Inilah Cara Ilmiah untuk Berkhayal

falsememory

Kimia dan Kehidupan
Typography

Penilaian: 0 / 5

Nonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan Bintang
 

Tahun baru. Biasanya kita merenungkan apa yang sudah kita capai selama setahun yang lewat dan mulai membuat rencana untuk rentang setahun ke depan. Menengok ke belakang dan memandang jauh ke depan--dua aspek yang dengan jitu oleh orang Romawi diperlambangkan sebagai dewa Janus, dewa dengan dua wajah. Yang mereka tidak tahu adalah bahwa kedua aktivitas ini melibatkan proses kreatif yang serupa pada otak.

Reka Ulang Ingatan

Kita sering membayangkan ingatan kita sebagai sebuah perpustakaan. Ingatan akan pertandingan final sepakbola yang menegangkan ada di rak ini, kenangan akan mantan yang kini sudah menikah ada di lorong yang sana. Sering juga ingatan kita dibandingkan dengan sebuah cakram keras komputer. Tiap peristiwa menjadi satu file yang disimpan dengan nama dan ekstensi tertentu. Baik sistem perpustakaan maupun komputer menggunakan sistem bundel untuk menyimpan satu keping kenangan.

Namun, ternyata tidak demikian adanya. Proses "mengingat" melibatkan empat tahap pengolahan data:

1. Pengkodean:

Masukan dari indera kita diolah dalam thalamus dan frontal lobe, dipilah menurut sumber dan diteruskan ke dalam sensory cortex untuk dikodekan. Emosi kita ketika mengalami peristiwa tersebut akan memicu amygdala untuk memberi sinyal bahwa peristwa itu penting untuk disimpan. Adanya sinyal dari amygdala memperbesar peluang satu peristiwa disimpan dalam memori jangka panjang. Baru setelah semua masukan ini komplit, hippocampus akan menyatukannya menjadi satu pengalaman lengkap. Hippocampus membandingkan pula masukan baru dengan memori yang telah tersimpan sebelumnya, yang dipasok dari rhinal dan enthorinal cortex.

Proses pengkodean ini belum sepenuhnya dipahami; namun setidaknya ada empat bidang utama untuk dikodekan: akustik (menyangkut bunyi), visual (menyangkut gambar), taktil (menyangkut sentuhan dan rasa) serta semantik (menyangkut makna dan konteks). Yang saat ini diketahui, pengkodean semantik amat penting bagi penyimpanan memori jangka panjang.

2. Konsolidasi

Konsolidasi memori dilakukan dengan membangun (menumbuhkan) jalur data dalam otak--dalam hal ini berupa koneksi antar neuron dalam otak. Satu keping data dapat terhubung dengan banyak keping data lain--misalnya "hitam" (sebuah kode semantik) dapat terhubung dengan "malam" (semantik), "bunyi jangkrik" (akustik), "gelap" (visual), juga dengan "dingin" (taktil). Semakin banyak ragam pengalaman kita, makin banyak jejalur neuron yang terbangun dari dan menuju satu keping data.

Jika satu kepingan data dianggap sangat penting (karena banyak jalur neuron dari dan kepadanya), otak akan membangun struktur protein yang disebut synapse. Terbangunnya sinapse akan membuat satu keping data lebih permanen dan mudah diakses untuk ingatan di kemudian hari.

Seperti kita lihat, konsolidasi membutuhkan keragaman pengalaman. Satu keping data, yang hanya didapat dari satu konteks mungkin akan dapat kita hapal dalam jangka pendek; namun, karena data ini tidak punya banyak koneksi neuron, dalam jangka panjang ia akan dianggap tidak cukup berharga untuk dipertahankan.

3. Penyimpanan

brain-memoryProses Konsolidasi telah menempatkan kepingan data dalam jejaring jalur neuron, jadi apa yang disimpan sebagai "ingatan" dalam otak? Tidak lain adalah pola atau peta jalur tersebut.

Dengan demikian, satu peristiwa akan terhubung dengan komponen-komponennya secara timbal-balik. Kita akan ingat wajah mantan jika ingat satu peristiwa atau tempat kencan spesial dulu. Sebaliknya, satu lagu atau aroma tertentu dapat membangkitkan kenangan masa kecil yang bahagia.

Metode penyimpanan ini sangat efektif, karena satu keping data dapat digunakan berulang-ulang dalam berbagai "ingatan". Data tentang wajah sang mantan di atas dapat digunakan berulang kali dalam ingatan untuk berbagai peristiwa. Kenangan akan kenaikan kelas dari mulai kelas 1-6 SD dapat ditekan kebutuhan ruang penyimpanannya, karena kenangan-kenangan ini berbagi sebagian besar komponennya. Bandingkan ruang penyimpanan yang dibutuhkan (dalam hal ini, energi untuk menumbuhkan synapse) jika masing-masing peristiwa disimpan terpisah--sebagaimana jika kita membuat dokumentasi video.

Efisiensi ini penting mengingat otak kita menghabiskan sekitar 20% dari konsumsi energi total tubuh kita--sebagian besar untuk proses pembuatan synapse. Tanpa penghematan dalam sistem penyimpanan, kebutuhan energi otak tidak akan terpenuhi--atau justru bagian tubuh lain akan kekurangan energi akibat tersedot oleh otak.

4. Pengingatan

Jika data komponen disimpan terpisah dari data tentang peta-jalan, maka proses pengingatan merupakan proses rekonstruksi data. Jadi bukan seperti mengambil buku atau video dari perpustakaan--yang merupakan proses reproduksi; di mana ingatan akan sama pesis dengan kejadian yang diingat. Karena prosesnya adalah rekonstruksi, tentu rekonstruksi tidak terjadi dengan sempurna. Hanya hal-hal yang paling penting saja yang diingat (sesuai masukan dari amygdala, seperti telah disebut di atas).

Maka bisa jadi kita tidak ingat busana apa yang dipakai pasangan kita ketika merayakan hari jadian/nikahan tahun lalu--ini berarti busana tersebut tidak menimbulkan emosi yang cukup untuk memicu amygdala mengeluarkan sinyal "Penting!", agar otak menumbuhkan synapse. Tapi jika penampilan pasangan kita begitu "wow", kita pasti ingat busana yang dikenakannya sampai ke detil-detilnya.

Fitur rekonstruksi inilah yang menjadi ciri khas memori manusia--yang memberinya keunggulan sekaligus kelemahannya yang utama.

Kelemahan dulu: karena sifatnya rekonstruksi, nyaris tidak ada ingatan yang "lengkap" dan "objektif". Karenanya satu kesaksian berdasar ingatan (yang biasa disebut "anekdot") tidak dapat diterima mentah-mentah tanpa koroborasi (pembuktian silang) dari beragam saksi lain yang saling independen.

falsememoryPrinsip koroborasi independen ini sudah lama diketahui orang; ranah hukum dan ilmu pengetahuan telah lama menggunakannya. Sayang sekali, dalam ranah kehidupan yang lain, prinsip ini banyak diabaikan. Kita sering langsung percaya gosip dan kasak-kusuk (a.k.a. intrik) tanpa mencoba menggali lebih jauh fakta di balik "kesaksian" bersangkutan. Dengan mengetahui bahwa tidak ada memori yang "objektif", kita tentu akan lebih waspada dengan segala macam "kesaksian" yang tidak dapat dikoroborasi.

Kekecualiannya tentu ada. Saat ini, ada 25 orang di dunia ini yang telah dibuktikan memiliki apa yang disebut hyperthymesia. Ini adalah kasus khusus di mana orang-orang bersangkutan tidak dapat melupakan apa yang pernah dilihat atau didengarnya. Ini kasus yang sangat jarang karena, dari 7 milyar penduduk dunia, hanya 0,0000035% yang memiliki ingatan sempurna macam ini.

Kelemahan lain dari sistem rekonstruksi ini adalah kerentanannya terhadap manipulasi. Manipulasi ini bisa datang dari emosi, yang bisa membuat seseorang merepresi memorinya secara tidak sadar--misalnya kenangan masa kecil yang buruk, yang kini hanya bisa diingat samar-samar. Manipulasi bisa juga datang dari sugesti--yang menanamkan "ingatan palsu". Contohnya, sekalipun kita tidak pernah berinteraksi dengan orang berkeyakinan lain, atau sekalipun interaksi kita baik-baik saja, jika kita terlalu banyak mendengarkan kaum takfiri, kita akan "mengingat" orang berkeyakinan lain sebagai musuh. Ini ingatan palsu, hasil dari sugesti--yang dalam politik disebut "propaganda".

Mengetahui adanya kelemahan ini, dokumentasi dan penggalian fakta sekali lagi akan menolong kita. Dengan bantuan dokumentasi, kita bisa membandingkan semua yang kita dengar dan lihat, bahkan juga yang kita "ingat", dengan dokumentasi yang tersedia. Penggalian fakta adalah langkah berikutnya, karena propaganda (bahkan juga fitnah) dapat menyaru sebagai dokumentasi. Koroborasi, uji silang, dengarkan semua pihak; inilah yang perlu kita lakukan agar mendapatkan ingatan yang seobjektif mungkin.

Lalu, dengan semua kelemahan ini, apa keunggulan yang membuat ingatan manusia mampu membawa Homo sapiens menjadi spesies dominan di muka bumi?

Keunggulannya cuma satu, tapi telak: imajinasi.

Otak yang Terus Berkembang

Kelemahan yang telah kita tinjau di atas, ternyata, merupakan "harga" yang dibayar manusia untuk memiliki sebuah otak yang memiliki potensi untuk terus berkembang. Dulu orang mengira bahwa perkembangan otak hanya terjadi di masa kanak-kanak; lalu berhenti setelah dewasa. Ternyata tidak demikian. Otak memiliki sifat plastis, yakni terus dapat diubah.

Ada satu keuntungan terbesar dari sini, yakni kemampuan untuk terus belajar (selama hayat dikandung badan); yang pada gilirannya akan bermuara pada kemampuan untuk beradaptasi terhadap lingkungan yang berubah.

Neurons-Constantly-Rewrite-their-DNAKemampuan untuk terus belajar ini sangat berguna untuk bertahan hidup. Di jaman modern ini, semua orang tahu: ada masa apes dalam hidup di mana karir mentok. Ada kalanya kita harus banting setir. Yang namanya "banting setir" tentu menuntut kembali belajar dari nol. Manusia mampu melakukan ini. "Banting setir" adalah perubahan, kemampuan manusia untuk terus belajar memberinya peranti yang vital untuk bertahan hidup.

Dalam skala individu, kita bisa mengubah cara pandang, belajar keterampilan baru, bahkan mengubah cara hidup, jika bertemu perubahan. Ketika divonis menderita diabetes, kita belajar menjalani hidup dengan cara-cara baru. Jika kita berhasil dalam proses pembelajaran ini, kita akan tetap dapat menikmati umur panjang sekalipun dalam bayang-bayang penyakit mematikan. Kita bisa mengubah cara pandang kita ketika pemerintahan berganti. Di bawah Nawacita dari Presiden Jokowi, misalnya, kita tentu harus mengubah cara kita hidup bermasyarakat: dari yang tak peduli jadi peduli, dari yang korup menjadi jujur, dari yang tidak toleran menjadi toleran. Bahkan yang ingin mempertahankan korupsinya pun harus mencari cara baru agar tetap bisa korup.

Dalam skala besar, manusia bisa berubah ketika menghadapi perubahan iklim, misalnya. Tanpa kemampuan untuk berubah, manusia akan punah; tanpa kemampuan untuk belajar, rentang sejarah manusia akan jauh lebih pendek dari dinosaurus--yang bertahan hidup ratusan juta tahun sekalipun otaknya kecil.

Pada tahap tertentu semua hewan memiliki sifat plastis pada otaknya. Tapi tidak ada yang memiliki plastisitas sebesar manusia. Anjing dapat dilatih, misalnya, untuk menjaga rumah. Tapi, kapasitas plastis yang besar pada manusia memungkinkannya untuk merekombinasi memorinya. Artinya, kepingan-kepingan data pada memori dapat disusun ulang secara sengaja agar menghasilkan gambar dan pengalaman yang sama sekali baru.

Coba tutup matamu dan bayangkan sebutir apel. Mudah, kan? Karena kita sudah pernah makan apel atau, setidaknya, melihat gambar sebutir apel. Tapi coba tutup lagi matamu dan bayangkan sebutir buah khuldi. buah terlarang yang konon membuat Adam dan Hawa diusir dari surga. Apa yang ada dalam bayanganmu? Sebutir apel? Atau sebutir durian? Atau perpaduan dari fitur banyak ragam buah-buahan?

Cara otak mengingat, melalui reka ulang, membuat kita bisa memadu-padan berbagai komponen memori dalam bentuk baru. Sebuah lagu, betapapun indah dan rumit komposisinya, hanya terdiri dari tujuh nada. Jumlah kord dan skema progresi juga ada batasnya. Tapi daya plastis otak memungkinkan kita menyusun nada-nada itu dalam bentuk yang selalu baru dan segar; entah sudah berapa "lagu baru" tercipta selama peradaban manusia--dan semuanya terdiri hanya dari susunan tujuh nada.

Inilah yang seringkali kita kenal sebagai "kreativitas". Sebagaimana kita lihat, kreativitas menempuh jalan yang serupa dengan ingatan: pengumpulan data, konsolidasi data, pemilihan data untuk disimpan dan rekonstruksi. Hanya saja, proses rekonstruksi data ini dilakukan dengan cara sedikit berbeda; karena tidak dilakukan dengan mengambil "peta jalan" yang lama--melainkan dengan membangun peta jalan yang baru.

Pembangunan peta jalan baru ini membutuhkan kerja sama dari tiga jejaring syaraf otak, yang baru saja mulai diselidiki oleh para ahli:

1. Jejaring Executive Attention, yang bekerja untuk memusatkan perhatian pada masalah yang sedang dihadapi. Jejaring ini melibatkan komunikasi intensif antara bagian luar prefrontal cortex dan bagian belakang parietal lobe.

cortex

limbic

2. Jejaring Default-Imagination. Merupakan bagian yang aktif dalam rekonstruksi data memori otak, sekaligus dalam hal kognisi sosial. Jejaring ini melibatkan bagian dalam prefrontal cortex, bagian tengah temporal lobe dan bagian depan parietal lobe.

Gambar di bawah: Jejaring Executive Attention (hijau) dan Imaginasi (merah).

executive-imagination network

3. Jejaring Salience, merupakan bagian yang memonitor lingkungan sekitar ketika kita sedang memusatkan perhatian pada satu tugas tertentu; sekaligus merupakan saklar untuk mengaktifkan kedua jejaring lainnya. Jejaring ini melibatkan dorsal anterior cingulate cortices dan anterior insular.

Salience-300x80

Seperti kita lihat, Jejaring Imajinasi tidak dapat bekerja sendirian. Tanpa Jejaring Eksekutif, untuk memusatkan data, Jejaring Imajinasi bisa kelebihan informasi. Apapun yang berlebihan tidaklah baik; kelebihan informasi ini memperbesar kemungkinan otak gagal membangun satu gambar baru yang utuh--dengan kata lain, melantur.

Para jenius dari segala jaman tahu cara terbaik untuk mendapatkan kreativitas: pusatkan perhatian dan tenaga untuk memecahkan satu persoalan, lalu pergilah bersantai. Ingat kisah bagaimana Archimedes menemukan hukum daya apung? Alkisah, dia begitu stress tidak dapat memecahkan masalah apakah mahkota sang raja benar terbuat dari emas murni; untuk mendinginkan kepala, dia pergi berendam. Ketika berendam itulah dia menyadari jawaban dari pertanyaan yang telah memusingkannya berhari-hari. Eureka! Kini kita tahu bahwa Archimedes telah menggunakan ketiga Jejaring Informasi dalam otaknya dengan efektif.

Mari Berkhayal dengan Produktif

Dapat kita lihat bahwa tidak semua khayalan itu berguna. Agar khayalan kita berguna, ada prinsip-prinsip ilmiah yang harus diperhatikan:

1. Semua informasi bersifat subjektif, terlebih yang berasal dari kesaksian (anekdot). Kekayaan data, keluasan pergaulan, mendengarkan semua pihak, adalah kunci untuk mendapatkan data yang berguna; agar kita menjadi manusia kreatif, bukan kerbau dicocok hidung.

2. Bekerjalah dengan tekun dan berkonsentrasi ketika menghadapi masalah, lalu bersantailah. Kerjakan sesuatu yang sama sekali berbeda, yang membuat tubuh dan jiwa rileks. Ketika bekerja tekun, bawah sadar kita akan memilih data yang relevan dengan masalah kita; dan ketika kita bersantai, koneksi antar data itu mulai dibangun. Sekali lagi, kekayaan data yang tersedia dalam memori otak akan menentukan apakah ide yang terbentuk akan menjadi ide yang tepat, atau hanya akan menjadi ide yang ngawur.

3. Ketika emosi sedang bergelora, keep calm. Emosi, sebagaimana kita lihat di atas, mempengaruhi amygdala untuk memberi sinyal "Penting" pada data. Ketika kita terlalu marah, sedih, bahkan juga terlalu jatuh cinta, pikiran kita sering melayang-layang ke mana-mana. Tentu saja, karena amygdala dipicu terlalu sering sehingga semua data ditandai "Penting". Jika kamu pernah melihat satu buku yang semua kalimat di dalamnya ditandai "penting" dengan stabilo, kamu akan tahu bahwa ini adalah cara terburuk untuk menyimpan (apalagi merekonstruksi) data. Di samping itu, emosi berlebih akan membuat kita sulit mendengarkan orang lain, terlebih yang kita pandang berseberangan. Ini akan semakin menjauhkan kita dari kesempatan memperlebar wawasan dan sumber data, yang kiranya akan penting bagi munculnya ide-ide kreatif. Marah, sedih, jatuh cinta tentu boleh--asal jangan berlebihan.

Keep Calm

Tiga langkah mudah dan ilmiah ini akan membantu kamu berkhayal dengan produktif.

Referensi:

 

Silakan berlangganan pada layanan Newsletter kami, untuk mendapatkan kabar apabila ada artikel baru yang diunggah.

"Alam semesta bukan saja lebih ajaib dari bayangan kita, tapi bahkan lebih ajaib dari apapun yang dapat kita bayangkan."

J.B.S. Haldane