Akun Palsu, Follower Palsu, Like Palsu, Apa Perlunya?

Katakan Tidak pada Profil Palsu

Sosial dan Politik
Typography

Penilaian: 0 / 5

Nonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan Bintang
 

Kita baru mendengar tentang tertangkapnya banyak pegiat hoax yang tergabung dalam sebuah grup bernama Saracen. Pemberitaan media menyebutkan bahwa grup ini memiliki sekurangnya 400.000 akun palsu untuk menyebarkan berita hoax yang mereka produksi. Mengapa harus sekian banyak? Kalau berita palsu itu menyebar di kalangan akun palsu mereka sendiri, bukankah tidak ada bahayanya? Tapi, persis di sinilah apa yang disebut Bandwagon Effect bermain.

Bandwagon Effect adalah sebuah istilah yang merujuk pada kecenderungan manusia untuk mengubah pendapatnya, agar sesuai dengan pendapat orang banyak.

Bandwagon effect 1
Manusia adalah mahluk sosial, yang secara genetik terprogram untuk menjadi bagian dari satu kelompok. Menjadi bagian dari kelompok adalah salah satu strategi bertahan hidup yang vital bagi Manusia; terlebih ketika nenek-moyang kita masih mengembara, di tengah kepungan hewan buas di hutan-hutan dan padang-padang rumput. Jaman itu, hidup terisolasi dapat berarti kematian yang mengenaskan bagi individu Manusia yang manapun. Bahkan, sebagaimana teramati pada kawanan hewan sosial lain, menjadi individu yang menonjol (berbeda dari yang lain) dapat menjadikanmu target kejaran hewan pemangsa.

Bandwagon effect 3a
Selain dari peniruan secara genetik, hewan sosial dapat mengembangkan kemampuan untuk menjadi konformis, meniru apa yang dilakukan kawanannya. Sekawanan gnu yang merumput di savana raksasa Afrika Timur dapat mendadak bergerak dalam satu gerudukan (stampede). Hanya dibutuhkan beberapa ekor gnu untuk memulai gerudukan itu, dan seluruh kawanan akan mengikutinya. Sebagai hewan sosial, Manusia pun cenderung bersikap konformis. Salah satu contohnya adalah penggunaan kata atau istilah. Cukup diperlukan beberapa orang saja menggunakan istilah "cetar membahana", penggunaan istilah itu pun merebak luas bak api yang membakar hutan di musim kemarau.

Dengan menjadi bagian dari satu kelompok, Manusia mendapatkan rasa aman; ia bukan lagi individu yang terisolasi dalam sebuah masyarakat yang majemuk. Di samping itu, ia pun dapat memperoleh identitas. Kini ia dapat menyebut dirinya "anggota kelompok X." Di jaman di mana Manusia semakin kehilangan kepribadiannya, rasa memiliki identitas menjadi sesuatu yang dikejar banyak orang.

Bandwagon effect 2a
Bandwagon Effect
bekerja dalam proses menyeret orang untuk bersikap konformis, agar diterima dalam satu kelompok. Istilah ini pertama kali muncul dari kebiasaan dalam kampanye politik di Amerika Serikat abad ke-19, di mana para kandidat berkeliling negeri dengan kereta api atau kereta berkuda. Di atas gerbong terbuka, para kandidat menggelar kampanye dan berbagai festival--sembari mengajak para pemilih untuk turut serta. Dalam prakteknya, Bandwagon Effect memberikan tekanan sosial: "kalau kamu tidak ikut, kamu adalah orang luar yang akan terusir."

Salah satu sektor yang menggunakan Bandwagon Effect secara luas adalah industri periklanan. Kalau kita perhatikan, nyaris semua iklan menampilkan banyak orang yang mengaku telah menikmati manfaat satu produk. Beberapa iklan bahkan menyegel ajakan untuk menggunakan produk itu lewat slogan: "Kami telah membuktikannya/menggunakannya, bagaimana dengan Anda?" Persis inilah yang dicari oleh Bandwagon Effect: bahwa ada satu kelompok yang telah menggunakan produk tersebut secara memuaskan, dan mereka yang tidak menggunakannya adalah "orang-orang yang merugi."

Untuk keperluan mencapai Bandwagon Effect inilah grup-grup produsen hoax macam Saracen membutuhkan akun-akun palsu dalam jumlah ratusan ribu. Kalau hanya satu-dua, atau bahkan ratusan akun, yang ikut menyebarkan hoax, barangkali orang akan tetap masih dapat berpikir kritis dan merawat akal sehatnya sendiri. Namun, jika individu dikepung oleh ratusan ribu suara yang berbarengan menyuarakan hoax itu, ia akan mengalami tekanan sosial untuk menyetujuinya. Tekanan sosial yang dapat dihasilkan oleh 400.000 akun palsu tentu begitu besar sehingga mampu memaksa orang untuk mempertanyakan atau meragukan nalarnya sendiri.

Bandwagon effect 4
Begitu besarnya tekanan Bandwagon Effect di era media sosial, di mana kita terhubung secara virtual dengan ratusan, ribuan, bahkan mungkin ratusan ribu orang. Ketika kita melihat seorang influencer, atau yang di ranah Twitter Indonesia sering disebut "selebtwit", yang berpengikut puluhan atau ratusan ribu orang, menyatakan sesuatu kita cenderung mempercayainya. Karena, sebagai bagian dari "pengikut", mentalitas kita dikondisikan untuk tunduk pada "sabda" para selebtwit ini. Di ranah Facebook, kita bahkan mendapati bahwa para hacker sampai menyempatkan membuat satu virus bernama Zeus, yang fungsinya adalah membajak akun Facebook dari komputer yang terinfeksi; lalu secara otomatis mencari dan memberi Like pada posting tertentu yang ditetapkan oleh para pembuat virus tersebut.

Bandwagon Effect menyentuh salah satu aspek paling primitif dalam bangunan genetik manusia: ketakutan akan kesendirian. Tidak ada cara mudah untuk mengatasi serangan lewat Bandwagon Effect, namun cara yang paling efektif adalah dengan bergabung dalam banyak kelompok yang majemuk. Ini agar kita dapat melihat segala hal dari banyak sudut pandang. Ketersediaan alternatif sudut pandang itulah yang akan dapat membantu kita untuk menjaga individualitas kita; sementara dengan bergabung dalam banyak kelompok, kita akan terhindar dari rasa kesendirian.

 

Rujukan:

Silakan berlangganan pada layanan Newsletter kami, untuk mendapatkan kabar apabila ada artikel baru yang diunggah.

"Jauh lebih baik memahami alam raya ini sebagaimana adanya ketimbang bersikeras bertahan dalam khayalan, betapapun nyamannya khayalan itu."

Carl Sagan