Di Dunia Nyata, Simba Tidak Akan Menjadi Lion King, Ini Sebabnya

Lion King poster

Ilmu Alam
Typography

Penilaian: 0 / 5

Nonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan Bintang
 

Film Lion King (2019) merupakan pembuatan ulang atas film dengan judul serupa, yang tayang di tahun 1994. Serupa dengan film yang terdahulu, Lion King (2019) mendapatkan banyak ulasan positif baik dari pengulas film profesional maupun dari penonton. Namun demikian, film ini bukanlah sebuah dokumenter tentang kehidupan singa di alam liar. Ada banyak ketidaksesuaian antara kehidupan satu kawanan singa (pride) di alam bebas dengan yang digambarkan dalam kedua film Lion King. Di alam liar, Simba bukan saja tidak akan punya kesempatan untuk merebut tahta dari cengkeraman Scar, dia bahkan tidak punya harapan hidup setelah Mufasa tewas.

Berikut ini adalah hal-hal yang membedakan kehidupan singa ala Disney dengan kehidupan singa di habitat aslinya.

1. Tidak ada singa jantan subordinat dalam keluarga singa

Film Lion King menggambarkan Mufasa sebagai raja Pride Rock, sementara adiknya Scar menjadi pecundang yang disesaki dengki. Di dunia nyata, tiap pride hanya memiliki satu jantan dominan atau beberapa jantan dominan yang membentuk koalisi. Seekor singa jantan naik tahta dengan menggulingkan penguasa lama, biasanya dengan mengusirnya; namun tidak jarang pula pejantan dominan terdahulu itu terbunuh dalam perebutan kekuasaan. Demikian ada pejantan dominan baru, semua pejantan remaja lain dalam keluarga singa tersebut akan diusir dan, jika menolak, akan dibunuh. Dengan demikian, si penguasa baru akan menjadi satu-satunya pejantan dewasa dalam keluarga singa tersebut. Dalam hal ada lebih dari satu singa jantan dewasa dalam satu keluarga singa, para singa itu pastilah kakak-beradik yang terusir dari keluarga lamanya lalu membentuk koalisi untuk merebut kedudukan dalam keluarga lain.

 

2. Seharusnya Scar yang menjadi raja karena surainya lebih gelap

Singa bersurai gelapDalam film Lion King, digambarkan Mufasa memiliki tubuh lebih kekar daripada Scar (yang digambarkan kurus-kering) namun dengan surai yang lebih terang warnanya. Di alam nyata, gelapnya warna surai menggambarkan tingginya tingkat hormon testosteron seekor singa jantan. Pada umumnya, kadar testosteron ini pula yang menentukan kekarnya tubuh sang singa jantan. Di alam bebas, akan sangat jarang ditemui singa jantan bersurai gelap yang tubuhnya kurus-kering. Pengecualiannya tentu adalah mantan raja yang terusir dari kawanannya karena usianya sudah terlalu tua, atau karena dikeroyok oleh koalisi singa-singa muda. Singa jantan tidak terlalu jago berburu (karena tubuhnya yang terlalu berat) sehingga, begitu terusir dari kawanannya, ia beresiko menderita kelaparan.

Di dunia nyata, Scar-lah yang akan bertubuh lebih kekar daripada Mufasa karena produksi testosteronya lebih aktif. Dan, dengan demikian, Scar-lah yang akan menjadi raja Pride Rock.  

 

3. Nala adalah saudara tiri Simba

Digambarkan dalam film bahwa antara Nala dan Simba telah "dijodohkan" sejak kecil. Begitu bertemu kembali, setelah Simba lama menghilang, cinta di antara keduanya bersemi dan Nala membantu Simba merebut kembali tahtanya; lalu menjadi ratu bagi Simba. Di dunia nyata, hanya satu pejantan dominan yang akan membuahi semua singa betina dalam kawanan. Di Pride Rock, Mufasa-lah penjantan dominannya maka dialah yang akan menjadi ayah bagi semua anak singa yang lahir di kawanan itu. Dengan demikian, Nala adalah saudara seayah bagi Simba. Perkawinan Simba dan Nala adalah perkawinan antar saudara tiri.

 

4. Jika Mufasa tidak tewas, dia akan mengusir Simba begitu anaknya itu dewasa

Film Lion King menggambarkan bagaimana Mufasa membawa Simba untuk melihat luasnya kerajaan Pride Rock, dan menyatakan bahwa suatu hari nanti semua itu akan menjadi milik Simba. Di dunia nyata, sekalipun singa jantan menunjukkan rasa sayang yang besar pada anak-anaknya, begitu si anak menginjak dewasa, ia akan menjadi pesaing. Biasanya ketika anak singa menginjak usia 2 tahun, singa jantan dominan akan mengusir para jantan remaja itu dari kawanan. Pengusiran ini diawali dengan tidak memberi ijin anak-anaknya itu untuk ikut makan hasil buruan kelompoknya. Jika para remaja ini nekad, pejantan dominan itu akan menyerang dan melukainya. Jika para remaja ini masih berkeras tinggal walaupun tidak lagi dapat makan, pejantan dewasa akan mengusir mereka dengan kekerasan; walau biasanya tidak sampai membunuh.

 

5. Scar tidak akan bersekutu dengan hyena

lion vs hyenaScar diperlihatkan memiliki sifat licik, sehingga dia rela bersekutu dengan musuh bebuyutan para singa Pride Rock; yakni para hyena. Di dunia nyata, singa dan hyena bukan hanya musuh bebuyutan; melainkan mortal enemy. Kedua spesies ini menempati ceruk habitat yang sama, memburu mangsa yang kurang-lebih sama. Hal ini menyebabkan kedua spesies ini menjadi kompetitor yang sifatnya berhadapan terus-menerus. Sudah entah berapa generasi persaingan ini berlangsung sampai-sampai persaingan ini tertanam dalam kode genetik mereka. Para singa akan langsung membunuh anak hyena jika mereka mendapati anak-anak ini tanpa perlindungan; demikian pula sebaliknya. Biasanya, yang terlibat konflik langsung dengan para hyena adalah para betina karena singa betinalah yang biasanya berburu. Namun, begitu seekor singa jantan mendapati kawanan hyena, ia akan langsung menyerang bahkan tanpa harus diprovokasi. Di dunia nyata, Scar tidak akan dapat bersekutu dengan hyena; karena bawaan genetiknya akan memaksa dia menyerang para hyena itu begitu nampak.

 

6. Begitu Scar berkuasa, dia akan menghabisi Nala dan Simba

Dalam film digambarkan bahwa Scar tidak membunuh Simba melainkan hanya mengusirnya; lebih jauh lagi, Scar membiarkan Nala tetap berada dalam kawanan sampai dia dewasa. Di alam liar, semua pejantan dominan yang baru merebut kekuasaan akan membunuh semua anak singa dari penguasa sebelumnya; baik jantan maupun betina. Ini disebabkan oleh mekanisme hormon kesuburan pada singa betina; di mana kehadiran anak akan membuat tubuh singa betina tidak lagi menghasilkan sel telur. Dan tingkat stres yang dihasilkan oleh peristiwa kehilangan anak (baik karena dibunuh singa jantan, terbunuh oleh pemangsa lain atau karena penyakit) akan otomatis membuat singa betina kembali subur. Jadi, pejantan dominan baru membunuh anak-anak singa untuk dua tujuan: agar dia tidak harus mengasuh anak dari pejantan dominan sebelumnya, dan agar para betina sesegera mungkin kembali subur.

 

7. Simba akan kawin dengan ibunya sendiri

Disney menggambarkan bahwa ibu Simba, Sarabi, adalah istri Mufasa; dan ketika Simba menjadi raja, dia menikahi Nala dalam perkawinan monogami. Di dunia nyata, sebagaimana disebut di atas, singa jantan remaja akan diusir oleh pejantan dominan dalam kawanan. Tapi, katakanlah Simba kemudian berhasil bertahan hidup dan merebut posisi pejantan dominan di Pride Rock, itu artinya dia akan membunuh semua anak singa yang mungkin lahir dari bibit Scar lalu kawin dengan semua betina dalam kawanan itu--termasuk ibunya sendiri. Ya, singa tidak mengenal tatanan moral manusia. Sudah takdir seekor singa jantan dominan untuk mengawini semua betina dalam kawanan, tak peduli singa betina itu ibunya sendiri.

 

Demikianlah perbedaan kehidupan singa di alam liar dengan yang tergambar dalam film. Bagaimana menurut pendapatmu? Sampaikan pendapatmu di kolom komentar di bawah ini.

 

Rujukan:

Silakan berlangganan pada layanan Newsletter kami, untuk mendapatkan kabar apabila ada artikel baru yang diunggah.

"Kebanyakan orang mengira bahwa untuk menjadi ilmuwan, kamu harus cerdas. Mereka salah. Yang dibutuhkan adalah karakter yang kuat."

Albert Einstein