Tahun Baru, Saatnya Kita Bersyukur Pada Rembulan

Moon Clock

Sejarah dan Arkeologi
Typography

Penilaian: 0 / 5

Nonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan Bintang
 

Sejak fajar menyingsing bagi Homo sapiens, langit malam telah menjadi sumber ketakjuban bagi spesies ini. Bagi mahluk-mahluk yang mengembara di padang rumput Afrika, tentu saja malam membentangkan satu pemandangan luar biasa nun jauh di sana. Kerlip bintang-bintang dan rembulan yang bagaikan lentera, tentu merupakan sumber misteri yang tiada tara. Kita mungkin tidak akan pernah tahu siapa yang pertama kali menghitung jarak jeda antara satu purnama ke purnama berikutnya; namun inilah kali pertama Manusia mengenal kalender.

Kita dapat memaklumi bahwa, di jaman prasejarah, benda-benda langit adalah satu-satunya hal yang konstan dalam kehidupan. Musim berganti, hewan buruan datang dan pergi, cuaca berubah dan alam menyajikan kejutan di balik tiap bayangan. Hanya benda-benda langit ini yang selalu ada, setia menemani Umat Manusia. Apapun yang terjadi, rembulan akan kembali muncul nanti malam, dan mentari akan terbit lagi esok pagi. Itulah satu-satunya sumber kepastian dalam kehidupan Manusia jaman itu; bagi Manusia, benda-benda langit inilah perlambang Keteraturan mengalahkan Kekacauan. 

Tentu jauh lebih mudah bagi Manusia untuk berhitung dengan rembulan. Satelit bumi ini muncul malu-malu, bak seorang putri mengintip dari balik tirai, sebelum perlahan menyingkap kecantikannya yang terang-benderang, lalu kembali beringsut menuju peraduan. Siklus serupa tidak dapat ditemukan pada Matahari, semata karena bintang ini terlampau menyilaukan untuk dipandang langsung. Sampai Manusia menemukan alat bantu peneropong bintang, siklus Matahari tidak dapat ia temukan. Lagipula, siklus bulan cukup pendek; hanya 29,5 hari. Begitu ada yang menyadari keberadaan siklus ini, akan menjadi satu hal wajar untuk menghitung jeda waktu yang dibutuhkan untuk berjalannya satu siklus penuh.

Namun perjalanan Manusia menuju kalender pertama jauh lebih berliku. Untuk membuat satu kalender, dibutuhkan himpunan pengetahuan yang harus dikumpulkan bertahun-tahun--malah mungkin bergenerasi. Bukan satu hal mudah; mengingat pada masa itu Manusia tidak mengenal tulisan, atau catatan dalam bentuk apapun. Semua pengetahuan disampaikan dari satu generasi ke generasi berikutnya lewat kisah dan tutur. Siapapun yang pernah bermain "Pesan Berantai" niscaya paham bahwa penyampaian pesan lewat tutur sangat beresiko mengalami distorsi. Sangat sulit untuk sampai pada sebuah perhitungan yang tepat ketika penyampaian pengetahuan dilakukan lewat tutur semata. 

Namun perlahan, Manusia menemukan bahwa siklus bulan ini bersejajaran dengan siklus lain dalam kehidupan mereka: siklus menstruasi, siklus pasang-surut air laut/sungai, siklus datang-perginya hewan-hewan buruan, dan lain-lain. Dalam keluguan mereka, Manusia pun menyimpulkan bahwa Rembulan lah yang mengatur kesuburan perempuan, mendatangkan atau mengusir pergi hewan-hewan buruan. Maka, untuk dapat terus menyenangkan sang Rembulan, Manusia mulai memperlakukan pengetahuan tentang siklus bulan sebagai pengetahuan suci. Manusia pun mulai memahatkan apa yang mereka ketahui tentang bulan pada berbagai benda yang relatif tahan lama, sesuatu yang akan mereka anggap sebagai suci atau berharga. Berkat melekatnya sifat "suci" pada pengetahuan akan bulan, pencatatan pun mulai dilakukan. Dan pencatatan adalah basis bagi sains yang riil.

Penemuan Kalender Bulan

mooncarving
Catatan tertua akan siklus bulan, yang saat ini telah ditemukan, berasal dari gua-gua Jaman Batu Tua (Paleolitikum) di Perancis dan Jerman. Catatan ini dibuat pada batu, tanduk atau tulang; berasal dari masa 32.000 tahun lalu, di jaman Batu Tua (Paleolitikum). Ini berarti ada jarak ratusan ribu tahun dari saat diawalinya keberadaan Homo sapiens di atas bumi, sekitar 200.000 tahun lalu, sampai Manusia mulai membuat kalender. 

Valerius Geist, Profesor Emeritus untuk Ilmu Lingkungan dari University of Calgary, menyelidiki soal jeda ini dan menyimpulkan bahwa kalender dilahirkan oleh akibat migrasi Homo sapiens itu sendiri. Ketika spesies kita mengawali kemunculannya di muka bumi, di padang rumput Afrika Timur, hewan buruan hadir secara berlimpah. Berlimpahnya hewan buruan ini memberi ruang cukup bagi Manusia sehingga dapat hidup, secara harafiah, hari demi hari. Tiada keperluan baginya untuk mencatat waktu. Bilamana ia lapar, ia tinggal ambil kapak batu yang dibuatnya dan mencari buruan untuk hari itu. Dalam keadaan semacam itu, konsep tentang "masa lalu" atau "masa depan" sama sekali tak berarti. Johan de Smedt, doktor filsafat pada Ghent University, Belgia, menulis bahwa pada masa ini Manusia menganggap waktu sebagai sebuah lingkaran--yang senantiasa berulang dan tak berujung. Karena keteraturan yang dilihatnya pada pergerakan benda-benda langit, Manusia pun membangun "keteraturan" dalam hidupnya sebagai sebuah siklus. 

Situasinya berbeda ketika, sekitar 100.000 tahun lalu, Manusia mulai bermigrasi keluar dari kampung halamannya--kemungkinan besar karena tekanan populasi di antara mereka sendiri, atau karena perubahan iklim. Homo sapiens mulai bergerak ke utara, menyeberangi katulistiwa dan memasuki kawasan baru yang lebih peka pada musim. Di tanah air Manusia, di kawasan katulistiwa, hanya dikenal musim hujan dan musim kering. Tidak ada keperluan untuk bersiap, menimbun lemak atau bahan pangan menjelang musim dingin. Berbeda dengan di kawasan di atas dan di bawah garis katulistiwa, di mana musim dingin bisa membunuh mereka yang kurang persiapan.

Ketersediaan pangan juga sangat tergantung pada musim, terutama pada cadangan lemak yang dikandung oleh hewan-hewan. Di kawasan utara katulistiwa, yang menjadi tujuan migrasi Homo sapiens, hewan-hewan baru menumpuk lemak menjelang musim dingin. Adalah sebuah keuntungan kompetitif yang sangat besar ketika Manusia dapat "meramalkan" kapan saat terbaik memburu rusa, atau bebek atau ikan salmon. Dan, ketika ada tekanan untuk "melihat ke depan", Manusia pun mulai melakukan pencatatan terhadap waktu. 

Tentu saja ia mencatat waktu sesuai dengan kerangka pikirnya yang lama--bahwa waktu bergerak secara melingkar. Demikianlah sains dan teknologi berkembang: ia tidak datang dari langit namun dibangun di atas kerangka pikir dan material yang telah ada sebelumnya. Dan basis dari pencatatan waktu ini adalah siklus bulan, siklus yang telah tercatat sebelumnya. 

Kita mungkin tidak akan pernah tahu bagaimana Manusia mulai membangun kalendernya. Namun, dapatlah kita bayangkan bahwa kalender bulan yang mereka buat, dalam beberapa tahun saja, segera menampakkan kekurangannya dalam hal meramalkan datangnya musim. Ini karena musim dipengaruhi oleh posisi bumi terhadap matahari, yang siklusnya tidak genap sama dengan siklus bulan. Kita tahu bahwa kalender bulan berisi 354-360 hari, sedangkan bumi berputar mengelilingi matahari dalam masa 365 hari lebih sedikit. Perlahan tapi pasti, kalender bulan akan maju terlalu cepat daripada datangnya musim. 

Menuju Kalender Matahari

prehistoric-calendar-scotland
Sebagaimana proses sains dan teknologi bekerja, Manusia pun tidak membuang kalender bulan yang dimilikinya--melainkan menyesuaikannya. Dan, ternyata Manusia butuh ribuan tahun sebelum berhasil menyetel kalender bulan yang dimilikinya agar selalu bersesuaian dengan siklus musim. Kalender tertua yang saat ini telah ditemukan oleh para ahli purbakala terdapat di Warren Fields, Skotlandia, berusia 10.000 tahun. Kalender ini dibangun dalam bentuk monumen berupa lubang-lubang yang dikeduk ke dalam batu, menggambarkan siklus bulan, dilengkapi dengan satu tugu batu yang bersesuaian dengan posisi terbit matahari pada saat titik balik musim dingin (midwinter solstice).

Jarak yang cukup panjang antara penemuan siklus bulan dan terbangunnya kalender, kemungkinan besar, disebabkan oleh adanya keharusan Manusia untuk menetap sebelum dapat menemukan patokan musim. Cara termudah untuk menetapkan musim adalah dengan memantau posisi terbit matahari atau bintang tertentu, dan membandingkannya dengan tengara (landmark) yang cukup menonjol seperti puncak gunung. Untuk keperluan ini, dibutuhkan adanya rutinitas pemantauan selama bertahun-tahun--atau oleh banyak orang, secara terkoordinasi. Menarik untuk diketahui bahwa situs Warren Fields, yang disebutkan di atas, adalah salah satu persimpangan jalan penting di jaman pra-sejarah. Tidak berapa jauh dari situ, terdapat Lembah Sungai Dee yang merupakan situs perburuan ikan salmon. Jika para pemburu di jaman Batu Tengah (Mesolitikum) itu bisa "meramalkan" waktu kedatangan ikan salmon, yang bermigrasi ke sungai Dee untuk bertelur, hidup mereka akan jauh lebih sejahtera. 

Sebuah kalender membutuhkan data astronomi yang cukup ekstensif, dalam jangka waktu panjang. Sebagai tempat berkumpul kelompok-kelompok pemburu-pengumpul, Warren Field dapat kita perkirakan menjadi tempat pengumpulan hasil observasi banyak orang, dalam waktu cukup panjang. 

Himpunan pengetahuan astronomis, yang cukup besar untuk membuat sebuah kalender yang stabil, baru diperoleh Manusia setelah kemunculan kelas Pendeta. Para pendeta dari peradaban-peradaban pertama, Mesopotamia dan Mesir, terbebaskan dari kerja membanting tulang untuk mengolah pangan dan mencari penghidupan. Mereka diberi "tugas" oleh masyarakat untuk memastikan bahwa para dewa akan selalu memberi berkah melimpah. Dengan kebebasan ini, para pendeta memiliki cukup waktu dan tenaga untuk mengumpulkan data pergerakan benda langit--dan mencatatnya sehingga dapat diwariskan. 

Berkat data yang memadai itu, bangsa Mesir berhasil membuat kalender musim yang menjadi dasar dari kalender yang kita kenal sekarang. Karena prikehidupan bangsa Mesir sangat tergantung pada banjir sungai Nil, yang membawa lumpur subur dari hulu sungai, kalender mereka pun didasarkan pada keperluan untuk meramalkan dengan ketepatan tinggi bilamana Nil akan menghadirkan air bah. Setelah pengamatan yang entah berapa puluh atau ratus tahun, para pendeta Mesir Kuno berhasil mengetahui bahwa Nil akan mengalami banjir bertepatan dengan kemunculan Sothis (bintang Sirius) di kaki langit. Bintang Sirius inilah yang lantas menjadi patokan bagi kalender Mesir Kuno; membuat penanggalan mereka berisi 360 hari plus 5 hari pesta upacara keagamaan di penghujung tahun. 

Jumlah 365 ini bertepatan dengan masa yang dibutuhkan bagi Bumi untuk berputar mengelilingi matahari. Setiap beberapa tahun, panjangnya hari upacara ditambah agar sesuai dengan kemunculan Sothis. Bahkan jika perlu, satu bulan tambahan bisa jadi dilekatkan--agar tanggal tahun baru Mesir Kuno (yang jatuh bersamaan dengan tanggal 20 Juli pada penanggalan kita) selalu bertepatan dengan munculnya sang bintang pelindung Nil. 

Kalender Matahari Mendominasi Dunia

Peradaban Eropa, belakangan, juga mengembangkan kalender mereka sendiri. Tapi, karena peradaban mereka tidak semaju Mesir, kalender mereka juga kurang canggih. Adalah Julius Caesar yang menyadari bahwa penanggalan Mesir jauh lebih maju, lantas mengambil oper penanggalan ini sebagai basis bagi penanggalan Romawi--yang kita kenal sekarang sebagai "kalender Julian". Keprihatinan utama Ceasar adalah pada penetapan midwinter solstice; sebagaimana kita lihat di atas, peramalan yang tepat akan datangnya musim dingin adalah kunci bertahan hidup bagi bangsa-bangsa yang hidup di Eropa. Dan, demikianlah kalender ini digolongkan sebagai "Kalender Matahari", karena mendasarkan diri pada "pergerakan" matahari di lengkung langit.

Belakangan, kalender Julian ini disempurnakan lagi menjadi kalender Gregorian--apa yang kita biasa kenal sebagai "kalender Masehi", karena menetapkan Tahun 1 sebagai tahun di mana Isa Almasih konon dilahirkan. (Perhitungan ini sebenarnya tidak tepat, karena Isa diperkirakan lahir justru tahun 4 Sebelum Masehi.)

Sejak kemunculannya di peradaban Mesir Kuno, kalender yang berdasarkan "pergerakan matahari" ini sangat berguna bagi peradaban yang mendasarkan diri pada pertanian. Pertanian (juga peternakan) sangat tergantung pada musim. Jauh lebih kuat ketergantungan masyarakat bertani pada musim ketimbang ketergantungan masyarakat berburu-mengumpul padanya. Masyarakat berburu masih bisa berganti sasaran apabila gagal "meramalkan musim", masyarakat bertani akan mati kelaparan jika salah waktu tanam. Seiring dengan semakin dominannya peradaban pertanian di atas bumi, semakin dominan pula kalender musim/matahari dianut oleh masyarakat Manusia. Penanggalan bulan pun makin tersingkir, dan kini hanya berguna untuk keperluan yang bersifat religius--dengan kata lain, tidak secara vital menentukan mati-hidupnya peradaban. 

Tapi tidak akan ada penanggalan musim tanpa ketakjuban Manusia pada rembulan. Jika tahun baru tiba, layak dan pantas jika kita memandang rembulan sambil mengangguk hormat; mengenang nenek-moyang kita dan kekaguman mereka akan sang Juwita Malam. Tanpa rembulan, tanpa kekaguman dan kecerdasan manusia, kita tidak akan pernah memiliki kalender--dan tidak akan pernah pula merayakan Tahun Baru. 

 

 

Referensi:

 

Silakan berlangganan pada layanan Newsletter kami, untuk mendapatkan kabar apabila ada artikel baru yang diunggah.

"Belajarlah dari hari kemarin, hiduplah untuk hari ini, berharaplah untuk hari esok. Yang terpenting adalah: jangan berhenti bertanya."

Albert Einstein