Kemacetan itu Baik (?)

Kemacetan Jakarta

Sosial dan Politik
Typography

Penilaian: 0 / 5

Nonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan Bintang
 

Apakah ada manusia di atas bumi yang hijau ini, yang bersuka hati ketika terjebak dalam kemacetan? Kemungkinan besar, tidak ada. Jutaan orang di hampir setiap kota besar di dunia ini, yang pernah terjebak dalam kemacetan, pasti dapat bersaksi tentang emosi, stress dan konflik yang pecah sepanjang sejarah mereka “menikmati” kemacetan. Bahkan di negeri berkembang seperti Indonesia, masalah kemacetan di kota besar dan kecil telah sedemikian parahnya sampai menjadi masalah politik. Namun demikian, Matthias Sweet, seorang periset pada the McMaster Institute for Transportation and Logistics di McMaster University, California, menyatakan bahwa kemacetan itu memiliki dampak positif.

Pernyataan kontroversial ini didasarkan pada fakta bahwa perkembangan ekonomi selalu melaju lebih cepat daripada kemampuan pemerintah dan masyarakat untuk menyediakan sarana dan prasarana lalu-lintas. Sweet menyatakan bahwa kemacetan adalah pertanda adanya perekonomian yang hidup dan bergairah di satu kota. Bahkan Sweet mengklaim bahwa sebuah kota yang tidak pernah mengalami kemacetan justru merugi, karena biaya pengadaan jalan terlalu besar dibanding nilai ekonomi sarana tersebut—dengan kata lain, jalanan yang lengang tidak membantu “balik modal” pembuatan jalan tersebut.

Namun demikian, Sweet menambahkan bahwa ada batas di mana kemacetan berubah dari bermanfaat menjadi merugikan. Menurut artikelnya, yang diterbitkan dalam jurnal Urban Studies, batas aman bagi kemacetan adalah penundaan empat setengah menit. Artinya, kemacetan masih bersifat produktif apabila membuat seorang pelaju (commuter) terlambat maksimal 4,5 menit dibanding jika dia melalui jalan yang “ramai lancar".

Di atas ambang penundaan 4,5 menit, kemacetan mulai menimbulkan beragam masalah. Masalah pertama adalah dampak ekonomi langsung, yakni tingkat stress yang ditimbulkan oleh kemacetan itu. Tingkat stress ini memicu tuntutan akan upah yang lebih besar, sebagai kompensasi atas beban psikologis tersebut. Jika perusahaan-perusahaan tidak sanggup memenuhi tingkat gaji yang diminta, para pekerja terbaik memiliki opsi untuk memilih bekerja di tempat lain. Dengan demikian, hanya pekerja yang berkualifikasi pas-pasan yang akan bersedia bekerja di tempat dengan kemacetan parah. Singkatnya, kemacetan menimbulkan mismatch antara kebutuhan industri dan kualifikasi ketenagakerjaan, yang pada gilirannya menimbulkan inefisiensi dan rendahnya produktivitas kerja.

Ian Thompson dan Alberto Bull, dari Divisi Infrastruktur dan Sumberdaya Alam, Komisi Ekonomi untuk Amerika Latin dan Karibia, menulis di CEPAL Review edisi April 2002 bahwa kemacetan justru menimbulkan dampak terbesar pada pengguna angkutan umum—baik dari tingkat stress maupun dari biaya ekonomis yang harus dikeluarkan, yakni dari waktu yang terbuang dan mahalnya ongkos transportasi publik dibandingkan penggunaan kendaraan pribadi. Dengan kata lain, kemacetan memperparah tingkat ketidakadilan dalam masyarakat.

Di kota-kota besar Indonesia, di mana kita harus berangkat 1-2 jam lebih dini untuk menghindari kemacetan, kiranya batas ambang “penundaan 4,5 menit” itu sudah terlampaui berkali-kali lipat. Dan dampaknya bagi tingkat stress, produktivitas dan ketidakadilan dalam masyarakat kita dapat kita rasakan secara nyata.

Referensi:

 

Silakan berlangganan pada layanan Newsletter kami, untuk mendapatkan kabar apabila ada artikel baru yang diunggah.

"Jangan terlalu ingin tahu tentang orang lain, lebih baik banyak ingin tahu tentang pemikirannya."

Marie Curie