Banyak Prasangka, Pertanda IQ Rendah

Otak Homer

Psikologi dan Pendidikan
Typography

Penilaian: 0 / 5

Nonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan Bintang
 

Penelitian telah menunjukkan bahwa orang yang banyak prasangka terhadap kelompok lain, mereka yang berideologi konservatif dan hitam-putih, biasanya memiliki kemampuan kognitif rendah.

Penelitian yang dilakukan oleh Gordon Hudson dan Michael A. Busseri dari Brock University di Ontario, Kanada, pada tahun 2011 menunjukkan kaitan erat antara kemampuan kognitif seseorang (yang seringkali diukur dengan indeks IQ) dengan pandangan politiknya. Penelitian ini dilakukan dengan jumlah responden besar (N>15.000) di Inggris dan Amerika Serikat, untuk mencari kaitan antara tingkat kecerdasan seseorang dan kecenderungan berpihak pada konservatisme sosial dan/atau otoriterisme.

Hasilnya, penelitian yang dipublikasi di jurnal Psychological Science ini menunjukkan bahwa benar ada korelasi antara kecerdasan yang rendah dengan kecenderungan menjadi penganut pandangan rasis atau anti kelompok lain secara ekstrim. Secara khusus, terdapat korelasi kuat antara rendahnya kemampuan berpikir abstrak dengan prasangka anti homoseksualitas--terutama di dalam relasi sosial di mana kontak antar kelompok terbatasi.

stupidity burns
Hudson menyatakan bahwa telah ada penelitian sebelumnya yang mengaitkan antara rendahnya tingkat pendidikan dan kecenderungan rasis, sehingga mereka tinggal "menumpang" pada penelitian ini dan mencari kaitannya dengan tingkat kecerdasan. Mereka menggunakan hasil dari dua penelitian yang menelusur bayi-bayi yang dilahirkan pada bulan Maret 1958 dan April 1970; di mana kecerdasan para subjek diukur pada usia 10 atau 11 tahun, lalu diukur kembali di usia 30 atau 33. Para peneliti dari Brock University mencari responden yang sama untuk diwawancarai mengenai kemampuan kognitif dan pandangan politiknya.

Sebagaimana diprediksi, ada kaitan antara tingkat kecerdasan yang rendah dan pandangan rasis. Hudson menjelaskan bahwa ideologi yang konservatif menyediakan "struktur dan hirarki" yang kaku dan ketat, tanpa keharusan berpikir kritis. Ini adalah "suaka" penting bagi mereka yang kebingungan berhadapan dengan dunia nyata, yang semakin hari semakin kompleks dan rumit. Dalam dunia nyata, kita berhadapan dengan orang dari berbagai kelompok, dengan pandangan yang beraneka ragam, dengan latar belakang dan pengalaman hidup yang serbaneka warna-warni. Kompleksitas inilah yang dihindari, dan ideologi hitam-putih adalah payung tempat berlindung mereka yang kurang mampu memahami realitas ini.

Dr. Brian Nosek, dari University of Virginia, membenarkan kesimpulan ini. Ideologi yang hitam-putih, tuturnya, memberi penyederhanaan atas dunia yang kompleks. Tidaklah mengherankan kalau mereka yang kecerdasannya rendah lantas tertarik dengan ideologi penyederhanaan seperti ini. Namun, Nosek juga memperingatkan bahwa bukan hanya ideologi konservatif yang kerap membuat dunia ini menjadi hitam vs putih, kami vs mereka; ideologi yang terhitung "liberal" atau "progresif" sekalipun tidak jarang tergoda untuk membuat penyederhanaan hitam-putih seperti ini.

Di samping itu, Hudson membuat peringatan lain dalam interpretasi hasil penelitian ini: bahwa penelitian ini hanya dapat menunjukkan "rata-rata". Tentu saja di antara orang konseratif ada yang cerdas, dan di antara orang liberal maupun progresif ada yang kurang cerdas. Tapi, secara rata-rata, dapat dikatakan bahwa ideologi hitam-putih lebih menarik bagi orang yang kecerdasannya rendah--terutama apabila menyangkut kemampuan abstraksi.

Stupid like death
Di pihak lain, tidak memiliki pandangan rasis belum tentu berarti mendukung kebijakan politik anti rasisme atau yang mendorong terjadinya toleransi. Mayoritas kulit putih, atau mayoritas Kristen, atau mayoritas Islam, biasanya menikmati banyak hak lebih (privilese) karena status mayoritasnya. Penelitian Geoffrey Wodtke, dari University of Michigan di tahun 013, yang dipresentasikan di Pertemuan Tahunan ke 108 dari American Sociological Association menunjukkan bahwa banyak orang, yang menyetujui kesetaraan antar ras atau agama, ternyata tidak mendukung program politik untuk memperkuat kesetaraan itu secara riil. Ini karena mereka ketakutan akan kehilangan hak lebih yang selama ini mereka nikmati.

Jadi, untuk benar-benar memberantas ideologi rasis, hitam-putih, anti-toleransi, bukan hanya kita harus membangun kecerdasan bangsa--tapi juga menanamkan kesadaran tentang kesetaraan dan persamaan hak; sejak sedini mungkin.

Referensi:

 

Silakan berlangganan pada layanan Newsletter kami, untuk mendapatkan kabar apabila ada artikel baru yang diunggah.

"Kemajuan dalam sains adalah lewat perumusan pertanyaan baru, mencari kemungkinan baru, memandang masalah lama lewat sudut pandang baru, dan mendorong kreativitas."

Albert Einstein