Penilaian: 0 / 5

Nonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan Bintang

Baru-baru ini, kota Jakarta mendapatkan satu "penghargaan" level global: dinobatkan sebagai salah satu kota dengan kualitas udara terburuk di dunia. Penelitian Greenpeace dan AirVisual IQ yang dirilis pada bulan Maret 2019, atas kondisi udara berbagai kota besar di dunia, menempatkan Jakarta sebagai kota dengan polusi tertinggi di kawasan ASEAN. Memasuki Juni 2019, Jakarta malah melejit ke urutan nomor wahid dalam hal polusi; walau tidak konsisten berada di sana.

Gubernur DKI Anies Baswedan menyatakan akan menanam Lidah Mertua (Sansevieria hyacinthoides) untuk mengatasi soal polusi udara Jakarta ini. Apakah pendekatan ini sudah memadai? Adakah pendekatan lain yang lebih efektif?

Penilaian: 5 / 5

Aktifkan BintangAktifkan BintangAktifkan BintangAktifkan BintangAktifkan Bintang

HOAX!

Ini adalah jaman di mana hoax memenuhi media sosial. Dari mulai isu mengenai simbol palu-arit pada muka uang kertas Republik Indonesia, sampai munculnya kelompok-kelompok yang percaya bahwa bumi sebenarnya datar. Menariknya, banyak di antara para penyebar dan pendukung hoax ini adalah orang yang berkesempatan mengenyam pendidikan tinggi. Bagaimana mungkin orang yang sudah diajari ilmu pengetahuan malah mendukung dan menyebarkan hoax? Para peneliti pun tertarik dengan gejala ini dan mulai mengadakan penyelidikan mendalam. Temuan mereka menegaskan bahwa, sebelum kita menjadi Manusia, kita adalah pertama-tama bagian dari Dunia Hewan.

Penilaian: 0 / 5

Nonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan Bintang

Cyanobacteria

Manusia telah bermimpi pergi ke Mars sejak dua abad lalu. Kini kemungkinan itu terbuka lebar, sejak mendaratnya Viking dan Pathfinder di sana. Namun demikian, masih ada satu hambatan besar: tiadanya oksigen di Mars. NASA kini berharap bakteri dan ganggang bisa mengatasi halangan ini.

Penilaian: 0 / 5

Nonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan Bintang

Diagram proses ketosis

Tradisi berpuasa sudah ada sejak peradaban Manusia mulai ada di muka bumi. Tak terhitung teks kuno yang memuji manfaat berpuasa--termasuk dari karya Hippocrates, bapak ilmu kedokteran, dan Plutarch, pujangga besar Romawi. Hippocrates bahkan menyebut puasa sebagai "dokter dalam tubuh". Bagaimana puasa bisa mendatangkan manfaat? Kuncinya ada pada proses yang disebut ketosis.

Penilaian: 0 / 5

Nonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan Bintang

Kala Kebencian Merajalela

Jauh di masa lalu, ketika manusia masih hidup dalam kelompok-kelompok kecil yang berburu berpindah-pindah, kemampuan mengenali kawan dari lawan adalah salah satu ketrampilan sosial yang penting. Di jaman di mana peradaban belum lagi lahir, gagal mengenali lawan bisa berujung maut. Agar ketrampilan sosial yang vital ini bisa diajarkan dengan cepat, ia pun disederhanakan: kawan itu baik, lawan itu jahat. Sial bagi kita, pranata sosial, yang dikembangkan untuk kelangsungan hidup itu, kita warisi sampai sekarang dalam bentuk prasangka. Untungnya, kita sekarang juga memiliki sains; yang tengah bekerja keras untuk membongkar mekanisme yang menghasilkan prasangka dan kebencian terhadap "orang luar" ini.

Penilaian: 0 / 5

Nonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan Bintang

falsememory

Tahun baru. Biasanya kita merenungkan apa yang sudah kita capai selama setahun yang lewat dan mulai membuat rencana untuk rentang setahun ke depan. Menengok ke belakang dan memandang jauh ke depan--dua aspek yang dengan jitu oleh orang Romawi diperlambangkan sebagai dewa Janus, dewa dengan dua wajah. Yang mereka tidak tahu adalah bahwa kedua aktivitas ini melibatkan proses kreatif yang serupa pada otak.

Penilaian: 0 / 5

Nonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan Bintang

Cabai pembawa bahagia

Belakangan, fenomena rumah makan yang menyajikan sambal super pedas merajalela di tanah air. Dan semua nampak laris-manis. Masing-masing pun berlomba menyajikan hidangan yang membuat penikmatnya bersimbah peluh walaupun ruangan makan didinginkan dengan AC. Mengapa orang rela membayar begitu mahal hanya untuk dibuat kepedasan? Ternyata cabe mengandung zat yang memicu kebahagiaan.

Artikel Selanjutnya...

Silakan berlangganan pada layanan Newsletter kami, untuk mendapatkan kabar apabila ada artikel baru yang diunggah.

"Aku adalah seorang anak kecil yang tak pernah tumbuh dewasa, terus saja bertanya: 'bagaimana' dan 'mengapa'. Sesekali aku menemukan jawaban."

Stephen Hawking