Akhenaten, Penganut Monoteis Pertama di Dunia

Firaun Akhenathen

Agama dan Etika
Typography

Penilaian: 0 / 5

Nonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan Bintang
 

Banyak orang berpandangan bahwa Ibrahim (a.k.a. Abraham) adalah penganut monoteisme pertama di dunia. Ketiga agama monoteis besar yang bertahan sampai hari ini: Yahudi, Kristen dan Islam, menujuk Ibrahim sebagai moyang kepercayaan mereka. Selama ribuan tahun, para penganut monoteis percaya bahwa Ibrahim adalah manusia pertama yang mengakui keesaan Tuhan. Baru di awal abad ke-20 para ahli menemukan bahwa Ibrahim bukanlah penganut monoteisme pertama di muka bumi.

Penemuan ini diawali di tahun 1714, ketika seorang pendeta Jesuit Perancis menemukan sebuah stela (semacam monumen atau gapura) yang menunjukkan batas sebuah kota kuno di kawasan Amarna, sekitar 300 km di selatan Kairo. Penemuan ini menarik karena kota kuno ini sama sekali tak pernah disebut dalam dokumen-dokumen Mesir Kuno yang pernah ditemukan sebelumnya. Beberapa penggalian yang dilakukan sepanjang abad ke-19 mengungkap sebuah kota kuno yang megah, dengan gaya seni yang nyaris sama sekali berbeda dengan gaya seni Mesir Kuno pada umumnya. Kota ini begitu megah, setanding dengan kota-kota kuno Mesir yang pernah menjadi ibukota Kerajaan Mesir pada jamannya. Dari pahatan hieroglif yang ditemukan di kota ini, didapati bahwa kota tersebut dinamai Akhetaten (berarti “cakrawala milik Aten”), diperintah oleh seorang Firaun bernama Akhenaten (yang artinya “kekasih Aten”). Akhenaten, dilahirkan dengan nama Amenhotep, adalah anak lelaki kedua dari Firaun Amenhotep III, yang menggantikan ayahnya sebagai Firaun karena kakaknya mati muda. Ia dinobatkan sebagai Firaun Amenhotep IV pada tahun 1353 S.M. dan berkuasa sampai tahun 1335 S.M. Dalam silsilah raja-raja Mesir Kuno, Amenhotep IV tercatat sebagai ayah dari Tutankhamun. Penggalian yang dilakukan di Lembah Para Raja, kompleks pekuburan para Firaun Mesir, di tahun 1907 membuktikan keberadaan Firaun Amenhotep IV. Dan pengujian DNA yang dilakukan di tahun 2010 membuktikan lebih jauh bahwa sang Firaun ini memang ayah dari Tutankhamun (yang muminya juga telah ditemukan). Penemuan ini menambah misteri kita: mustahil ayah dari seorang Firaun yang begitu terkenal sama sekali tak tercatat prestasinya—terlebih lagi dalam membangun sebuah ibukota.

Penggalian lebih lanjut mengungkap kisah menakjubkan dari Firaun terbuang ini. Pada tahun keenam di masa pemerintahannya, dia mengubah namanya dari Amenhotep (yang berarti “kesayangan Amun”) menjadi Akhenaten. Ini adalah pertanda pertama dari perubahan dalam pandangan sang Firaun mengenai soal Ketuhanan. Baik Amun maupun Aten sama-sama dipuja sebagai Dewa Matahari dalam panteon (sistem kuil) Mesir Kuno namun, sejak perubahan nama itu, Akhenaten mulai melakukan perombakan terhadap kepercayaan Mesir. Awalnya perlahan, namun makin lama makin radikal, dia mulai menyingkirkan semua dewa lain dari panteon Mesir Kuno—dia tengah berusaha membuat Mesir menyembah hanya satu ilah: Aten.

Ajaran yang dibawa oleh Akhenaten ini benar-benar mengguncang masyarakat Mesir. Para pendeta Mesir Kuno, terutama di kuil-kuil Amun, segera mencap sang Firaun sebagai bid’ah. Terutama setelah sang Firaun melarang penyebutan kata “dewa” dalam bentuk jamak—hanya bentuk tunggal yang diijinkan. Namun mereka tak berani bertindak karena tentara Firaun sigap membaca sikap penentangan, dan memperlakukannya sebagai pemberontakan. Banyak kuil ditutup dan para pendetanya diusir.

Sayang, belum terlalu lama Akhenaten memerintah, ia terserang epilepsi. Penyakit ini ternyata merupakan penyakit turunan dalam keluarganya. Serangan epilepsi mematikan ini memangkas upaya Akhenaten menegakkan kepercayaan monoteis pertama dalam sejarah. Para pendeta membalas dendam. Bersama keluarga kerajaan yang resah karena upaya reformasi keagamaan ini, mereka mulai menghancurkan semua ajaran Akhenaten. Puncaknya adalah di masa pemerintahan Firaun Horemheb, yang memerintahkan agar semua dokumen atau monumen yang mengandung nama Akhenaten dihancurkan. Bersama dengan mangkatnya Firaun ini, berakhir pulalah penyebaran kepercayaan monotheis pertama di muka bumi.

Referensi:

 

Silakan berlangganan pada layanan Newsletter kami, untuk mendapatkan kabar apabila ada artikel baru yang diunggah.

"Otak itu seperti halnya otot. Jika kita terus melatihnya, kita akan merasa bugar. Pemahaman adalah kegembiraan."

Carl Sagan