Mau Bahagia? Makan Sambal!

Cabai pembawa bahagia

Kimia dan Kehidupan
Typography

Penilaian: 0 / 5

Nonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan Bintang
 

Belakangan, fenomena rumah makan yang menyajikan sambal super pedas merajalela di tanah air. Dan semua nampak laris-manis. Masing-masing pun berlomba menyajikan hidangan yang membuat penikmatnya bersimbah peluh walaupun ruangan makan didinginkan dengan AC. Mengapa orang rela membayar begitu mahal hanya untuk dibuat kepedasan? Ternyata cabe mengandung zat yang memicu kebahagiaan.

Telah ditemukan bahwa cabe mengandung satu zat yang disebut capsaicin. Zat ini adalah asam yang larut dalam minyak, dan cabe adalah satu-satunya jenis tanaman yang diketahui memproduksi zat ini. Capsaicin inilah yang menghasilkan sensasi terbakar pada lidah, rasa pedas khas cabe yang kita tahu sangat berbeda dari pedasnya merica alias lada. 

Keistimewaan capsaicin adalah bahwa zat ini memicu otak manusia untuk memproduksi endorfin. Endorfin inilah hormon yang seringkali disebut sebagai "hormon kebahagiaan", karena diproduksi ketika manusia mengalami hal-hal yang menyenangkan. Telah diketahui bahwa otak manusia memproduksi endorfin dalam jumlah banyak ketika jatuh cinta. Endorfin berfungsi (dan berstruktur) nyaris serupa dengan morfin, dan merupakan zat penawar sakit yang sangat ampuh. Di luar cabe dan capsaicin-nya, zat lain yang diketahui dapat memicu produksi endorfin dalam otak adalah coklat--namun capsaicin masih jauh lebih unggul dalam hal potensi pemicu endorfin.

Jika kamu baru putus cinta, mendapat nilai jelek, atau dimarahi bos di depan semua rekan kerja, tidak usah lari ke narkoba. Makanlah cabe. Alam sudah menganugerahi kita dengan tanaman pembawa kebahagiaan ini. Selamat berkeringat, semoga kamu berbahagia. 

Referensi:

http://whatscookingamerica.net/JaneButel/ChilePepper-Science.htm

 

Silakan berlangganan pada layanan Newsletter kami, untuk mendapatkan kabar apabila ada artikel baru yang diunggah.

"Ketakutan merupakan akar dari kebencian pada orang lain, dan kebencian di dalam hati pada akhirnya akan menghancurkan si pembenci sendiri."

George Washington Carver