Wiranita Bangsa Scythia, Asal-usul Legenda Amazon

Amazon: fiksi vs realita

Sejarah dan Arkeologi
Typography

Penilaian: 5 / 5

Aktifkan BintangAktifkan BintangAktifkan BintangAktifkan BintangAktifkan Bintang
 

Film Wonder Woman berkisah tentang sebuah bangsa legendaris, Amazon, yang keseluruhannya hanya berkelamin perempuan. Mereka adalah petarung-petarung perkasa yang setara, bahkan lebih hebat, daripada laki-laki. Salah satu di antara mereka, Diana, memasuki dunia manusia dan, dengan kekuatan supernya, menjadi Wonder Woman. Ini semua bisa kita nikmati lewat tayangan layar perak. Yang barangkali tidak dituturkan dalam film itu adalah bahwa legenda tentang bangsa Amazon berakar pada kenyataan--kekaguman bangsa Yunani akan para wiranita (woman warriors) bangsa Scythia, yang turut berperang bersama kaum lelakinya.

Untuk masa yang panjang, merupakan satu keganjilan bahwa satu bangsa mengijinkan kaum perempuannya untuk terlibat dalam kegiatan yang bercorak "maskulin"--seperti peperangan. Bahkan sejak jaman berburu-mengumpul, kaum lelaki telah mengemban tugas untuk menjadi prawira, memanggul senjata untuk membela komunitasnya dari bahaya. Beberapa pemimpin atau panglima perang perempuan silih-berganti muncul di panggung dunia; di Indonesia sendiri kita mengenal Cut Nyak Dien dan Malahayati sebagai panglima-panglima perang yang tangguh. Namun, sangatlah jarang satu balatentara sungguh-sungguh melibatkan perempuan dalam peperangan. Bangsa Scythia adalah salah satu pengecualian sejarah dalam hal ini.

Scythia Parthia 100 BC
Asal-usul bangsa ini masih diperdebatkan karena peninggalan arkeologi mereka baru sedikit saja ditemukan. Sebagian besar dari apa yang diketahui tentang mereka berasal dari catatan legenda yang ditulis oleh para sejarawan bangsa-bangsa yang berkontak tempur dengan mereka. Sedikitnya peninggalan ini dikarenakan bangsa Scythia adalah bangsa nomaden, yang cenderung tidak meninggalkan catatan sejarah ataupun bangunan permanen. Baru pada awal abad ke-20 beberapa peninggalan Scythia, terutama berupa kurgan atau kubur batu, ditemukan di dataran Siberia. Dan baru pada akhir abad ke-20 peninggalan ini diketahui dunia luas, setelah keruntuhan Uni Sovyet membuka jalan bagi tersingkapnya banyak hasil penelitian ilmiah di negeri tersebut.

Dari penggalian di berbagai kurgan di Siberia, didapati satu gambaran tentang sebuah masyarakat di mana kaum perempuannya telah dilatih untuk menunggang kuda sejak masih kanak-kanak, mengenakan celana panjang dan terlibat dalam kontak senjata. Pada salah satu situs bahkan ditemukan bahwa lebih dari sepertiga (37%) dari jenazah yang diawetkan dalam kurgan adalah prajurit perempuan--yang dikuburkan bersama kapak, busur dan tali kekang kuda mereka. Mereka mengenakan tato pada tubuh mereka dan menghisap ganja sebagai bagian dari ritual penyembahan Dewi Bumi, Tabiti.Kaum perempuan Scythia juga terlibat dalam perburuan, menggunakan anjing dan elang sebagai pendukungnya.

ScythianWomanWarrior4
Sampai saat ini belum diketahui persis dari mana datangnya bangsa ini, sebelum mereka mulai menghuni padang rumput luas di seputar Laut Hitam sekitar abad ke-9 Sebelum Masehi. Mereka adalah bangsa pengembara yang terorganisir dalam konfederasi longgar suku-suku. Kuda adalah sumber penghidupan vital bagi mereka: daging dan susu kuda adalah sumber protein, kuda adalah sarana transportasi bagi mereka, dan kuda adalah wahana tempur yang memungkinkan mereka menjarah bangsa-bangsa tetangga atau memaksa mereka membayar upeti. Karenanya, bangsa Scythia adalah para pembiak kuda yang handal. Mereka telah berhasil membiakkan kuda dengan beragam sifat--baik yang kekar untuk menarik kereta atau membajak ladang, maupun yang langsing untuk berlari cepat dalam peperangan.

Sekalipun bangsa pengembara biasanya menganut patriarki dan pastoralisme yang kental, tidak demikian halnya dengan bangsa Scythia--setidaknya di masa awal kemunculan mereka di panggung dunia. Sistem religi mereka masih menempatkan Dewi Bumi sebagai ilah utama; ini sangat berbeda dengan masyarakat patriarki yang biasanya menempatkan ciri maskulin bagi yang dipuja sebagai Sang Pencipta. Bangsa ini juga memberi tempat bagi perempuan dalam lingkup sosial politik--kemiliteran adalah yang utama, namun banyak juga catatan dari sejarawan Yunani Kuno tentang para perempuan Scythia yang memangku jabatan publik. Kemungkinan terbesar, bangsa Scythia sedang berada dalam masa peralihan antara peradaban matrifokus (di mana perempuan dipandang sepenuhnya setara dengan laki-laki) menuju patriarki (di mana laki-laki dipandang superior dibanding perempuan). Ini terlihat dari sistem kependetaan bangsa Scythia, yang telah didominasi laki-laki, namun harus berdandan sebagai perempuan.

Ketika bangsa-bangsa lain di seputaran Timur Tengah telah nyaris sempurna menerapkan patriarki, kesetaraan gender yang dianut bangsa Scythia menjadi anomali. Namun, justru di sinilah letak kekuatan bangsa Scythia sehingga menjadi kekuatan yang ditakuti di seantero Asia Tengah. Keperkasaan bangsa Scythia masa itu tercermin dari keberhasilan mereka menangkal serbuan Imperium Persia di bawah Darius I tahun 513 SM, di saat kekuatan Persia tengah ada di puncaknya. Bangsa Scythia juga berperan besar dalam kejatuhan Imperium Asyria--setelah mereka menjarah Niniveh, ibukota imperium perkasa itu di tahun 612 SM. Niniveh adalah kota kuno yang terkenal sampai jaman ini karena tersangkut dengan kisah nabi Yunus.

Sangatlah mungkin bahwa bangsa Scythia lama mempertahankan kesetaraan gender di tengah masyarakat mereka karena hal itu memberi mereka keunggulan dalam peperangan. Bangsa ini, pada awal kemunculannya, tidak memiliki satu tentara profesional yang dipersenjatai dengan lengkap sebagaimana bangsa-bangsa lain di sekitar mereka. Dengan menyertakan perempuan ke dalam balatentara mereka, bangsa Scythia praktis melipatgandakan jumlah orang yang dapat turut berperang--dibandingkan jika hanya menyertakan laki-laki. Teknologi dan taktik perang mereka juga sangat memungkinkan keterlibatan perempuan dalam peperangan. Sebagai bangsa berkuda, kecepatan dan mobilitas tidak lagi tergantung banyaknya otot melainkan pada kualitas tunggangannya dan ketrampilan penunggangnya. Mereka juga mengandalkan busur dan anak panah sebagai senjata utama--dan teknologi busur mereka telah berkembang sehingga tidak memerlukan tenaga besar untuk dipentang. Terlebih lagi, taktik perang favorit bagi bangsa Scythia adalah lewat gerilya dan bumi hangus. Dengan demikian, kontak fisik antara mereka dengan pasukan musuh diminimalisir; sementara panah juga lebih digunakan sebagai alat penghancur moral musuh. Baru setelah musuh rontok semangatnya, dan bubar kalang-kabut, balatentara Scythia akan mengejar mereka untuk dihabisi satu demi satu. Di samping itu, ketika balatentara Sycthia pergi berperang, mereka akan meninggalkan sedikit orang untuk "jaga rumah dan ternak"--semuanya adalah perempuan. Akan sangat menguntungkan bagi bangsa ini jika para perempuan yang ditinggal berperang ini juga mampu menjaga diri dan harta mereka dengan senjata. 

Namun, keberhasilan bangsa Scythia ini untuk menancapkan pengaruh mereka ternyata berbalik memukul kelangsungan hidup bangsa ini. Sejalan dengan bertumpuknya harta bangsa Scytia, baik dari penjarahan maupun dari upeti yang dikirimkan bangsa-bangsa lain, mereka pun mulai membangun kota dan imperium mereka sendiri. Pelapisan dalam masyarakat mulai menebal dan menggerus semangat kesetaraan yang tadinya merupakan satu sendi budaya bangsa ini. Pada abad ke-4 Masehi, bangsa Scythia mulai membangun imperium dan perlahan cara hidup mereka yang lama mulai terlupakan. Suku-suku Scythia yang nekat mempertahankan cara hidup nomaden mulai ditindas dan dipaksa membayar pajak berat pada istana.

Pada jaman raja Ateas, Imperium Scythia mengalami masa kejayaannya--sekaligus puncak kehancuran budayanya. Pada saat kekayaan material bangsa ini berada di puncak, ia pun kehilangan cirinya sebagai bangsa--dan keunggulan yang telah membantu bangsa ini berjaya pada awalnya. Pada tahun 339 SM, Raja Ateas tewas dalam perang melawan Phillip II dari Makedonia (ayah kandung Aleksander Agung). Kerajaannya pun pecah berkeping-keping. Bangsa Scythia masih berusaha mendirikan kembali imperium mereka, namun percuma saja. Pada akhir abad ke-2 SM, raja terakhir bangsa Scythia, Palacus, tewas di tangan raja Mithridates VI dari Pontus (Persia Baru)--dan bangsa Scythia pun hilang ditelan jaman.

Diperkirakan, sisa-sisa bangsa Scythia tercerai-berai pasca kehancuran imperium mereka dan berasimilasi dengan bangsa-bangsa lain di sekitar mereka. Banyak bangsa yang sampai sekarang mengklaim merupakan salah satu keturunan bangsa Scythia: dari mulai bangsa Celtic di utara Eropa sampai bangsa Kamboja di lembah sungai Mekong.

Kisah para para perempuan prajurit Scythia adalah kisah satu bangsa yang berjaya karena mendayagunakan tenaga kaum perempuannya dalam kesetaraan--dan kejatuhan bangsa itu karena melupakan akar budayanya dan membangun tatanan masyarakat yang tidak lagi menghormati kesetaraan. Jadi, mana yang menurutmu lebih keren: Putri Diana dari Amazon yang fiktif, atau para perempuan pejuang bangsa Scythia yang nyata ada?

 

Referensi:

Silakan berlangganan pada layanan Newsletter kami, untuk mendapatkan kabar apabila ada artikel baru yang diunggah.

"Dalam segala persoalan ada dua sisi: sains dan opini. Sains melahirkan pengetahuan, opini melahirkan kebodohan."

Hippocrates.