Apakah Kamu Berpotensi Jadi Teroris?

Terorisme tidak kenal agama!

Psikologi dan Pendidikan
Typography

Penilaian: 0 / 5

Nonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan Bintang
 

Ledakan bom di Sarinah, Kamis lalu, 14 Januari 2016, menimbulkan beragam reaksi. Dari mulai yang sedih dan pedih, sampai yang lantang menantang balik para teroris. Tapi pertanyaan terpenting yang harus kita ajukan adalah: bagaimana ceritanya seseorang bisa jadi teroris? Bagaimana seseorang bisa begitu tega mencabut nyawa orang lain, bahkan dengan membahayakan diri sendiri?

Apa itu Terorisme?

Beda Terorisme dengan Bentuk Kekerasan Lain

nazi shoot women
Kekerasan merupakan satu hal yang alami. Semua hewan pemangsa melakukan satu atau lain bentuk kekerasan dalam mencari makan. Bahkan hewan-hewan yang tidak tergolong pemangsa pun melakukan bentuk-bentuk kekerasan, utamanya dalam berebut pasangan kawin. Dalam upaya mempertahankan hidup, seringkali kekerasan tidak terhindarkan.

Sejarah manusia pun dipenuhi beragam jenis tindak kekerasan. Bahkan, dalam masyarakat manusia, kekerasan seringkali terlembaga. Perang, dalam segala bentuknya, merupakan salah satu puncak pelembagaan kekerasan. Lebih jauh lagi, di banyak negara, termasuk Indonesia, aparat negara (yang seharusnya melindungi rakyat dari kekerasan) ternyata juga menjadi pelaku kekerasan.

Dalam hal ini, terorisme memiliki banyak kesamaan dengan perang pada umumnya, yakni mengandung unsur pengorbanan diri untuk mencapai kemenangan melalui tindak kekerasan. Terutama, terorisme memiliki kedekatan wujud dengan bentuk perang gerilya, di mana unsur serangan kejutan dan mengarah pada sasaran tak terjaga adalah kunci kemenangan. Bentuk-bentuk perang tertentu, terutama bumi-hangus (war of attrition) juga menyerang sasaran sipil, terutama untuk menghancurkan pasokan makan atau senjata, juga menggerogoti sumber dukungan sipil terhadap tentaranya sendiri. Penggunaan targeted strike atau assasination, terutama dengan pasukan khusus, juga seringkali menyerang sasaran sipil--terutama pemimpin politik. 

Namun demikian, terorisme dibedakan dari perang terutama dengan melihat siapa sasaran utamanya.

Sebuah perang merupakan konflik antara dua kekuatan bersenjata. Apabila jatuh korban di antara sipil, hal ini harus merupakan kejadian tak terduga atau merupakan hasil dari kesalahan intelijen (salah sasaran). Serangan yang disengaja terhadap sipil merupakan kejahatan perang; hukum internasional mengatur bagaimana pelaku kejahatan perang harus ditangkap dan diadili di hadapan Mahkamah Internasional. Tidak ada bentuk perang yang tidak tunduk pada aturan internasional ini. Bahkan perang gerilya, yang merupakan perang inkonvensional, juga harus tunduk.

Terorisme terutama menyasar sipil, yang tidak bisa melawan balik. Penculikan, bom mobil, bom bunuh diri, penyanderaan; yang diarahkan pada sasaran sipil. Sesekali tentu ada sasaran militer; tapi, bahkan dalam konflik skala besar, seperti yang terjadi d Suriah, sebuah organisasi teroris akan tetap menyasar sipil di wilayah yang mereka kuasai.

Satu organisasi akan lebih tegas identitasnya sebagai teroris apabila sipil, yang menjadi sasaran mereka, adalah orang yang tidak ada kaitan langsung dengan tujuan perjuangan yang digadang-gadangnya. Apa hubungannya turis asing di Bali dengan tujuan menggulingkan "setan Amerika"? Bahkan serangan 9/11 yang hebat itupun memakan korban yang nyaris tidak hubungannya (atau hanya diada-adakan) dengan penggulingan kedigdayaan Negeri Abang Sam.

Walaupun bedanya tipis, kita tetap bisa menunjuk sebuah kelompok bersenjata (baik yang legal maupun ilegal) sebagai teroris apabila terutama menyasar sipil sebagai target tindak kekerasan.

Beda Terorisme dengan Kejahatan "Biasa"

organized crime
Terorisme memiliki banyak paralel dengan beragam bentuk kejahatan, terutama kejahatan terorganisir. Sifatnya yang ilegal, tindakannya yang terencana untuk menghilangkan nyawa orang lain atau menghancurkan harta-benda, merupakan karakter yang sama dimiliki oleh pelaku tindak kejahatan dan para teroris.

Di samping itu, mereka yang tergolong teroris juga melakukan kejahatan (seperti penculikan, penyanderaan) untuk mendapatkan uang bagi tindak terorisme mereka. Sementara kelompok kejahatan terorganisir juga kerap melakukan teror untuk menekan pejabat pemerintah/penegak hukum agar tidak berani "macam-macam" pada mereka.

Namun demikian, semua bentuk kejahatan berlatarkan motivasi untuk mendapatkan keuntungan pribadi--baik material (berupa uang atau barang) maupun immaterial (berupa kepuasan). Terorisme nyaris tidak ada hubungannya dengan keuntungan pribadi yang bersifat duniawi. Terorisme lebih mengutamakan nilai-nilai ideal, ideologi, atau utopia.

Bagaimana Mengenali Terorisme?

unite against hate
Dengan melihat dua poin di atas, kita dapat membuat batasan terhadap terorisme; walau batasan ini tetap sedikit longgar dan akan sering terasa tumpang-tindih dengan bentuk kekerasan atau kejahatan lainnya: terorisme adalah tindak kekerasan yang terutama menyasar sipil untuk menimbulkan ketundukan terhadap ideologi tertentu.

Dengan definisi ini, kita bisa menyortir sendiri, apakah satu kelompok bersenjata adalah "pejuang kemerdekaan" atau "kelompok teroris". IRA, tentara Republik Irlandia, misalnya, seringkali disebut "teroris" oleh pemerintah Inggris. Namun, target mereka jelas adalah unit bersenjata Inggris, maupun para pemimpin militer dan politik Inggris. Tujuan serangan mereka juga adalah memaksa Inggris untuk kembali ke meja perundingan dan memberi otonomi bagi Irlandia Utara. Kelompok sipil yang mereka serang juga merupakan sipil bersenjata (Ulster Volunteer Force), sebuah kelompok paramiliter yang lebih dekat pada terorisme karena lebih sering menyerang sasaran sipil ketimbang bentrok dengan IRA.

Di pihak lain, tentara reguler juga bisa menjadi kelompok teroris. Pasukan khusus Waffen-SS (Schutzstaffel), bentukan NAZI, merupakan contoh tentara reguler yang tugas utamanya adalah melakukan teror. Tentara reguler di beberapa negara komunis, seperti Rusia (di jaman Stalin) atau Kambodia (Khmer Meran) adalah contoh lain dari tentara teror. Dan, jika kita terapkan definisi teroris pada situasi Indonesia, kita dapat menemui KOPKAMTIB, misalnya, sebagai satu kesatuan militer reguler yang menjalankan fungsi teror.

Jalan Panjang Menjadi Seorang Teroris

Kerentanan

Sejak maraknya aksi-aksi teror yang spektakuler di awal tahun 2000-an, para ahli telah berusaha mencari tahu: mengapa orang mau menjadi teroris. Pada awalnya, karena para teroris ini menunjukkan kemauan untuk bunuh diri, satu sikap yang tidak wajar, para ahli mengira bahwa motivasinya adalah kelainan jiwa. Namun penelitian Prof. Randy Borum dari University of South Florida menunjukkan bahwa kelainan jiwa bukan faktor vital dalam mendorong seseorang menjadi teroris.

Prof. Borum berpendapat bahwa tidak ada satu profil khusus yang dapat menggambarkan apakah seseorang akan menjadi teroris atau tidak. Namun demikian, ada tiga kerentanan yang dapat dimanfaatkan oleh kelompok teroris dalam melakukan perekrutan:

1) Perasaan diperlakukan tidak adil

Apakah kamu merasa dunia ini berlaku tidak adil padamu? Apakah kamu merasa orang-orang di sekitarmu menjegal langkahmu, mempermalukanmu? Jika ya, kamu memiliki kerentanan pertama. Motivasi dasar bagi tindak terorisme adalah perasaan frustrasi karena diperlakukan tidak adil.

2) Kehilangan identitas

Apakah kamu merasa tidak punya jati diri? Apakah kamu merasa bahwa dirimu harus terus mengenakan topeng dan bersikap munafik sepanjang waktu? Apakah kamu merasa dirimu tidak keren karena tidak bisa mengikuti tren? Jika ya, berhati-hatilah. Kekosongan identitas merupakan kerentanan kedua yang mudah dieksploitasi ke arah terorisme.

3) Perasaan terasing

Apakah kamu merasa seperti terdampar? Apakah kamu sering merasa dirimu terkucil, atau kesepian di tengah keramaian? Jika ya, inilah kerentanan ketiga. Umat manusia dibentuk oleh jutaan tahun evolusi menjadi mahluk sosial. Keterasingan berdampak buruk, baik secara psikis maupun fisik. Untuk menghindari keterasingan, orang seringkali mau melakukan apa saja. Bahkan juga dengan bergabung dengan kelompok teroris--selama mereka menerimamu dengan tangan terbuka.

Ketiga ciri di atas adalah potensi. Makin banyak ciri-ciri itu ada padamu, makin rentan dirimu pada upaya perekrutan oleh kelompok teroris.

Potensi Perekrutan

hate speech
Jika satu sel teroris menemukan orang yang memiliki kerentanan seperti di atas, maka pendekatan ideologis akan dilakukan untuk mengawali perekrutan. Satu pendekatan praktis untuk mengenali ideologi yang digunakan untuk perekrutan kelompok teroris ini dapat diringkas dengan akronim PATH:

1) Polarized

Artinya hitam-putih. Kamu akan disiapkan untuk melihat dunia ini dalam kerangka hitam-putih; tanpa ada warna lain, tanpa abu-abu. Tentu saja yang "benar" adalah "kita", dan semua orang lain "salah". Tidak mungkin ada kebenaran di kelompok selain "kita".

2) Absolutist

Berangkat dari kerangka hitam-putih itu, kamu akan disiapkan untuk hanya menerima kebenaran dari kelompokmu sendiri. Kamu akan digiring untuk menerima bahwa "kebenaran" yang kamu dengar"suci" adanya. Tidak boleh ada pertanyaan kritis, tidak boleh ada penentangan. "Benar" vs "salah" diubah menjadi "baik" vs "jahat".

3) Threat-oriented

Karena "kita" adalah "mutlak benar" sementara "mereka" adalah "mutlak salah", maka "kita" terancam oleh keberadaan "mereka". "Mereka" terus bertambah kuat, sementara "kita" tengah menuju jurang kehancuran.

4) Hateful

Sebagai konsekuensi logis dari tiga tahap di atas, maka kebencian akan tumbuh pada "mereka" yang dianggap mengancam "kita". Inilah pasak terakhir yang akan mematikan hati nurani, belas-kasih dan rasa kemanusiaan seorang teroris. Dengan api kebencian menyala di dada, nyawa manusia lain tidak akan ada lagi harganya di mata mereka.

Carilah Bantuan

feed the right wolf
Dalam situasi krisis, banyak orang kehilangan pegangan, merasa terasing di tengah kerumunan, dan mengalami banyak frustrasi. Ini satu hal yang tak dapat dihindarkan. Tapi manusia dikaruniai akal-budi untuk memecahkan masalah, bukan untuk menjadikan masalah sebuah momok di malam kelam.

Di saat frustrasi, mudah sekali untuk menyalahkan orang lain dan mulai menumbuhkan kebencian. Dan sekarang mudah sekali menemukan api kebencian: media sosial, aplikasi obrolan, bahkan siaran televisi telah digunakan untuk menanamkan kebencian. Begitu frustrasi bertemu kebencian, bibit terorisme pun tumbuh.

Carilah bantuan!

Jika kamu berhadapan dengan masalah hukum, hubungilah Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia, yang cabangnya tersebar di seluruh Indonesia. Jika mengalami PHK sewenang-wenang atau mengalami diskriminasi di tempat kerja, hubungilah serikat buruh/pekerja. Jika mengalami kekerasan dalam rumah tangga, hubungilah Komnas Perempuan. Jika hakmu sebagai konsumen dilanggar, hubungilah Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia. Ini baru sebagian kecil dari sekian banyak pertolongan yang dapat kita peroleh.

Yakinlah, kamu tidak sendirian. Ada sekian banyak orang baik yang siap mengulurkan tangan, untuk menarikmu keluar dari rasa frustrasimu. Mari lawan terorisme, dengan pertama-tama melawan rasa frustrasi, keterasingan dan keputusasaan yang kamu hadapi sendiri.

Referensi:

https://books.google.co.id/books?id=TdKL43PjcXoC&printsec=frontcover#v=onepage&q&f=false

 

Silakan berlangganan pada layanan Newsletter kami, untuk mendapatkan kabar apabila ada artikel baru yang diunggah.

"Belajarlah dari hari kemarin, hiduplah untuk hari ini, berharaplah untuk hari esok. Yang terpenting adalah: jangan berhenti bertanya."

Albert Einstein