Jaman Kiwari, Hoax Lebih Dipercaya Daripada Sains. Ini Sebabnya.

HOAX!

Kimia dan Kehidupan
Typography

Penilaian: 5 / 5

Aktifkan BintangAktifkan BintangAktifkan BintangAktifkan BintangAktifkan Bintang
 

Ini adalah jaman di mana hoax memenuhi media sosial. Dari mulai isu mengenai simbol palu-arit pada muka uang kertas Republik Indonesia, sampai munculnya kelompok-kelompok yang percaya bahwa bumi sebenarnya datar. Menariknya, banyak di antara para penyebar dan pendukung hoax ini adalah orang yang berkesempatan mengenyam pendidikan tinggi. Bagaimana mungkin orang yang sudah diajari ilmu pengetahuan malah mendukung dan menyebarkan hoax? Para peneliti pun tertarik dengan gejala ini dan mulai mengadakan penyelidikan mendalam. Temuan mereka menegaskan bahwa, sebelum kita menjadi Manusia, kita adalah pertama-tama bagian dari Dunia Hewan.

Sains adalah Sesuatu yang "Asing"

Insting primer dari Dunia Hewan adalah insting untuk bertahan hidup. Insting inilah yang merupakan landasan semua prilaku hewan di muka bumi; membuat mereka menghindar, mengejar, mencari, bersembunyi, bekerja sama dan bersaing. Jauh sebelum generasi pertama Manusia mengembangkan nalar sebagai alat untuk bertahan hidup, mereka menyintasi padang rumput Afrika Timur yang kejam dengan insting mereka. Di tanah air umat manusia ini, setiap bayangan di balik rerumputan bisa jadi adalah pemangsa yang tengah menanti untuk menerkam. Setiap malam tiba, para perintis ini niscaya senantiasa waspada terhadap segala sesuatu yang dipandang "asing". Sejak fajar menyingsing dalam perjalanan evolusi Manusia, otak manusia terbangun untuk membedakan mana yang "akrab" dan melabelinya "bersahabat", mana yang "asing" dan melabelinya "berbahaya". Mekanisme pembeda "asing" vs "akrab" ini terutama melibatkan komponen otak yang disebut amygdala. Secara rinci, mekanisme ini telah dibahas dalam tulisan sebelumnya: "Mengintip Isi Kepala Seorang Pembenci."

flat earth
Sialnya, sains mendasarkan dirinya pada sesuatu yang "asing", bahkan berlawanan dengan "akal sehat" dan "pengamatan dengan mata kepala sendiri". Ketika Galileo mengumumkan bahwa Bumi ini bulat, berputar pada sumbunya dan memutari Matahari, dia bukan saja menentang doktrin Gereja pada saat itu; yang dilakukannya adalah menyatakan bahwa penglihatan semua manusia di jamannya adalah keliru. Bayangkan saja: jutaan, bahkan milyaran manusia yang hidup sejak bangkitnya Umat Manusia di sabana Afrika Timur, sampai di abad ke-17, melihat bahwa Matahari terbit dari ufuk di timur, lalu bergerak di lengkung langit untuk tenggelam di ufuk barat pada senja hari. Sangat wajar bahwa sekian milyar manusia itu mengira bahwa Bumi tetap tinggal di tempatnya, dan Mataharilah yang berputar mengelilingi Bumi. Galileo (juga banyak pendahulunya yang kurang menghebohkan) menyajikan satu hal yang sama sekali asing bagi Umat Manusia. Dan karena dianggap "asing' maka informasi baru ini akan dilekati dengan label "berbahaya".

Maka, sesuai hasil penelitian Charles Taber, dekan Graduate School dari Stony Brook University, menyebutkan bahwa Manusia lebih banyak menggunakan otaknya untuk "membenarkan" daripada "berpikir". Secara naluriah, otak manusia memberi rangsang negatif terhadap informasi baru yang bertentangan dengan apa yang dia ketahui sebelumnya. Otak manusia, secara naluriah, memberi bobot dan memilah informasi yang masuk; membandingkannya dengan informasi yang telah disimpannya sebelumnya, lalu memberi label "dapat dipercaya" bagi informasi yang membenarkan (mengkonfirmasi) informasi sebelumnya--sekaligus memberi label "tidak dapat dipercaya" bagi informasi yang bertentangan dengan apa yang sudah tersimpan. Gejala yang disebut "confirmation bias" inilah yang membuat orang hanya mendengarkan orang (atau sumber informasi lain) yang dia percaya, lalu menolak begitu saja sumber lain yang tak dia percaya.

Anterior Cingulate Cortex
Pada titik ekstrim, confirmation bias dapat menyebabkan orang memuntir fakta--semata agar tidak bertentangan dengan apa yang telah dia percaya sebagai "kebenaran". Inilah yang oleh sebagian orang disebut sebagai taqlid. Seseorang yang mempercayai bahwa satu sosok tokoh adalah "sumber kebenaran", tidak akan pernah mempertanyakan apapun yang dikatakan oleh sang Tokoh. Bahkan, ketika apa yang dilakukan atau dikatakan si Tokoh bertentangan (atau tidak konsisten) dengan apa yang telah dikatakannya sebelumnya, para pengikut akan mencari jalan untuk membenarkan ketidaksesuaian itu. Leon Festinger dari Stanford University telah berhasil membuktikan bahwa kaum pengikut buta ini lebih suka memuntir fakta daripada menerima bahwa mereka keliru--bahkan ketika bukti kekeliruan mereka telah bertumpuk lebih tinggi daripada menara Babel.

dorsolateral prefrontal cortex
Lebih jauh lagi, penelitian Kevin Dunbar dari University of Maryland menunjukkan bahwa pada orang-orang yang tidak berlatar belakang sains, satu informasi sains baru (sekalipun telah terbukti) ternyata memicu aktivitas anterior cingulate cortex, organ dalam otak yang bertugas merepresi informasi yang dianggap keliru. Sementara pada mereka yang berlatar belakang sains, informasi baru memicu aktivitas pada dorsolateral prefrontal cortex, yang bertugas merepresi informasi yang sudah tersimpan sebelumnya dalam otak. Dunbar menyimpulkan bahwa, bahkan pada orang-orang yang memahami dan menerima sains, informasi yang keliru tentang dunia ini, yang didapat dari pengamatan empiris, tidaklah dihapus dari memori ketika datang informasi baru dari sains.

Konsekuensi dari penelitian Dunbar ini adalah: untuk dapat mempercayai sains, tidak cukup seseorang belajar sains. Ia harus secara aktif merepresi informasi keliru yang telah dia dapatkan sebelumnya. Dengan kata lain, untuk menjadi ilmiah seseorang harus terlebih dahulu membongkar pemahaman lamanya tentang dunia.

Para Ilmuwan Turut Bersalah

Namun demikian, tidak semua kesalahan terletak pada manusia pemercaya hoax. Para ilmuwan juga turut bersalah, terutama mereka yang bekerja dan mengabdi pada kepentingan korporasi besar. Satu kasus yang terkenal adalah ketika perusahaan-perusahaan minyak menggunakan jasa beberapa ilmuwan untuk "membuktikan" bahwa bensin mereka yang bertimbal tidak berbahaya bagi lingkungan. Clair Patterson, ilmuwan yang membongkar bahaya timbal bagi lingkungan ini ditekan, dicabut pendanaannya, bahkan diintimidasi oleh korporasi minyak. Dan ketika Patterson tidak goyah, perusahaan minyak menyewa beberapa ilmuwan untuk "membuktikan" bahwa Patterson keliru.

Ini bukan satu-satunya kasus. Ada banyak kasus lain di mana ilmuwan mengabdi pada kepentingan korporasi: berusaha menunjukkan bahwa "bahan pangan yang telah dimodifikasi secara genetis, GMO, tidak berbahaya", atau "bahwa pemanasan global belum terbukti secara ilmiah". Dari dalam negeri kita dapati beberapa ilmuwan yang berusaha menyelamatkan perusahaan Aburizal Bakrie dari kewajiban membayar ganti rugi pada masyarakat dengan berargumen "murni bencana" dan "bukan kesalahan metode eksplorasi".

Kalau ilmuwan sudah mengabdi kepentingan korporasi, salahkan orang awam ketika tidak percaya sains?

Praktek tutup mulut yang dilakukan pemerintah, bahkan juga seringkali masuk ke ranah pembelokan informasi, juga berpengaruh dalam membuat banyak orang tidak lagi percaya sumber berita yang "mainstream". Ini menyebabkan banyak orang yang kritis mengalihkan sumber informasinya dari ranah mainstream. Sayangnya, tanpa kemampuan sains yang memadai, justru orang-orang ini terjebak pada situs-situs berita hoax yang membungkus beritanya sebagai "alternatif". Tanpa kemampuan sains memadai, orang-orang yang sebenarnya kritis ini tidak mampu membedakan mana situs atau sumber berita alternatif yang kredibel--dan mana yang hoax. 

Delia Mocanu, dari Northeastern University, Boston telah memimpin penelitian mengenai hal ini. Penelitiannya, yang dilakukan pada mereka yang berselancar di Facebook, menunjukkan bahwa penikmat situs-situs hoax adalah mereka yang tidak percaya media mainstream. Lebih dari itu, penelitiannya juga menunjukkan bahwa sebagian besar penikmat hoax adalah juga orang-orang yang percaya Teori Konspirasi. 

Hasil yang disebut belakangan ini memiliki konsekuensi politik yang besar--karena tingkat kepercayaan orang pada Teori Konspirasi ternyata berhubungan erat dengan tingkat kemampuan seseorang untuk mengendalikan arah hidupnya sendiri. Orang yang mengadakan penyelidikan tentang hal ini adalah Jan-Willem van Prooijen, Associate Professor pada VU University, Amsterdam.

Dalam penelitian yang dirilis tahun 2015 setelah diadakan selama enam tahun, van Prooijen menunjukkan bahwa Teori Konspirasi akan bermunculan dalam suasana yang dipenuhi ketidakpastian, krisis atau banyaknya bencana alam. Orang yang berusaha menggapai kepastian lari pada Teori Konspirasi karena menyediakan pihak yang harus disalahkan atas ketidakpastian yang mereka alami. Namun, dari sisi positif, penelitian van Prooijen juga menunjukkan bahwa orang-orang yang punya kepercayaan diri dalam mengendalikan arah hidupnya ternyata lebih kebal dari Teori Konspirasi.

Hoax adalah Masalah Sosial, bukan Masalah Individu

Uraian di atas menunjukkan bahwa sedikitnya tiga faktor yang berkontribusi besar akan meledaknya fenomena hoax di seluruh dunia:

  1. Model pendidikan yang tidak berusaha membongkar cara berpikir lama, sebelum memperkenalkan cara berpikir sains;
  2. Ilmuwan yang mengabdi kepentingan korporasi, dan pemerintah yang tidak transparan pada rakyatnya; serta
  3. Ketidakpastian sosial dan rasa tidak berdaya orang yang diombang-ambingkan kehidupan.

 Tanpa mengatasi ketiga  masalah ini secara mendalam, hoax akan terus merajalela di muka bumi.

 

Referensi:

 

 

Mengintip Isi Kepala Seorang Pembenci
Mengintip Isi Kepala Seorang Pembenci
Silakan berlangganan pada layanan Newsletter kami, untuk mendapatkan kabar apabila ada artikel baru yang diunggah.

"Jauh lebih baik memahami alam raya ini sebagaimana adanya ketimbang bersikeras bertahan dalam khayalan, betapapun nyamannya khayalan itu."

Carl Sagan