Pakai Strategi ini untuk Memangkas Polusi Udara Kota

Jakarta disaput smog (The Jakarta Post/Wendra Ajistyatama )

Kimia dan Kehidupan
Typography

Penilaian: 0 / 5

Nonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan Bintang
 

Baru-baru ini, kota Jakarta mendapatkan satu "penghargaan" level global: dinobatkan sebagai salah satu kota dengan kualitas udara terburuk di dunia. Penelitian Greenpeace dan AirVisual IQ yang dirilis pada bulan Maret 2019, atas kondisi udara berbagai kota besar di dunia, menempatkan Jakarta sebagai kota dengan polusi tertinggi di kawasan ASEAN. Memasuki Juni 2019, Jakarta malah melejit ke urutan nomor wahid dalam hal polusi; walau tidak konsisten berada di sana.

Gubernur DKI Anies Baswedan menyatakan akan menanam Lidah Mertua (Sansevieria hyacinthoides) untuk mengatasi soal polusi udara Jakarta ini. Apakah pendekatan ini sudah memadai? Adakah pendekatan lain yang lebih efektif?

tingkat polusi jakarta
Pantauan Air Visual beberapa kali menunjukkan bahwa bukan hanya Jakarta yang masuk ke dalam daftar kota dengan tingkat polusi terburuk di dunia. Dalam grafis yang diambil dari situs Coconuts Jakarta di samping ini, terlihat bahwa Denpasar juga masuk dalam deretan kota-kota terpolusi dunia.

Jelas bahwa urusan polusi di kota besar bukan saja masalah bagi Jakarta secara khusus, melainkan memang masalah yang menghantui kota-kota besar di Indonesia.

Dari mana datangnya polusi ini? Setidaknya ada lima penyebab utama polusi global saat ini:

  1. Pembakaran bahan bakar fosil: sulfur dioksida merupakan polutan utama akibat pembakaran bahan bakar fosil, diimbuhi dengan karbon monoksida serta nitrogen oksida akibat pembakaran yang tidak sempurna dalam mesin kendaraan bermotor. Secara khusus, kemacetan lalu-lintas yang tinggi memberi sumbangan signifikan atas tingkat polusi; karena seringnya kendaraan melakukan akeselerasi dari keadaan berhenti lalu mendeselerasi (mengerem) dengan cepat, membuat mesin membakar lebih banyak bahan bakar. Intinya, kemacetan membuat kendaraan boros bensin, dan lebih banyak bensin yang dibakar berarti lebih banyak polutan dihasilkan;
  2. Limbah produk pertanian: usaha pertanian, khususnya peternakan, menghasilkan banyak bahan polutan seperti amonia (dari kotoran hewan baik yang berbentuk padat maupun gas) yang merupakan salah satu polutan paling berbahaya; limbah pestisida, insektisida dan pupuk yang sekarang banyak berbentuk aerosol (dan tersebar lewat udara);
  3. Pembakaran di pabrik dan kilang: pabrik dan kilang (termasuk pembangkit listrik) menghasilkan banyak karbon monoksida, senyawa hidrokarbon dan gas-gas kimia dan membuangnya ke udara;
  4. Operasi penambangan: operasi tambang menghasilkan debu dan melepaskan gas-gas kimia ke udara;
  5. Polusi rumah tangga: bahan-bahan kimia rumah tangga, rokok, aktivitas memasak (terutama apabila masih memakai kayu bakar atau minyak tanah) turut pula menghasilkan polusi udara. Jumlahnya per rumah tangga boleh jadi kecil namun, di pemukiman yang padat, akumulasinya cukup besar juga.

Dari daftar tersebut, patut kiranya kita menduga bahwa penyumbang terbesar bagi polusi udara Jakarta adalah kendaraan bermotor, yang mengalami peningkatan berlipat ganda karena tingkat kemacetannya yang luar biasa.

Berhadapan dengan polusi yang disebabkan oleh kendaraan bermotor, strategi macam apa yang dapat ditempuh oleh pemerintah kota? Para ahli nampaknya bersepakat bahwa satu-satunya strategi yang paling tepat hanyalah dengan penghijauan. Penelitian The Nature Conservancy (TNC) yang berbasis di Amerika Serikat, terhadap dampak penghijauan di 245 kota di dunia, menunjukkan bahwa secara rata-rata penghijauan dapat menurunkan tingkat polusi antara 7-24% dan menurunkan suhu udara rata-rata sebesar 2oC.

Tapi penghijauan macam apa? Para ahli konservasi mengusulkan tiga pendekatan untuk penghijauan itu:

1. Pembangunan Hutan Kota: pembukaan ruang terbuka hijau dalam bentuk Hutan Kota, di mana tanaman-tanaman yang efektif dalam menyerap karbon dioksida dan karbon monoksida ditanam secara ekstensif. Beberapa tanaman yang telah terbukti lewat penelitian memiliki daya hisap polusi yang tinggi misalnya ash, maple atau bambu. Pembangunan hutan kota menuntut dana yang besar untuk pembebasan lahan dan perawatannya, namun dapat sekaligus dipakai sebagai tempat rekreasi murah meriah bagi warga kota.

taman kota

2. Menjadikan kota sebagai hutan: ini pendekatan radikal yang sekarang sedang dirancang untuk diterapkan di Shanghai demi mengurangi tingkat polusi kota itu, yang telah mencapai tahap membahayakan. Dengan konsep ini, seluruh gedung dan bangunan di perkotaan akan diselimuti dengan tanaman. Tanaman merambat, contohnya ivy yang dikenal dapat menyerap racun dari udara, akan digunakan untuk melapisi permukaan dinding gedung-gedung bertingkat; tanaman sesemakan dan tanaman rendah lainnya akan dipergunakan di balkon-balkon dan atap-atap bangunan.

city forest

3. Penanaman sesemakan di sepanjang jalan raya: Penelitian menunjukkan sesemakan lebih efektif untuk "memagari" jalan raya karena tinggi dan kerapatannya ideal untuk menjebak polutan yang dikeluarkan oleh kendaraan bermotor. Penanaman pohon yang tinggi di pinggir jalan ternyata tidak efektif untuk mengurangi polusi karena letak daunnya terlalu tinggi di atas posisi knalpot kendaraan bermotor.

road hedges

 

Mana di antara ketiga pendekatan di atas yang menurutmu paling efektif? Ataukah sebaiknya ketiga pendekatan itu dilakukan secara kombinasi?

 

Rujukan:

 

Silakan berlangganan pada layanan Newsletter kami, untuk mendapatkan kabar apabila ada artikel baru yang diunggah.

"Semua bidang sains membutuhkan matematik. Inilah sains yang tertanam dalam diri manusia. Bahkan orang yang buta huruf pun bisa berhitung."

Roger Bacon