Machu Picchu, Kota di Atas Awan

Machu Picchu dari Udara

Sejarah dan Arkeologi
Typography

Penilaian: 0 / 5

Nonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan Bintang
 

Pada ketinggian 2,4 km di atas permukaan laut (lebih tinggi dari lapisan awan stratocumulus), dengan luas 32.500 hektar (sedikit kurang dari luas Surabaya), berdirilah sebuah kota di puncak pegunungan Andes, di Peru: Machu Picchu. Kota yang dibangun di abad ke-15 ini sempat hilang selama 400 tahun; sebelum ditemukan kembali di tahun 1911. Kini ia telah direstorasi dan dinobatkan sebagai salah satu Kota Warisan Dunia oleh UNESCO. Saksikan kemegahannya.

Artikel ini ditulis atas permintaan @gustaama dari twitter.

peru-machu-picchu-004
Machu Picchu, yang berarti Puncak Tua, adalah satu kota yang dibangun oleh Pachacuti Inca Yupanqui, salah satu penguasa Inca terbesar, di pertengahan tahun 1400-an. Yupanqui adalah seorang pembangun imperium. Ia menaklukkan banyak negeri, membangun jalan menembus pegunungan dan mendirikan banyak kota yang bertebaran di pegunungan Andes. Kota ini ditinggalkan, dan lenyap dari catatan sejarah, beberapa puluh tahun setelah imperium Inca jatuh ke tangan penjajah Spanyol di tahun 1572. Tanpa disengaja, seorang penjelajah, Hiram Bingham III, yang juga profesor di Yale, menemukan kota ini ketika mencari reruntuhan ibukota terakhir Inca, Vilcabamba. Kemegahan kota yang bertengger di puncak gunung ini menggerakkan hati Bingham dan, sepulangnya dia dari sana, dia menulis buku yang membuat Machu Picchu menjadi perhatian dunia.

Para ahli memperkirakan bahwa Machu Picchu dibangun sebagai sebuah tempat peristirahatan bagi keluarga Raja; yang tentu akan bertetirah ke sana diiringi sekian banyak bangsawan lain beserta semua pelayan dan budak-budak mereka. Sekalipun kota ini sangat luas, lokasi yang nampaknya diperuntukkan untuk warga jelata tidaklah sebesar yang didapati pada kota-kota Inca lainnya. Ini membuat para ahli berkesimpulan bahwa Machu Picchu tidaklah digunakan secara kontinyu; melainkan hanya sesekali saja. Namun demikian, kota ini memiliki sebuah kompleks khusus bagi sang Maharaja, yang diperlengkapi dengan taman, kolam mandi dan toilet pribadi. Inilah satu-satunya toilet pribadi di kota ini.

Machu-Picchu-suntemple
Komplek tetirah pribadi sang Maharaja ini bersebelahan dengan Kuil Matahari, kuil terpenting dalam sistem kepercayaan Inca. Kuil Matahari ini diperlengkapi sebagaimana mestinya: dengan tingkap pengintai posisi matahari, altar pengorbanan (termasuk pengorbanan manusia), satu ruang khusus untuk upacara bagi Ibu Bumi dan satu ruang yang disebut La Casa de la Ă‘usta (Bilik Keputren) sampai sekarang belum diketahui persis kegunaannya.

Dengan demikian, sang Maharaja akan tetap dapat menjalankan kewajibannya sebagai Putra Matahari; sekalipun ia tengah bertetirah ke balik awan. Atau justru sebaliknya: dengan naik ke puncak gunung, sang Maharaja dapat mengklaim telah bicara langsung dengan Inti, Dewa Matahari bangsa Inca.

Kesimpulan bahwa Machu Picchu adalah kota tetirah didukung pula oleh fakta bahwa kota ini tidak memiliki perbentengan yang memadai, sebagaimana kota-kota Inca lainnya. Lagi pula, tidak ada bukti bahwa di lokasi ini pernah terjadi pertempuran apapun--besar ataupun kecil. Walau demikian, kota ini ada di lokasi yang sangat strategis, dan keamanannya dijaga dengan dirahasiakannya kota ini dari masyarakat Inca secara luas.

Para ahli masih belum dapat mengambil kesimpulan pasti mengapa kota ini ditinggalkan, atau mengapa keluarga kerajaan Inca tidak kabur dan mengungsi ke kota rahasia ini ketika bangsa Spanyol menaklukkan Inca. Teka-teki ini semakin dipersulit dengan kenyataan bahwa kota ini dibangun untuk bertahan lama. Teknik batu yang digunakan dalam pembangunannya merupakan salah satu puncak teknologi bangunan bangsa Inca. Ada lebih dari 125 bangunan besar-kecil di Machu Picchu, semua dibangun dengan granit hitam. Batu-batu granit ini dipotong sangat rata, lalu dicocokkan satu sama lain sehingga saling mengunci. Dengan demikian, mortar atau perekat tidak lagi dibutuhkan.

img-machu-picchu-construction-02
Machu Picchu juga dibangun dengan prinsip pembangunan yang sangat modern, bahkan melebihi para pengembang jaman kiwari: kota ini dibangun mengikuti bentang alam, bukan merusaknya. Dengan demikian, kita mendapati ruangan-ruangan yang dipahat ke dalam batu, bahkan tangga-tangga yang dipahat pada tebing. Di antaranya, yang paling menakjubkan adalah sistem saluran air, yang benar-benar dipahatkan pada batuan. Sistem saluran air yang tadinya memasok air untuk seluruh kota, bahkan juga daerah pertaniannya, masih berfungsi dengan baik sampai hari ini.

 Tidak ada yang tahu persis bilamana Machu Picchu ditinggalkan para penghuninya. Namun demikian, kota ini bertahan dalam kesendiriannya di puncak Andes, menunggu manusia kembali menemukannya dalam keadaan nyaris utuh. Dan saat ini, kota ini telah dinobatkan sebagai salah satu dari Tujuh Keajaiban Dunia yang Baru. Para wisatawan membanjiri kota ini tanpa henti sepanjang tahun, dan para ahli masih terus sibuk menguak rahasia teknik pembangunannya.

 

Referensi:

Silakan berlangganan pada layanan Newsletter kami, untuk mendapatkan kabar apabila ada artikel baru yang diunggah.

"Kita diajari bahwa sains itu elit, hanya untuk segelintir orang. Ini tidak benar. Kita hanya perlu mulai sedini mungkin dan memberi pondasi pada anak-anak. Anak=anak tumbuh berdasarkan pengharapan yang diberikan padanya."

Mae Jamison