Kehidupan Berawal di Panasnya Bintang-bintang

Diagram inti bintang

Alam Semesta
Typography

Penilaian: 0 / 5

Nonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan Bintang
 

Hampir sepanjang sejarahnya, Manusia mengira bahwa Bumi adalah pusat alam semesta. Kisah-kisah penciptaan menempatkan Manusia sebagai mahluk yang diciptakan secara spesial, berbeda dari mahluk lainnya di muka bumi. Namun fakta yang digali oleh Ilmu Pengetahuan ternyata jauh lebih menakjubkan daripada yang dapat dibayangkan oleh Manusia. Kehidupan ternyata berawal di tengah panasnya inti nuklir bintang-bintang.

Semuanya berawal pada titik start dari alam semesta yang sekarang kita huni, pada peristiwa yang disebut "Ledakan Besar" (Big Bang) oleh para ahli; yang menurut perhitungan para ahli terjadi 13,7 milyar tahun lalu. Kita tidak akan pernah tahu seperti apa alam semesta sebelum Big Bang, namun kita kini tahu bahwa seluruh alam raya ini terpampatkan dalam satu singularitas ruang-waktu yang ukurannya tidak lebih besar dari ujung jarum pentul.

Singularitas ini mengandung energi yang luar biasa dan, ketika "meledak" energi maha besar ini meruyak. Wujud pertama yang diambil energi ini adalah cahaya. Let there be Light! Cahaya adalah satu hal yang teramat unik di alam semesta ini: ia adalah partikel (materi) sekaligus juga energi. Dalam bentuk partikel, ia adalah foton; yang ketika saling bertumburan akan menimbulkan reaksi nuklir. Reaksi nuklir yang dahsyat, yang terjadi sepersekian detik pertama usia alam semesta, inilah yang menghasilkan materi dan ruang yang sekarang kita rasakan dan tempati.

Persoalannya, energi yang menggelora di detik pertama pasca Big Bang ini terlalu dahsyat. Demikian dahsyatnya energi ini sehingga materi yang terbentuk lewat reaksi nuklir ini hanyalah materi dengan bobot paling ringan: hidrogen, helium, litium. Materi yang lebih berat tidak akan bertahan cukup lama sebelum ditabrak oleh satu atau dua foton, dan akan pecah sebagai ledakan nuklir.

Untungnya, ketika alam semesta mengembang akibat tekanan energi ini, ada lokasi-lokasi yang secara acak mengumpulkan atom-atom hidrogen dan helium menjadi gumpalan-gumpalan kecil. Gumpalan ini memicu bekerjanya gravitasi dan, setelah 300 juta tahun, gumpalan hidrogen dan helium ini telah menjadi cukup besar untuk menghasilkan reaksi nuklirnya sendiri.

Ya, gumpalan hidrogen dan helium ini, tak lain tak bukan, adalah bintang-bintang.

Sekalipun bintang-bintang sangat panas, menurut ukuran kita, suhunya jauh lebih dingin daripada suhu alam semesta ketika Big Bang terjadi. Kepadatan materi yang ada di inti bintang, digabung dengan suhu yang sudah cukup dingin, memungkinkan terbentuknya unsur-unsur lain yang lebih berat. Proses nuklir dalam inti bintang bekerja laksana kuali universal untuk "memasak" hidrogen, helium dan litium; mengubahnya menjadi unsur-unsur lain.

Dalam inti bintang seperti inilah Karbon, unsur utama pembentuk kehidupan sebagaimana yang kita kenal, dimasak. Ketika dua atom Helium-4 bertumburan, proses nuklir menghasilkan Berilium-8. Dan ketika Berilium-8 ini ditumbur oleh atom Helium-4 lainnya... voila... atom Karbon yang bermassa 12 pun terbentuk. Para ahli memperkirakan bahwa reaksi nuklir helium telah menghasilkan berilium jauh sebelum terbentuknya bintang-bintang, namun berilium yang terbentuk tidak bertahan cukup lama untuk dapat bereaksi dengan atom helium lainnya.

Karbon adalah salah satu unsur kimia yang paling banyak terdapat di alam semesta; menduduki peringkat keempat setelah hidrogen, helium dan oksigen. Sebagai unsur kimia pembentuk kehidupan, karbon malah lebih penting lagi: 18,5% tubuh manusia, misalnya, terbentuk dari karbon. Karbon menduduki peringkat kedua sebagai unsur pembentuk kehidupan, hanya dikalahkan oleh oksigen, yang pada manusia merupakan 65% dari unsur penyusunnya.

Ketika satu bintang meledak, unsur-unsur yang lebih berat dilontarkan ke segala penjuru. Dari debu bintang inilah planet-planet terbentuk. Dan, di atas salah satu dari entah berapa banyak planet di jagad raya ini, kehidupan berkembang. Salah satu cabang kehidupan itu telah menghasilkan Manusia, mahluk yang kini tengah bekerja keras untuk menelusuri asal-usulnya sendiri.

Konon Manusia diciptakan dari debu, dan akan kembali menjadi debu. Betapa benarnya! Hanya saja, bukan debu dari bumi yang menjadi bahan dasar pembentuk tubuh manusia, melainkan debu dari bintang-bintang.

Setiap kali kita mendongak ke atas, ke arah bintang-bintang, kita bisa berbangga diri. Karena dari bintang-bintang itulah kita berawal.

Referensi:

http://scienceblogs.com/startswithabang/2009/06/25/making-the-elements-in-the-uni/

 

Silakan berlangganan pada layanan Newsletter kami, untuk mendapatkan kabar apabila ada artikel baru yang diunggah.

"Jangan terlalu takut dengan sulitnya Matematika. Aku bisa pastikan bahwa Teori Relativitas masih lebih sulit lagi."

Albert Einstein