Kadal Ekor Cambuk, Tak Butuh Jantan

Kadal ekor cambuk

Evolusi
Typography

Penilaian: 0 / 5

Nonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan Bintang
 

Alkisah, perempuan diciptakan dari tulang rusuk laki-laki. Menurut kisah ini, mustahil ada perempuan apabila tidak ada laki-laki sebagai "ciptaan yang terdahulu". Tapi nampaknya, kadal ekor cambuk tidak diciptakan dengan cara yang sama seperti mahluk lainnya. Pada kadal ekor cambuk (genera Cnemidophorus dan Aspidoscelis, familia Teiidae) seluruh anggota spesiesnya adalah betina. Mereka sama sekali tidak membutuhkan pejantan untuk dapat berkembang biak.

Kadal ekor cambuk hanyalah satu dari setidaknya 70 spesies yang telah diketahui dapat melakukan pembiakan secara parthenogenesis. Istilah ini berasal dari bahasa Yunani, yang berarti "kelahiran dari anak perawan", merujuk pada kemampuan betina dari satu spesies (yang normalnya berkembang biak secara seksual) untuk menghasilkan keturunan, tanpa memerlukan pejantan. Pada umumnya, parthenogenesis merupakan strategi spesies untuk melanjutkan keturunan dalam situasi sulit, di mana terjadi paceklik pejantan. Komodo, beberapa spesies hiu, ular dan burung (termasuk burung dara dan kalkun), akan beralih pada parthenogenesis ketika mengalami kesulitan melakukan reproduksi secara seksual. Pada mamalia, strategi parthenogensis belum pernah ditemukan di alam bebas, terutama karena sel reproduktif mamalia mengandung perbedaan mendasar yang menyulitkan terjadinya parthenogenesis secara alamiah. Namun demikian, para ilmuwan dari Tokyo University of Agriculture telah berhasil melahirkan Kaguya, seekor tikus rumah, dari "perkawinan" dua betina. Kaguya adalah bukti bahwa semua spesies mahluk dengan reproduksi seksual memiliki potensi untuk beralih kepada parthenogensis, hanya soal lebih mudah atau lebih sulit.

Di tengah jajaran spesies yang dapat melakukan parthenogenesis, kadal ekor cambuk menjadi sangat unik karena seluruh anggota spesiesnya adalah betina. Dengan demikian, mereka tidak memiliki pilihan untuk melanjutkan keturunan selain melalui parthenogenesis.

Di alam bebas, parthenogenesis tidak menjadi strategi tetap (obligate) melainkan hanya strategi pilihan (facultative) karena pembuahan mandiri seperti ini beresiko menghalangi terbentuknya kebugaran genetik dan keragaman hayati. Kedua hal ini sangat perlu untuk melindungi spesies dari perubahan lingkungan atau penyakit. Keragaman dan kebugaran genetik memberi asuransi bahwa, sekalipun terjadi perubahan lingkungan atau serangan penyakit, setidaknya beberapa anggota mereka dapat selamat karena memiliki variasi genetik yang tahan terhadap kondisi mematikan tersebut.

Sejak ditemukannya kadal ekor cambuk ini, para ahli bertanya-tanya: bagaimana spesies ini mempertahankan variasi genetiknya, sehingga dapat bertahan dan berkembang biak dengan selamat sampai menghasilkan populasi yang cukup tangguh di New Mexico dan Arizona, kawasan gurun di Amerika Serikat. Penelitian Peter Baumann, dari Stowers Institute for Medical Research di Kansas City di tahun 2010 memberi jawaban awal untuk persoalan ini: kadal ekor cambuk menghasilkan sel telur yang memiliki jumlah kromosom dua kali lipat dari normalnya jumlah kromosom pada sel telur kadal. Dengan demikian, seakan-akan betina dari spesies ini telah menghasilkan kromosom jantan dan betina sekaligus. Para ahli masih mencari tahu bagaimana mereka dapat melakukan hal ini, dan bagaimana persisnya keragaman hayati dapat terjadi melalui proses ini. Terutama ketika keturunan dari kadal ekor cambuk ini selalu betina, sehingga proses parthenogenesis ini terus berulang dan menjadi ciri dari spesies tersebut.

Yang lebih menarik lagi, para betina dari spesies kadal ekor cambuk ini tetap melakukan ritual kawin sebagaimana normalnya terjadi pada kadal. Para ahli menemukan bahwa kadal betina yang ada di atas dalam ritual ini (tempat yang biasanya ditempati kadal jantan) menghasilkan telur yang lebih kecil daripada kadal betina yang ada di bawah. Mengapa dan bagaimana hal ini terjadi masih diselidiki.

Mungkin para ahli harus mulai menghitung jumlah rusuk kadal jantan. Karena pastinya, kadal ekor cambuk tidak membutuhkan pejantan untuk terus berkembang biak dan mempertahankan kelangsungan hidup spesiesnya.

Referensi:

 

Silakan berlangganan pada layanan Newsletter kami, untuk mendapatkan kabar apabila ada artikel baru yang diunggah.

"Orang-orang yang membanggakan IQ mereka adalah pecundang. Aku tak pernah jadi juara kelas."

Stephen Hawking