Mengintip Isi Kepala Seorang Pembenci

Kala Kebencian Merajalela

Kimia dan Kehidupan
Typography

Penilaian: 0 / 5

Nonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan Bintang
 

Jauh di masa lalu, ketika manusia masih hidup dalam kelompok-kelompok kecil yang berburu berpindah-pindah, kemampuan mengenali kawan dari lawan adalah salah satu ketrampilan sosial yang penting. Di jaman di mana peradaban belum lagi lahir, gagal mengenali lawan bisa berujung maut. Agar ketrampilan sosial yang vital ini bisa diajarkan dengan cepat, ia pun disederhanakan: kawan itu baik, lawan itu jahat. Sial bagi kita, pranata sosial, yang dikembangkan untuk kelangsungan hidup itu, kita warisi sampai sekarang dalam bentuk prasangka. Untungnya, kita sekarang juga memiliki sains; yang tengah bekerja keras untuk membongkar mekanisme yang menghasilkan prasangka dan kebencian terhadap "orang luar" ini.

Kebanyakan dari kita tidak sadar bahwa respon "membedakan orang dalam dan orang luar" terjadi secara otomatis dalam otak kita. Tidak ada satu pun di antara kita yang kebal dari potensi menjadi seorang pembenci. Beberapa eksperimen ilmiah telah dilakukan untuk membuktikan bahwa, di bawah sadar kita, pandangan kita terhadap "orang luar" berpotensi mengandung bias negatif. Salah satunya adalah eksperimen yang dilakukan David Amodio, pakar psikologi bias antar-kelompok di New York University.

amygdala
Eksperimen Amodio menunjukkan bahwa imaji akan mereka yang memiliki identitas berbeda (warna kulit, budaya) otomatis merangsang bagian otak yang disebut amygdala. Amygdala adalah komponen otak yang berfungsi menentukan tingkat ancaman. Reaksi otomatis amygdala terhadap sesuatu yang "asing", ternyata, adalah menganggap itu ancaman. Logika evolusinya adalah: lebih baik salah anggap sesuatu sebagai ancaman, karena terlambat menyadari adanya ancaman berarti tidak akan sempat menyesal. Sinyal dari amygdala akan mengaktifkan hippotalamus, komponen otak yang berfungsi mengaktifkan respon fight or flight alias tawur atau kabur. Jika respon kabur yang muncul, kita akan menjauh dari ancaman itu. Jika tawur, tubuh kita akan disiapkan untuk berkelahi dan inhibitor sosial (mekanisme pengatur perilaku sosial manusia) akan dinonaktifkan.

Evolusi berjalan dalam proses yang nyaris tak kasat mata, karena merayap perlahan selama ratusan ribu bahkan jutaan tahun. Manusia baru mengenal peradaban kurang-lebih 10.000 tahun terakhir, dan baru mengenal globalisasi dalam kurun kurang dari satu abad. Percepatan budaya ini, yang membuka keterasingan satu kelompok dari kelompok lain, berlangsung terlampau cepat untuk dikejar oleh mekanisme biologis yang ada di balik layar evolusi.

Namun, masih ada harapan, karena amygdala bukan hanya mengurusi penilaian ancaman; ia juga merupakan unsur penting dalam proses pembelajaran dan pemilahan memori yang akan disimpan dalam otak. Sekalipun amygdala nampaknya memiliki beberapa respon primitif, yang terkode ke dalam DNA, ia memiliki plastisitas--yakni kapasitas untuk disusun ulang lewat pembelajaran. Sederhananya: orang bisa berlatih untuk menaklukkan rasa takutnya. Contohnya saja, banyak orang takut berenang; namun, dengan pelatihan yang tepat, mereka akan bisa bahkan mahir berenang.

Frontal Lobes
Di samping itu, amygdala selalu bekerja rapat dengan korteks depan (frontal cortex) yang berfungsi membuat keputusan rumit, sekalipun bermodalkan sedikit data. Dapat dikatakan, korteks depan adalah pusat "kecerdasan" manusia. Dapat dibilang, korteks depan inilah yang merupakan satu-satunya keistimewaan yang diberikan alam pada manusia. Manusia tidak diberi kaki tercepat, otot terkuat, mata terawas, gigi atau kuku yang tajam. Ia diberi kecerdasan, diberi korteks depan yang berkembang paling sempurna di antara semua mahluk hidup yang pernah mampir ngombe di atas bumi. Dengan kecerdasannya, manusia bisa belajar, mengubah prilakunya, mengubah kawan jadi lawan, atau sebaliknya: lawan jadi kawan. Singkatnya: lewat kecerdasanlah manusia bisa menaklukkan rasa takut.

Maka, persoalan umat manusia kini adalah mengenali apa saja hal yang ditakuti manusia secara sosial, apa yang membuat satu orang takut pada orang lain. David Rock, seorang doktor neurosains dari Middlesex University, membuat model SCARF untuk menggambarkan ketakutan ini: status, certainty, autonomy, relatedness, fairness. Setiap orang mendambakan status sosial, harga diri. Ketika kondisi sosial manusia menghancurkan harga diri individu, ia akan dicekam ketakutan. Demikian pula orang akan menjadi takut ketika berhadapan dengan ketidakpastian, atau ketika ia tidak berdaya untuk menentukan nasibnya sendiri, terasing dari manusia lain, atau diperlakukan dengan cara yang dianggapnya tidak adil. Dr. Rock telah menunjukkan bahwa ketakutan sosial ini dapat memicu respon yang sama dengan yang terjadi ketika berhadapan dengan ancaman fisik, seperti bertemu harimau atau dikepung api.

Jadi, untuk mengatasi masalah ketakutan pada manusia lain yang dianggap berbeda, secara pribadi kita harus menaklukkan ketakutan sosial kita; sekaligus membangun kondisi sosial yang memberikan jaminan harga diri, kepastian memadai untuk masa depan, kemampuan menentukan nasib sendiri, rasa persaudaran antar sesama manusia dan ditegakkannya keadilan.

Ini bukan tugas mudah. Kita berhadapan dengan satu situasi yang justru memperkuat ketakutan-ketakutan sosial itu. Kita menyaksikan ketimpangan peradaban, di mana satu bagian dunia (atau sekelompok orang) nampak menikmati semua manfaat dari "kemajuan" sementara yang lain merana dan tertatih mengais hidup di tengah gempita pembangunan. Sejak akhir abad lalu, kita mulai terserang krisis ekonomi yang terjadi beruntun-runtun, serta rentetan bencana alam yang nampaknya tidak juga ada redanya sekalipun doa telah dipanjatkan berulang-ulang--semua ini menggerus kepastian akan masa depan, kemampuan menentukan nasib sendiri, bahkan juga harga diri. Dan semua itu bertumpuk, menyerang rasa keadilan: kenapa saya yang harus menderita, bukan yang lain?

Semua itu membuat umat manusia rentan terhadap apa yang, oleh Erich Fromm, disebut "kebencian yang dikondisikan". Dalam hal ini, seorang manusia masuk dalam kelompok sosial yang membanjirinya dengan input pemicu ketakutan. Ini ironis. Wajar bila dua orang yang ketakutan berkumpul untuk saling meredakan ketakutan. Konon, satu orang takut tambah satu orang takut hasilnya adalah dua orang setengah takut. Tapi, yang sebaliknya juga bisa terjadi, di mana orang-orang takut berkumpul, mereka saling menakut-nakuti. Bayangkan jika hari-harimu hanya diisi dengan keluhan, cacian, makian. Pada satu titik, "kebencian yang dikondisikan" muncul dalam bentuk delusi.

homer-simpson-delusional
Delusi adalah satu kepercayaan yang tidak akan dapat digoyahkan sekalipun fakta dan bukti menunjukkan kebalikannya. Ia menolak fakta; jika fakta sudah tidak bisa ditolak, ia akan memuntir fakta agar sesuai dengan kepercayaannya. Delusi, dalam taraf ringan sering terjadi pada semua orang; karena mengakui bahwa diri kita salah itu berat. Contoh ringan: sudah dibilang, "Jangan pacaran dengan orang itu karena dia terkenal tukang selingkuh," masih nekad dan akhirnya garuk-garuk aspal karena diselingkuhi. Namun, dalam hal "kebencian yang dikondisikan" delusi menjadi tulang punggung.

Dr. Gerald Wiviott, profesor psikiatri orang dewasa dari McGill University, menguraikan beberapa ciri dari kelompok yang mengidap "kebencian terkondisikan":

  1. Menggantikan realitas dengan perspektif yang rabun dan ritual kelompok;
  2. Memandang semua orang yang tidak sepaham sebagai iblis, berdosa atau hina;
  3. Memandang hina peran perempuan di ruang publik, membatasi perempuan hanya di ruang domestik;
  4. Obsesi akan surga dan konsep kehidupan setelah kematian;
  5. Membaca teks secara harafiah, tanpa memberi ruang untuk perdebatan.

Namun, menurut Dr. Wiviott, yang terpenting adalah hilangnya kemampuan untuk berempati. Empati adalah menempatkan diri kita pada posisi dan cara pandang orang lain. Untuk dapat berempati, seseorang harus memiliki kapasitas untuk berpikiran terbuka, tidak menghakimi, penghormatan terhadap keunikan masing-masing cara pandang. Seorang pembenci telah mengasah amygdala-nya dengan ketakutan, merangsang korteks depannya dengan penghakiman pada orang lain, dan mengkondisikan hippotalamusnya untuk bersikap agresif terhadap segala sesuatu yang tidak sesuai dengan apa yang dia percayai sebagai "kebenaran".

Jadi, untuk "menyembuhkan" kebencian sosial, kita perlu pendekatan yang holistik. Secara sosial, penyebab munculnya ketakutan dalam diri individu atau kelompok harus dikikis. Dan secara individu, kita harus menyuburkan kemampuan berempati. Kita harus membuka pikiran, wawasan manusia. Kita harus menanamkan penghormatan terhadap pemikiran yang berbeda. Dan kita harus mengasah kecerdasan agar mampu menemukan terobosan bagi masa depan yang lebih cerah.

Referensi:

 

Silakan berlangganan pada layanan Newsletter kami, untuk mendapatkan kabar apabila ada artikel baru yang diunggah.

"Seni mengajar paling agung adalah bagaimana membangkitkan semangat untuk berekspresi kreatif dan menggali ilmu pengetahuan."

Albert Einstein