Tiktaalik, Ikan Pertama yang Naik ke Darat

Evolusi
Typography

Penilaian: 0 / 5

Nonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan Bintang
 

Sudah lama para ahli tahu bahwa kehidupan di bumi diawali dari lautan. Fosil tertua yang telah ditemukan sejauh ini adalah mahluk-mahluk laut. Beberapa di antaranya begitu tua sehingga dasar laut di mana dulu mereka hidup telah tergerus oleh gerak lempeng benua, dan kini terangkat menjadi pegunungan akibat benturan antar lempeng benua termaksud.

Para ahli pun bertanya-tanya: apakah ada mahluk yang merupakan peralihan dari kehidupan di air menuju kehidupan di darat? Dan di tahun 2004, pertanyaan mereka terjawab. Ucapkan selamat bertemu pada Tiktaalik roseae, satu spesies purba yang fosilnya ditemukan di Pulau Ellesmere, di wilayah Arktik Kanada. Tiktaalik memiliki fitur campuran yang menegaskan bahwa ia adalah salah satu spesies transisi, yakni ketika ikan mulai naik ke darat. Ia memiliki rahang ikan purba (tidak seperti ikan modern), sirip dan sisik; namun kepala, leher, rusuk dan beberapa bagian tungkainya adalah milik hewan darat.

Semenjak pertama kali Tiktaalik ditemukan, para ahli telah berhasil menggali beberapa spesimen dari spesies ini. Dan, di tahun 2008, tim gabungan dari  Academy of Natural Sciences, the Putnam Expeditionary Fund (Harvard University), the University of Chicago, the National Science Foundation, dan the National Geographic Society Committee for Research and Exploration berhasil mengungkap proses transisi yang ditempuh dari kehidupan di air menuju kehidupan di darat.

Perubahan pertama, yang terpenting adalah pada kepala dan leher. Mahluk air dapat bergerak bebas secara tiga dimensi. Dengan mudah, mereka dapat seketika mengubah orientasi tubuh untuk mengejar mangsa atau menghindari pemangsa. Leher diperlukan oleh hewan darat untuk dapat memastikan posisi mangsa atau pemangsa sebelum mengubah arah-hadap tubuh. Tiktaalik adalah mahluk tertua yang ditemukan memiliki leher. Ini salah satu perkembangan terpenting untuk membuat mahluk air beradaptasi dengan kehidupan di darat.

Perubahan kedua terjadi pada hyomandibula, yang pada ikan berfungsi sebagai pengatur gerakan kepala ketika makan dan gerakan insang. Pada Tiktaalik, tulang ini telah sangat mengecil, menunjukkan bahwa spesies ini tidak lagi terlalu mengandalkan insang untuk bernapas. Pada mahluk darat, tulang ini telah semakin mengecil dan hanya berfungsi untuk pendengaran.

Perubahan ketiga terjadi pada sirip belakang, yang menunjukkan perubahan ke arah pembentukan kaki. Penemuan ini menantang teori yang sekarang dipegang banyak ilmuwah, yakni bahwa kaki baru berkembang setelah spesies air sepenuhnya naik ke darat. Kemungkinan Tiktaalik tidak lagi berenang di dalam air, melainkan "berjalan" di dasar air seperti ikan lele modern.

Tiktaalik hidup 375 juta tahun lalu, 12 juta tahun sebelum mahluk darat pertama mulai merayapi bumi. Berdasarkan ciri batuan di mana ia ditemukan, spesies ini dulu hidup di wilayah katulistiwa; di mana suhu dan lingkungan memberikan insentif bagi berbagai spesies untuk mulai mencoba mencari makan di daratan. "Tiktaalik" (tic-TAH-lick) -- adalah kata dalam bahasa Indian Inuktikuk, yang berarti "ikan air dangkal".

 

Referensi:

 

Silakan berlangganan pada layanan Newsletter kami, untuk mendapatkan kabar apabila ada artikel baru yang diunggah.

"Belajarlah dari hari kemarin, hiduplah untuk hari ini, berharaplah untuk hari esok. Yang terpenting adalah: jangan berhenti bertanya."

Albert Einstein