"Maaf", Mantera Sakti yang Terlupakan

Jabat erat dengan maaf

Psikologi dan Pendidikan
Typography

Penilaian: 0 / 5

Nonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan Bintang
 

Setiap sistem kepercayaan yang pernah dan masih ada di muka bumi mengakui bahwa tidak ada manusia yang bebas dari kesalahan. Bahkan agama-agama menyandarkan alasan keberadaan mereka pada layanan 24x7 untuk menyediakan pengampunan bagi kesalahan itu. Agama-agama menjanjikan bahwa Sang Sesembahan adalah Yang Maha Pengampun. Sayangnya, sekalipun menyembah Yang Maha Pengampun, manusia sulit sekali memaafkan manusia lain. Dendam bisa berlangsung tujuh puluh atau tujuh ratus turunan. Mengapa manusia sulit sekali memaafkan manusia lain?

Definisi standar dari "pengampunan" atau "pemaafan" itu adalah dipulihkannya satu hubungan yang timpang akibat satu pelanggaran. Timpang di sini berarti terjadinya ketidakadilan antar-pihak. Agama-agama menjamin bahwa hubungan antara penyembah dengan Sesembahannya akan segera pulih--setelah melakukan ritual tertentu. Namun hubungan antar manusia jauh lebih rumit daripada hubungan antara penyembah dengan Sang Sesembahan. 

Komplikasi paling nyata adalah ketika terjadinya ketidakadilan itu menguntungkan bagi para pelanggar. Ada insentif politik, sosial ataupun ekonomi untuk melakukan pelanggaran. Sekalipun korban memberi maaf atas pelanggaran yang dideritanya, relasi sosial yang berkeadilan tidak akan dapat dipulihkan.

Dalam hal ini, pengampunan dapat tercampur-aduk dengan konsep lain seperti pembiaran, pelarian atau pelupaan. Pengampunan yang sejati melahirkan kembali hubungan yang berkeadilan itu--sesuatu yang tak akan terjadi selama pelanggaran memberi keuntungan yang sangat besar bagi pelanggarnya. 

Terlebih lagi, ketika permintaan maaf dilayangkan oleh para pelanggar dengan tujuan memanipulasi--justru untuk melestarikan ketimpangan dalam relasi. Kemampuan untuk mengenali permintaan maaf yang tulus sangat penting, agar terhindar dari manipulasi seperti ini. Berikut ini tips dari Harriet Lerner, Ph.D. untuk mengenali permintaan maaf yang tulus, antara lain:

  1. Tidak pakai kata "tapi". Kata "tapi" otomatis membatalkan permintaan maaf. Titik.
  2. Berfokus pada tindakan pelanggaran, bukan pada akibat yang ditimbulkan. "Aku minta maaf karena berkata kasar" adalah petunjuk tentang ketulusan, bukan "Aku minta maaf karena melukaimu." Keberanian merujuk tindakan secara spesifik adalah petunjuk bahwa pemohon maaf tahu persis apa yang salah.
  3. Bersahaja.  Ringkas. Langsung ke tujuan. Tidak pakai embel-embel, apalagi sibuk mencari alasan bagi terjadinya pelanggaran. 
  4. Tidak meributkan siapa yang salah atau siapa yang memulai. Ini menunjukkan kesiapan untuk memulai kembali pembangunan satu hubungan yang berkeadilan.
  5. Disertai dengan rencana untuk pemulihan. "Maaf aku sering telat pada kencan kita. Aku akan pasang alarm dua jam sebelum waktu yang dijanjikan, tiap kali kita janjian kencan." Kesediaan untuk berusaha membangun kembali jembatan yang rubuh adalah modal yang sangat berharga untuk pemulihan. 
  6. Tidak menuntut pemaafan saat itu juga. Kadang ketidakadilan yang terjadi menghasilkan luka yang dalam, yang tidak bisa sembuh hanya dengan permintaan maaf. Kesediaan bersabar dalam membangun kembali kepercayaan adalah pertanda ketulusan yang hebat. 

Bangun jembatan maaf!

Kita bisa memakai tips sederhana itu untuk menilai kasus-kasus yang kita alami, baik yang pribadi maupun yang sosial. Misalnya, dalam kasus Tolikara yang baru heboh kemarin. Sudah ada permintaan maaf tentang terbakarnya mesjid. Ada penjelasan bahwa itu tidak disengaja, tapi permintaan maaf tetap dilakukan. Itu bagus. Tapi, bagaimana rencana pemulihannya? Bukankah akan baik jika pihak-pihak yang terlibat dalam insiden itu bersama-sama berjanji akan membangun kembali mesjid yang terbakar? Bagaimana dengan pertikaian awal mengenai pelarangan penggunaan TOA ketika sholat Ied? Tidak ada permintaan maaf tentang hal itu. Dengan memakai ukuran sederhana di atas, kita bisa menyimpulkan bahwa permintaan maaf dari pihak GIDI kurang tulus. Ini bukan penghakiman, karena ukurannya jelas, masuk akal dan cukup objektif. 

Keengganan untuk meminta maaf atas sesuatu yang menimbulkan ketidakadilan seringkali kita temui dalam kehidupan sosial maupun pribadi kita. Bukan soal pelarangan penggunaan TOA di Tolikara saja, kita juga tidak pernah mendengar permintaan maaf karena penyerangan terhadap Gereja, Jemaat Ahmadiyah ataupun Syiah. Semua punya pembenaran untuk melakukan tindakan tidak adil.

Bahkan ketika salah satu pihak yang terlibat dalam pertikaian beritikad baik untuk minta maaf, belum tentu pihak lainnya memuluskan upaya permintaan maaf ini. Misalnya saja, dalam kasus rencana Presiden Jokowi untuk meminta maaf pada para korban Peristiwa 65. Kita belum tahu: perbuatan apa yang akan dimintakan maaf, tapi banyak orang terutama dari organisasi yang mengatasnamakan agama--termasuk yang sama sekali tak terlibat dalam peristiwa itu--telah lantang menentang rencana ini. 

Dalam kolomnya di Psychology Today, Guy Winch, Ph.D. menyatakan bahwa alasan utama orang bersikeras menolak untuk minta maaf adalah rapuhnya kepercayaan diri orang tersebut. Kerasnya hati orang menolak untuk minta maaf berbanding lurus dengan tingkat kerusakan yang dia sebabkan pada orang lain. Semakin besar dampak ketidakadilan yang disebabkan satu tindakan, makin keras kepala biasanya orang  untuk menolak minta maaf. 

Lebih jauh, Winch menulis bahwa ada beberapa alasan mengapa orang berkepribadian rapuh merasa terancam dengan permintaan maaf, antara lain:

  1. Tidak bisa memisahkan antara tindakan dengan identitas. Mereka yang anti minta maaf ini merasa bahwa kesalahan yang mereka lakukan akan dilekatkan pada identitas mereka, jika mereka minta maaf. Misalnya, dalam kasus Peristiwa 65, ormas-ormas ini takut apabila identitas agama mereka dikaitkan sebagai "pembantai" apabila mereka minta maaf.
  2. Mereka takut akan tenggelam dalam rasa malu. Rasa malu akan makin menghancurkan kepercayaan diri mereka yang sudah rapuh.
  3. Takut akan dituntut pertanggungjawabannya. Sementara banyak orang melihat permintaan maaf sebagai kesempatan untuk membangun kembali jembatan yang rusak, mereka melihat hal ini sebagai peluang bagi "musuh" untuk semakin mendesak mereka ke pinggir jurang. 
  4. Mereka terbiasa menggunakan kemarahan sebagai benteng untuk menutupi rapuhnya kepercayaan diri. Permintaan maaf menuntut kerendahan dan kebesaran hati, sesuatu yang sangat menakutkan bagi mereka. 

Konflik yang melatarbelakangi satu pertikaian berbeda-beda kompleksitasnya. Beberapa konflik, seperti pertikaian agama atau ideologi, punya latar belakang sejarah, ekonomi, politik, sosial yang tumpang-tindih dan saling jerat. Nyaris mustahil kita bisa memperdamaikan para aktor utama pertikaian ini--yakni mereka yang mendapatkan keuntungan dari ketidakadilan yang terjadi. Namun, dengan niat baik, semua orang lain yang terseret dalam konflik niscaya bisa dirangkul dalam tindakan mulia saling memaafkan. 

Konflik adalah hal yang wajar, karena tiada satupun Manusia yang luput dari kesalahan. Bahkan, setelah berdamai pun, konflik yang berbeda bisa muncul meretakkan kembali hubungan yang sudah terjadi. Ini normal, ini wajar. Kita butuh keberanian untuk berkonflik, ketika situasi berkembang ke arah yang tidak sesuai dengan idealisme kita. Kita juga perlu keberanian untuk memaafkan, agar solidaritas yang retak (bahkan putus) ketika konflik dapat dipulihkan. 

Dengan keberanian berkonflik dan keberanian memaafkan, masyarakat manusia akan selalu maju ke arah yang lebih baik, lebih kuat dan lebih bersolidaritas. Semoga.

Referensi:

 

Silakan berlangganan pada layanan Newsletter kami, untuk mendapatkan kabar apabila ada artikel baru yang diunggah.

"Kita sekarang tengah terancam bahaya oleh kebodohan dan kerakusan kita sendiri."

Stephen Hawking