Turritopsis, keluarga ubur-ubur yang dapat hidup abadi

Turritopsis dohrnii

Evolusi
Typography

Penilaian: 0 / 5

Nonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan Bintang
 

Manusia sudah lama memimpikan bisa hidup abadi; kalau tidak di dunia yang ini, setidaknya di dunia atas sana. Siapa yang mengira bahwa satu keluarga ubur-ubur yang bergenus Turritopsis ternyata bisa hidup abadi?

Turritopsis nutricula
Ubur-ubur yang diberi nama ilmiah Turritopsis dohrnii ditemukan pertama kali di perairan Mediterania pada tahun 1883, namun gejala unik tentang keabadiannya baru ditemukan secara tak sengaja oleh Christian Sommer, seorang ahli biologi laut dari Jerman, di tahun 1988. Sommer tengah menyelidiki siklus hidup ubur-ubur ini ketika mendapati bahwa spesimen yang diambilnya ternyata, bukannya maju ke tahap siap bereproduksi, malah mundur kembali ke bentuk polip.

Sommers tidak menganggap penting temuan ini, namun banyak ilmuwan lain menyambarnya dan mengujinya lebih lanjut. Saat ini telah diketahui bahwa keluarga Turritopsis, baik dari spesies T. dohrnii, T. nutriculla ataupun T. rubra, memiliki mekanisme untuk membalik kondisi diferensiasi sel mereka jika mengalami kondisi lingkungan yang tak menguntungkan.

Sebagaimana kita tahu, semua sel dalam tubuh mahluk bersel banyak (manusia adalah salah satunya) berasal dari sel asasi (stem cell), sebentuk sel yang belum mengalami diferensiasi atau spesialisi untuk membangun organ tubuh tertentu. Pada manusia, stem cell paling banyak ditemui, tentu saja, pada janin berusia satu minggu. Pada usia janin ini, ia berupa blastosis; di mana bagian dalamnya (yang disebut embrioblas) menjadi sumber terbentuknya stem cell. Proses diferensiasi yang terjadi pada stem cell inilah yang menentukan proses pembentukan organ-organ tubuh. Kerja stem cell belum usai ketika janin itu telah bertransformasi menjadi bayi, dan dilahirkan; satu cadangan stem cell tetap disediakan, terutama di otak dan sumsum tulang belakang, agar tubuh tetap dapat melakukan reparasi penting sekalipun sudah mencapai usia dewasa.

Keunggulan keluarga Turritopsis adalah bahwa seluruh sel mereka dapat mengalami transdiferensiasi; ringkasnya: membalik proses dari terdiferensiasi kembali ke stem cell.

Bagaimana persisnya keluarga Turritopsis dapat melakukan ini, para ilmuwan belum dapat menentukan dengan pasti. Hipotesis terkuat tentang itu saat ini adalah bahwa Turritopsis memiliki mekanisme untuk "mematikan" fungsi microRNA (miRNA), yang merupakan tuas aktivasi diferensiasi sel. Pada manusia, jika fungsi miRNA pada salah satu sel terhambat, kemungkinan besar sel tersebut akan berubah menjadi sel kanker. Tidak demikian halnya pada Turritopsis, dimatikannya fungsi miRNA justru membuat selnya kembali menjadi muda.

Dengan demikian, penelitian terhadap Turritopsis bukan saja dapat membuka resep muda kembali; namun juga sangat mungkin memberi kita obat ampuh untuk melawan kanker. Walau begitu, penelitian terhadap genus ini masih sangat kurang. Pada saat ini, memanjangkan usia manusia belum menjadi prioritas bagi banyak ilmuwan--karena sains masih berjuang untuk memberi umat manusia kualitas hidup yang lebih baik. Tanpa kualitas hidup yang baik, usia panjang tidak akan terlalu banyak berguna.

Dan, tentu saja Turritopsi bisa mati--apabila dimangsa atau terkena musibah mematikan yang membuatnya tidak sempat meregenerasi sel-selnya. Walau demikian, ia telah memberi kita harapan bahwa kehidupan yang nyaris abadi bisa kita nikmati di dunia sini--tanpa perlu menunggu dunia atas sana.

 

Referensi:

 

Silakan berlangganan pada layanan Newsletter kami, untuk mendapatkan kabar apabila ada artikel baru yang diunggah.

"Saat ini, kemajuan teknologi adalah layaknya kapak di tangan seorang pembunuh berdarah dingin."

Albert Einstein