Top Stories

Lachish, kota yang sejaman dengan Sodom

Agama dan Etika

Penilaian: 0 / 5

Nonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan Bintang

"Sodom" telah menjadi kata yang sinonim dengan laknat dan kehancuran akibat homoseksualitas. Namun barangkali tidak banyak yang tahu bahwa Sodom dan Gomorra bukanlah kasus terisolasi pada masanya. Bahkan, nyaris seluruh Timur Tengah, pada masa berdirinya Sodom, mempraktekkan homoseksualitas--sekalipun dengan tingkat berbeda-beda. Pandangan tentang homoseksualitas sebagai sebuah dosa, yang dipelopori oleh orang Ibrani, justru merupakan pandangan minoritas di masanya.

Firaun Akhenathen

Agama dan Etika

Penilaian: 0 / 5

Nonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan Bintang

Banyak orang berpandangan bahwa Ibrahim (a.k.a. Abraham) adalah penganut monoteisme pertama di dunia. Ketiga agama monoteis besar yang bertahan sampai hari ini: Yahudi, Kristen dan Islam, menujuk Ibrahim sebagai moyang kepercayaan mereka. Selama ribuan tahun, para penganut monoteis percaya bahwa Ibrahim adalah manusia pertama yang mengakui keesaan Tuhan. Baru di awal abad ke-20 para ahli menemukan bahwa Ibrahim bukanlah penganut monoteisme pertama di muka bumi.

Penilaian: 0 / 5

Nonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan Bintang

Penelitian telah menunjukkan bahwa orang yang banyak prasangka terhadap kelompok lain, mereka yang berideologi konservatif dan hitam-putih, biasanya memiliki kemampuan kognitif rendah.

Terorisme tidak kenal agama!

Psikologi dan Pendidikan

Penilaian: 0 / 5

Nonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan Bintang

Ledakan bom di Sarinah, Kamis lalu, 14 Januari 2016, menimbulkan beragam reaksi. Dari mulai yang sedih dan pedih, sampai yang lantang menantang balik para teroris. Tapi pertanyaan terpenting yang harus kita ajukan adalah: bagaimana ceritanya seseorang bisa jadi teroris? Bagaimana seseorang bisa begitu tega mencabut nyawa orang lain, bahkan dengan membahayakan diri sendiri?

Jabat erat dengan maaf

Psikologi dan Pendidikan

Penilaian: 0 / 5

Nonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan Bintang

Setiap sistem kepercayaan yang pernah dan masih ada di muka bumi mengakui bahwa tidak ada manusia yang bebas dari kesalahan. Bahkan agama-agama menyandarkan alasan keberadaan mereka pada layanan 24x7 untuk menyediakan pengampunan bagi kesalahan itu. Agama-agama menjanjikan bahwa Sang Sesembahan adalah Yang Maha Pengampun. Sayangnya, sekalipun menyembah Yang Maha Pengampun, manusia sulit sekali memaafkan manusia lain. Dendam bisa berlangsung tujuh puluh atau tujuh ratus turunan. Mengapa manusia sulit sekali memaafkan manusia lain?

Penilaian: 0 / 5

Nonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan Bintang

Gejala peningkatan vote-absenteeism, atau yang di sini sekarang lebih dikenal sebagai "golput", terjadi paralel secara global dengan peningkatan gerakan politik yang berlandaskan pada diksriminasi, kebencian atau agresi. Tidak heran jika para ilmuwan politik berusaha menemukan hubungan di antara keduanya. Dan, hasilnya lumayan dapat diduga: kedua gejala ini lahir dari rahim yang sama. Mereka berdua adalah kakak-beradik, hanya berbeda ekspresi.

Katakan Tidak pada Profil Palsu

Sosial dan Politik

Penilaian: 0 / 5

Nonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan Bintang

Kita baru mendengar tentang tertangkapnya banyak pegiat hoax yang tergabung dalam sebuah grup bernama Saracen. Pemberitaan media menyebutkan bahwa grup ini memiliki sekurangnya 400.000 akun palsu untuk menyebarkan berita hoax yang mereka produksi. Mengapa harus sekian banyak? Kalau berita palsu itu menyebar di kalangan akun palsu mereka sendiri, bukankah tidak ada bahayanya? Tapi, persis di sinilah apa yang disebut Bandwagon Effect bermain.

Kemacetan Jakarta

Sosial dan Politik

Penilaian: 0 / 5

Nonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan Bintang

Apakah ada manusia di atas bumi yang hijau ini, yang bersuka hati ketika terjebak dalam kemacetan? Kemungkinan besar, tidak ada. Jutaan orang di hampir setiap kota besar di dunia ini, yang pernah terjebak dalam kemacetan, pasti dapat bersaksi tentang emosi, stress dan konflik yang pecah sepanjang sejarah mereka “menikmati” kemacetan. Bahkan di negeri berkembang seperti Indonesia, masalah kemacetan di kota besar dan kecil telah sedemikian parahnya sampai menjadi masalah politik. Namun demikian, Matthias Sweet, seorang periset pada the McMaster Institute for Transportation and Logistics di McMaster University, California, menyatakan bahwa kemacetan itu memiliki dampak positif.

Silakan berlangganan pada layanan Newsletter kami, untuk mendapatkan kabar apabila ada artikel baru yang diunggah.