Mata Manusia, Penipu Terulung Sepanjang Masa

Diagram mata manusia

Evolusi
Typography

Penilaian: 0 / 5

Nonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan Bintang
 

Ada pepatah yang bilang: "Sudah melihat, baru percaya". Untuk menegaskan bahwa seseorang layak menjadi saksi, kita juga sering mengatakan: "melihat dengan mata kepala sendiri". Namun sesungguhnya, sejak lahir sampai matinya, seorang manusia tidak pernah benar-benar melihat apa yang dia lihat. Selalu ada bidang kosong yang luput dari penglihatan mata manusia, bidang kosong yang disebabkan oleh blind spot (titik buta) pada mata.

Mata manusia (dan semua hewan bertulang belakang lainnya) memiliki titik buta karena bentuk susunan syaraf penyampai informasi visual dari lensa menuju otak. Persoalan utamanya adalah karena mata merupakan perangkat yang haus energi. Dengan arus data sebesar 8,75 Megabit/detik, lebih deras dari koneksi 3G yang maksimal hanya 7,2 Mbps, mata menyerap energi yang teramat besar untuk dapat beroperasi. Bagaimana tubuh dapat memasok oksigen, sumber utama energi, untuk mengaktifkan mata?

human-eye-diagram

Hewan bertulang belakang, seperti manusia, memiliki sistem peredaran darah tertutup sebagai pemasok oksigen pada semua organ tubuh--termasuk mata. Keuntungan evolusioner dari sistem tertutup ini, yang sepenuhnya menggunakan pembuluh darah untuk mengalirkan darah, adalah tekanan darah yang lebih tinggi ketimbang yang ada pada sistem peredaran darah terbuka. Tekanan darah yang lebih tinggi memungkinkan metabolisme yang lebih cepat dan gaya hidup yang lebih aktif.Sistem ini juga memungkinkan kontrol yang lebih presisi terhadap aliran energi dalam tubuh. Oleh karenanya, hewan bertulang belakang sebagian besar menjalani kehidupan yang aktif; sementara hewan tak bertulang belakang sebaliknya.

Namun, di balik semua keunggulan sistem peredaran darah tertutup ini, satu kelemahan besar muncul dalam hal pemasokan energi pada mata. Organ yang lapar energi ini hanya dapat dipenuhi pasokan tenaganya lewat pembuluh darah. Itu berarti, pembuluh darah harus masuk dan mengalirkan energi bagi setiap sel pada mata. Bagi sebuah organ yang tugasnya menerima data optikal, ini adalah kelemahan yang teramat besar.

Pertama, jejalur pembuluh darah yang jumlahnya ribuan ini niscaya menghalangi jalannya sinar di dalam bola mata, dari lensa menuju reseptor. Biarpun adaptasi evolusi selama jutaan tahun telah membuat pembuluh darah pada mata menjadi transparan, sedikit-banyak pembelokan cahaya akibat bertemunya sinar dengan cairan darah pasti terjadi.

Kedua, yang lebih penting, berkas pembuluh darah ini harus memiliki titik masuk ke dalam bola mata--mirip seperti instalasi kabel listrik di rumah-rumah. Titik di mana berkas pembuluh ini memasuki mata tidak bisa dipasangi reseptor. Persis di titik inilah terdapat titik buta, tempat di mana terjadi kekosongan sinyal optik, di mana gambar yang ditangkap mata mengalami lubang kosong.

Untuk mengalami sendiri "titik buta" ini, silakan melakukan eksperimen kecil ini: tutup mata kananmu, lalu pusatkan pandangan mata kiri pada tanda (+). Bulatan merah akan nampak bergerak dari kiri ke kanan; tapi pada saat tertentu, ia akan menghilang. Ini karena pada saat itu, sinyal optik melintasi titik buta.

uji titik buta

Bulatan merah menghilang karena adaptasi evolusioner lain yang ditempuh hewan bertulang belakang untuk menambal kelemahan dari titik buta ini: ekstrapolasi data, alias menebak data yang kurang berdasarkan data lain di sekitarnya.

Biasanya, ketika kedua mata dapat melihat dengan lengkap, kekosongan data dari titik buta pada salah satu bola mata akan tertutup oleh data dari bola mata yang lain. Tapi, saat ada tidak ada data pengisi sama sekali, otak akan otomatis menebak isi data yang kosong itu dan mengisinya. Dalam hal gambar di atas, titik merah tidak hilang--otak (dalam hal ini prefrontal korteks) mengisi tempat yang tidak ada datanya dengan warna putih.

Permainan tebak-tebakan data ini memiliki keuntungan evolusioner, karena dapat dipakai pula untuk menebak bentuk yang tak jelas di tengah persembunyian atau kegelapan. Bagi pemangsa, mengenali mangsa yang tersembunyi dalam gerumbul adalah persoalan efisiensi energi. Terlalu banyak membuang energi dalam pengejaran sia-sia dapat membunuh pemangsa paling buas sekalipun. Sebaliknya, bagi mangsa, mengenali adanya pemangsa yang tersembunyi di balik rerumputan tinggi akan menentukan apakah mereka bisa lolos atau harus mengakhiri hidup dalam rahang pemangsa itu. Mengenali adanya pemangsa atau adanya mangsa adalah persoalan hidup atau mati.

Tapi, sebagaimana semua hal baik, apa yang bisa menyelamatkan bisa pula menyesatkan. Di sinilah kecerdasan manusia menjadi batu sandungan baginya. Ketika manusia melihat ke mana-mana, ia pun melihat pola. Manusia melihat bintang-bintang di malam kelam, ia melihat pola di sana--lahirlah rasi-rasi bintang. Manusia melihat bentuk-bentuk mengerikan di kegelapan, ia pun membayangkan pemangsa yang buas-buas. Ketika singa, harimau, bahkan ular, tidak lagi merupakan ancaman maut, lahirlah berbagai monster dalam legenda. Tidakkah mengherankan bahwa wujud setan dan iblis adalah segala sesuatu yang ditakuti manusia? Api, ular, segala yang bertanduk atau bertaring--semua adalah apa yang biasa diwaspadai leluhur kita karena merupakan ancaman maut.

Gejala ini disebut Apophenia, sebuah gejala yang awalnya dikenali sebagai sebuah gangguan psikologis namun sekarang diakui sebagai sebuah gejala yang umum ditemui pada manusia normal. Lihatlah gambar di bawah ini: ini hanya gambar dari sebuah lingkaran, dengan dua lingkaran dan satu garis di dalamnya. Tapi sebagian besar dari kita akan melihatnya sebagai wajah manusia. Ini karena prefrontal korteks kita terbiasa mengisi kekosongan data (dalam hal ini: tidak ada alis, hidung, telinga, dll.) dengan data yang sebelumnya sudah tersimpan dalam otak.

220px-Fakeface.svg

Satu variasi dari kegemaran otak kita melakukan autofill (mengisi sendiri) data yang tidak tersedia adalah pareidolia. Ini adalah gejala di mana kita melihat bentuk-bentuk familiar pada gejala-gejala alam yang acak. Kita melihat wajah di Mars, tulisan nama atau wajah Sang Khalik di kulit ikan, batu akik, bahkan di atas potongan pizza yang sudah dimakan separuh.

Martian face viking cropped

Salah satu gejala paling parah, di mana otak mengisi sendiri data yang kosong dengan data yang mengada-ada, terutama karena karena menurunnya fungsi penglihatan. Inilah yang disebut halusinasi. Dalam bentuknya yang paling "nyata", gejala halusinasi ini disebut Charles Bonnet Syndrome. Gejala ini paling sering ditemui pada orang yang mengalami degenerasi makular. Makula adalah komponen bola mata yang bertugas menangani detil halus. Karena otak tidak mendapat data tentang detil halus ini, detil ini pun di-autofill--dengan tingkat detil yang seharusnya didapatkan. Maka, orang yang mengidap CBS seringkali mendapatkan halusinasi yang lebih "nyata" daripada apa yang dilihatnya di sekitar halusinasi itu. 

Tapi bahkan di saat informasi tersedia lengkap, prefrontal korteks seringkali mengisi sendiri detil yang sebenarnya tidak ada--semata karena otak mengira ada detil kosong. Ini menghasilkan ilusi optik. Seperti contoh di bawah ini, semua kotak berukuran sama--namun otak kita mengira terjadi penggembungan di bagian tengah. Ini karena di bagian tengah terdapat titik-titik yang ditempatkan strategis, sesuai dengan yang diharapkan otak ketika melihat sebuah gambar yang menggelembung. Data yang diterima otak mengenai titik-titik ini tidak cocok dengan data bahwa semua kotak berukuran sama dan semua garis adalah lurus. Karenanya, otak mengubah data mengenai garis lurus itu dan memunculkan penggembungan.

checkerboard illusion.jpg.CROP.original-original

 Mata adalah organ yang terasah oleh jutaan tahun evolusi, menjadi organ yang menakjubkan--bahkan nampak sempurna dalam segala aspeknya. Tapi sudah jelas bahwa penglihatan kita tidak 100% sempurna. Lebih jauh, dalam upaya menambal kekurangan ini, otak seringkali mengelabui kita dengan cara mengisi sendiri data yang kosong. Dalam keadaan biasa, tambalan ini tidak kelihatan--tapi dalam kondisi tertentu otak menjebak kita ke dalam berbagai jenis ilusi, khayalan bahkan halusinasi.

Sepanjang usia kita, kita hidup dalam ilusi. Sebagian besar di antaranya tidak berbahaya. Namun, ini cukup untuk membuat kita waspada. Trust, but double-check. Percayai apa yang akamu lihat, tapi tetaplah waspada dan sedia untuk melakukan cek-ulang. Selalu bersikap kritis, bahkan atas apa yang kita lihat "dengan mata kepala sendiri".

Referensi:

 

Silakan berlangganan pada layanan Newsletter kami, untuk mendapatkan kabar apabila ada artikel baru yang diunggah.

"Alam semesta bukan saja lebih ajaib dari bayangan kita, tapi bahkan lebih ajaib dari apapun yang dapat kita bayangkan."

J.B.S. Haldane