Puasa, Saatnya Hidup Sehat

Diagram proses ketosis

Kimia dan Kehidupan
Typography

Penilaian: 0 / 5

Nonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan Bintang
 

Tradisi berpuasa sudah ada sejak peradaban Manusia mulai ada di muka bumi. Tak terhitung teks kuno yang memuji manfaat berpuasa--termasuk dari karya Hippocrates, bapak ilmu kedokteran, dan Plutarch, pujangga besar Romawi. Hippocrates bahkan menyebut puasa sebagai "dokter dalam tubuh". Bagaimana puasa bisa mendatangkan manfaat? Kuncinya ada pada proses yang disebut ketosis.

Normalnya, tubuh manusia mengambil energi dari gula yang disimpan dalam darah. Gula darah ini adalah hasil utama dari proses metabolisme tubuh manusia, mekanisme utama manusia untuk menyimpan energi. Gula darah (alias glikogen) ini terutama dihasilkan dari pengolahan makanan yang mengandung karbohidrat. Proses pengambilan energi dari glikogen ini, yang disebut glikosis, adalah kunci bagi aktivitas manusia dalam jangka panjang. 

Namun manusia tidaklah mengalami proses evolusi untuk dapat menyimpan glikogen dalam jumlah banyak. Ketika nenek-moyang kita masih hidup di padang-padang rumput Afrika, mereka tidak punya kesempatan untuk mendapatkan cukup karbohidrat. Sumber karbohidrat utama di padang rumput adalah rumput (tentu saja!), dan sistem pencernaan manusia tidaklah sanggup mengolah rumput menjadi karbohidrat. Ketika manusia masih terkunci dalam peradaban berburu mengumpul, sumber utama karbohidrat adalah dari daging buruan dan buah-buahan yang dikumpulkan--proses yang tidak selalu dapat memastikan asupan karbohidrat yang memadai. Dalam proses evolusinya, manusia hanya sanggup menghasilkan kemampuan menyimpan glikogen senilai 2000 kalori. 

Situasi berubah ketika manusia berhasil keluar dari Afrika dan mulai menyebar ke seluruh penjuru bumi. Salah satu perubahan terbesar terjadi ketika manusia menemukan bahwa beberapa jenis rumput dapat dijinakkan, dan bijiannya dimakan. Sejak manusia menemukan pertanian, asupan karbohidratnya pun terjamin. 

Namun demikian, tubuh manusia masih belum dapat beradaptasi dengan asupan karbohidrat yang banyak ini. Pertanian baru berusia 10-12 ribu tahun saja, tidak cukup lama untuk dapat menghasilkan adaptasi evolusioner agar tubuh manusia dapat menyimpan lebih banyak glikogen. 

Karenanya, kecukupan asupan karbohidrat ini justru menimbulkan bahaya bagi tubuh manusia. Kelebihan asupan karbohidrat tidak lagi disimpan sebagai glikogen, tapi ditumpuk dalam lemak. Bukannya menjadi lebih berenergi, manusia malah jadi makin berlemak. 

Di masa lalu, ketika aktivitas fisik berat masih menjadi bagian kehidupan sehari-hari manusia, kelebihan lemak ini masih dapat diatasi dengan kerja berat. Namun, kehidupan modern yang nyaman seperti sekarang, di mana kerja fisik berat makin berkurang, tidak memberi banyak kesempatan untuk membakar kelebihan lemak tubuh. 

Di sinilah puasa memainkan peran penting. Dengan berpuasa, asupan karbohidrat dibatasi--bahkan ditiadakan. Dengan dibatasinya asupan karbohidrat, tubuh akan lekas kehabisan cadangan glikogennya yang hanya 2000 kalori itu. Dan ketika cadangan glikogen habis, tubuh akan menukar mekanisme glikosis menjadi ketosis--membakar lemak tubuh untuk menghasilkan energi. 

Proses peralihan glikosis menjadi ketosis ini memakan waktu 48 jam. Dalam 48 jam ini, tubuh harus berada dalam keadaan kekurangan karbohidrat secara tetap--jika proses ini diinterupsi oleh asupan karbohidrat, tubuh akan segera mengaktifkan kembali mekanisme glikosis. Ini logis karena, secara evolusi, ketosis adalah proses darurat untuk menjaga manusia tetap hidup sekalipun gagal menemukan buruan atau mengumpulkan buah-buahan. Ketosis juga tidak akan berjalan apabila tubuh mendapat asupan lemak. Tentu saja tubuh akan memilih mengolah lemak dari luar ini ketimbang menguras cadangan lemak dalam tubuhnya sendiri. 

Ketosis inilah yang memberi manfaat puasa bagi tubuh manusia--terutama manusia modern, dengan cara mengembalikan keseimbangan dalam tubuh, yang rusak akibat terlalu banyaknya asupan karbohidrat. 

Namun, tidak semua proses berpuasa akan memberi manfaat bagi tubuh--yakni apabila proses ketosis gagal dipicu. Selama berpuasa, asupan karbohidrat dan lemak harus sangat dibatasi--terutama dalam tiga hari pertama. Setelah tiga hari pertama ini lewat, asupan karbohidrat dan lemak dapat ditingkatkan asal totalnya tidak mendekati 2000 kalori--karena, begitu tubuh kembali dapat menyimpan cadangan glikogen, proses ketosis pun dihentikan.

Berpuasa adalah ritual yang sejak peradaban kuno telah digunakan untuk mengembalikan keseimbangan metabolisme tubuh--tapi ini hanya dapat diraih apabila pelaku puasa berdisiplin membatasi asupan karbohidrat dan lemak selama berpuasa. Jika di siang hari asupan karbohidrat dan lemak dibatasi, tapi di malam hari asupan ini dinikmati berlebihan, bukan saja manfaat kesehatan ini tidak akan terbit--malah metabolisme tubuh akan makin tak seimbang karena lemak dan karbohidrat normalnya tidak dapat diolah dengan baik di malam hari. 

Selamat berpuasa, selama ber-ketosis. Mari seimbangkan lagi metabolisme tubuh kita agar sejalan dengan takdir yang telah dituliskan bagi manusia oleh evolusinya.

Referensi:

http://www.greekmedicine.net/hygiene/Fasting_and_Purification.html

 

Silakan berlangganan pada layanan Newsletter kami, untuk mendapatkan kabar apabila ada artikel baru yang diunggah.

"Keangkuhan moral adalah hal yang sangat merusak."

Mary Douglas