Duapuluh Prinsip Terpenting dalam Pendidikan Dasar

Pendidikan anak adalah pondasi

Psikologi dan Pendidikan
Typography

Penilaian: 0 / 5

Nonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan Bintang
 

Seorang anak bagaikan kertas putih bersih. Akan menjadi apa si anak kelak, tergantung pendidikan yang diberikan padanya. Pendidikan itulah yang akan menorehkan tinta kasih-sayang, atau kemurkaan, atau keuletan, atau keingintahuan, atau ketidakpedulian. Sebulan yang lalu, Mei 2015, American Psychological Association mengeluarkan hasil penelitian ekstensif mereka atas sistem pendidikan Amerika, dan menggariskan duapuluh prinsip bagi pendidikan dasar. Penelitian ini dibuat guna menghasilkan pengajaran yang efektif dan menggairahkan semangat belajar siswa.

Penelitian yang dilakukan oleh Coalition for Psychology in School and Education ini merupakan hasil pengumpulan data dan pengalaman belajar-mengajar selama lebih dari satu dasawarsa. Koalisi ini terdiri dari pengajar dan psikolog dari berbagai sub-disiplin, termasuk spesialis dalam hal etnis minoritas, perempuan, konseling, media dan keluarga. Semua anggotanya merupakan praktisi di bidang pengajaran dan pendidikan.

Beberapa prinsip yang sangat menarik dari, nampaknya, akan sangat berguna jika diterapkan di Indonesia adalah:

1. Bangun kepercayaan diri anak bahwa kecerdasannya akan berkembang sejalan dengan waktu, apabila dia bersedia mengerjakan tugas-tugas yang menantang; bahwa kegagalan bukan berarti kebodohan, melainkan peringatan bahwa kemampuan harus terus diasah;

2. Perkenalkan konteks kepada anak, seorang anak hanya dapat menguasai satu pelajaran apabila mengenal konteksnya dalam kehidupan nyata. Ini nampak sangat penting dalam dunia pendidikan Indonesia yang nyaris sepenuhnya menyandarkan diri pada teks (tanpa konteks) dan hapalan (tanpa pemahaman);

3. Kembangkan kreativitas dan daya imajinasi siswa. Kreativitas dapat dikembangkan dengan mendorong siswa mempertanyakan kenyataan yang mereka hadapi sehari-hari, membahas secara kritis ide-ide dan solusi yang mereka hasilkan, dan mendorong rasa percaya diri siswa bahwa mereka mampu menghadapi masalah lewat kreativitas. Ini tentu bertolak-belakang dengan prinsip dari banyak pendidik di negeri ini yang melihat guru sebagai "yang maha tahu" dan tidak boleh dibantah;

4. Siswa akan lebih ulet menghadapi tantangan apabila menganggap bahwa penguasaan pengetahuan/ketrampilan adalah tujuan proses belajar tersebut--bukan untuk bersaing menang-menangan dengan siswa lain. Mengingat prinsip ini, tentu tidak mengherankan bahwa di Indonesia, di mana peringkat di kelas merupakan satu-satunya tolok ukur "kesuksesan belajar", siswanya menjadi lemah iman, tidak ulet dan gemar mencari gampangnya sendiri lewat mencontek;

5. Suasana yang membahagiakan ketika belajar akan membawa hasil belajar yang memuaskan. Memberi teladan pada siswa tentang cara mengendalikan situasi stres, ketegangan dan kemarahan sangatlah penting untuk membangun suasana. Kelas yang tegang, guru yang killer, atau berpandangan sempit tidak akan menghasilkan peserta didik yang berpendidikan.

Masih ada banyak prinsip lain; jika separuhnya saja bisa diterapkan di tengah pendidikan dasar Indonesia, kita akan menghasilkan generasi baru yang tangguh, ulet, cerdas dan kritis. Masalahnya tinggal ini: apakah kita mau orang Indonesia cerdas dan kritis?

Referensi:

http://www.apa.org/ed/schools/cpse/top-twenty-principles.aspx

 

Silakan berlangganan pada layanan Newsletter kami, untuk mendapatkan kabar apabila ada artikel baru yang diunggah.

"Saat ini sains sudah jauh berjarak dari spiritualitas. Kita punya peluru kendali, dan manusia yang tak sanggup mengendalikan hasratnya sendiri."

Martin Luther King Jr.