. Temuan mereka menegaskan bahwa, sebelum kita menjadi Manusia, kita adalah pertama-tama bagian dari Dunia Hewan.

Penilaian: 0 / 5

Nonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan Bintang

Cheetah, dilahirkan untuk berlari

Kita manusia saat ini menguasai dunia karena kecerdasan kita. Tapi kita harus terima bahwa, secara fisik, kita tidak ada apa-apanya dibandingkan kemegahan alam di sekitar kita. Berikut ini adalah hewan-hewan luar biasa yang dapat dengan mudah mempermalukan para atlet profesional. Inilah para pemegang rekor yang sejati di atas planet kita.

"Ilmuwan bukanlah orang yang memiliki jawaban yang tepat. Ia adalah orang yang mengajukan pertanyaan tepat."

Claude Levi-Strauss