Ketika Islam Jadi yang Terdepan

Sejarah dan Arkeologi
Typography

Penilaian: 0 / 5

Nonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan Bintang
 

Di masa kejayaannya, ternyata Islam adalah peradaban yang paling maju dalam hal penghormatan terhadap kemanusiaan, toleransi terhadap keyakinan lain, kecintaan terhadap sains dan keterbukaan terhadap budaya yang berbeda.

Di masa ketika Islam tengah mengepakkan sayapnya, dunia Kristen Eropa tengah mengalami kemunduran yang parah. Barbarisme merajalela, raja-raja Kristen yang bangkit di atas puing-puing kehancuran Imperium Romawi berlaku kejam terhadap rakyat dan taklukan mereka. Ilmu pengetahuan yang dikumpulkan dengan susah-payah sejak peradaban Yunani juga lenyap, karena tidak sesuai dengan agenda kekuasaan raja-raja Kristen ini. Orang Yahudi diperlakukan dengan kejam dan dihinakan sebagai setengah-manusia. Berbagai macam hukum kejam diterapkan seperti prima nocta, di mana seorang bangsawan berhak mengambil keperawanan gadis petani kawulanya yang hendak menikah.

Kondisi kehidupan yang berat itulah yang membuat banyak orang menyambut kedatangan tentara Islam, yang tengah memperluas wilayah pengaruh mereka. Tentu saja perang itu kejam, bunuh-membunuh adalah norma dan penjarahan pasca perang niscaya terjadi. Namun tentara Islam memperlakukan tawanan, terutama perempuan dan anak-anak, dengan jauh lebih manusiawi daripada perlakuan tentara Kristen apabila menang perang.

Kekhalifahan Islam juga memperlakukan rakyat taklukannya dengan baik. Sekalipun orang Kristen dan Yahudi dikenai beberapa pembatasan (terutama dalam hal beban pajak), namun kebebasan beragama tetap diberikan secara luas. Perayaan hari besar agama Kristen dan Yahudi berlangsung meriah di seluruh negeri, di mana semua rakyat (tanpa memandang agama) terlibat dalam kemeriahannya (tentu bukan pada ibadatnya). Sekalipun norma-norma Islam diangkat sebagai kemuliaan publik, tidak ada paksaan untuk menerapkannya--bahkan tidak pernah ada keharusan untuk berhijab. Bahkan Masa Keemasan Budaya Yahudi terjadi di bawah Khalifah Abd-ar-Rahman III dan anaknya Al-Hakam II. Berkat kebijakan yang manusiawi ini, populasi Muslim Eropa berkembang pesat--terutama dari perpindahan agama.

Masa Keemasan Islam ini juga ditandai dengan kecintaan terhadap sains. Pada saat itu, ayat-ayat Quran dan Hadits yang berkenaan dengan ilmu (contohnya Surah al-Mujaadilah ayat 11) dikaitkan dengan ilmu pengetahuan secara luas, bukan secara sempit menjadi sekedar ilmu agama. Berbekalkan situasi damai yang luas di wilayah kekuasaan Islam, para cendekiawan mendapatkan keamanan untuk bepergian, saling mengunjungi dan berbagi ilmu. Semangat toleransi yang tinggi juga memungkinkan adanya saling mengunjungi antara cendekiawan Muslim dengan para ahli dari kalangan Kristen dan Yahudi. Situasi yang bebas ini memungkinkan pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan di Masa Kejayaan Islam itu.

perpustakaan abbasid

Di samping itu, Kekhalifahan sangat mendukung diskursus ilmu pengetahuan ini. Para Khalifah mengirim utusan-utusan yang dikawal penuh untuk mencari kitab-kitab pengetahuan kuno ke seluruh penjuru dunia, bahkan ke tanah asing yang tidak berada di bawah Imperium Islam. Kitab-kitab ini kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Arab, membuat bahasa Arab menjadi Bahasa Ilmu Pengetahuan. Jika orang ingin maju, dia harus belajar bahasa Arab karena pengetahuan termodern masa itu hanya tersedia dalam bahasa Arab. Salah satu puncak dukungan ini adalah berdirinya Bait al-Hikmah di Bagdad, di bawah kekhalifahan Harun Al-Rasyid (786–809) dan diperluas oleh anaknya Al-Ma'mun (813–833). Bait al-Hikmah adalah pusat ilmu pengetahuan dan kemanusiaan terpenting di abad pertengahan; bahkan merupakan perpustakaan terbesar di dunia di masa itu. Pada masa di mana orang Kristen Eropa hanya dapat menemukan buku di dalam biara, semua kota besar di wilayah Muslim memiliki perpustakaan yang bermutu tinggi.

Di bidang pengobatan juga peradaban Islam mencapai puncak yang menakjubkan. Disemangati oleh hadits yang mengatakan "semua penyakit niscaya ada obatnya", ilmuwan Muslim mempelajari dengan seksama kitab-kitab karya Hippocrates, Rufus dari Ephesus, Dioscurides, dan Galen--serta mengumpulkan pengetahuan mereka sendiri. Semangat ini menghasilkan Abu Bakr Muhummad ibn Zakariyya ar-Razi (yang menulis ensiklopedi pengobatan setebal 30 jilid), Az-Zahrawi (bapak ilmu bedah) dan, tentu saja, Ibn Sina (bapak ilmu kedokteran modern).

Peradaban Islam mendirikan banyak rumah sakit yang dengan kukuh berpegang pada kode etik Hippocrates, bahkan lebih keras lagi, karena moralitas Islam menuntut para dokter melayani pasiennya dengan etika kemanusiaan tertinggi. Di samping itu, di seluruh dunia Islam didirikan banyak Bimarestan (rumah sakit umum) yang tidak membeda-bedakan layanan berdasarkan jenis kelamin, agama, atau kebangsaan. Rumah sakit umum ini berkualitas tinggi, disupervisi dokter-dokter kenamaan dan memiliki layanan bergerak (versi kuno dari ambulans).

Di segala bidang, ilmuwan Islam mendominasi--astronomi (termasuk pengamatan detil atas galaksi-galaksi seperti Andromeda), matematika (termasuk kepeloporan dalam penggunaan angka nol), teknik bangunan (terutama teknik penyediaan air bersih).

Jaman Keemasan Islam ini mulai runtuh ketika berbagai faksi mulai saling tuduh satu sama lain sebagai "kafir" atau bid'ah. Satu fakta yang mencengangkan adalah bahwa kerajaan-kerajaan Kristen tidak pernah berhasil menyaingi peradaban Islam sebelum kaum fanatik menyerang kekhalifahan dari dalam. Di akhir milenium pertama, para ulama yang menyatakan bahwa satu-satunya sumber kebenaran adalah Quran mulai bangkit dan semua karya ilmu pengetahuan sekuler mulai ditinggalkan. Peradaban Islam mulai meninggalkan pengembangan ilmu pengetahuan dan berkonsentrasi hanya pada aplikasi praktis--terutama teknologi militer.

Namun, tanpa semangat toleransi dan pengembangan ilmu pengetahuan, teknologi terapan sangat terbatas potensinya. Teknologi terapan ini masih dapat membawa Kesultanan Ottoman menjadi kekuatan yang disegani di Eropa, bahkan menaklukkan Bizantium. Namun kemunduran peradaban Islam sudah tak dapat lagi tertahankan. Perlahan tapi pasti, Kekhalifahan Islam yang pernah menjadi suar gemilang bagi kemanusiaan dan peradaban, hilang ditelan jaman.

Tapi kemunduran ini bukan takdir. Belajar dari sejarah, kita tahu apa yang harus dilakukan untuk mengembalikan kejayaan Islam: Islam harus kembali menjadi yang terdepan dalam penghormatan terhadap kemanusiaan, toleransi dan perlindungan terhadap keberagaman, serta kecintaan terhadap ilmu pengetahuan (bukan sekedar aplikasi teknologi). Seluruh umat manusia akan mendapat manfaat dari peradaban Islam, dan Islam pun mewujud sebagai rahmat bagi seluruh alam.

Referensi:

 

Silakan berlangganan pada layanan Newsletter kami, untuk mendapatkan kabar apabila ada artikel baru yang diunggah.

"Informasi bukan Ilmu Pengetahuan."

Albert Einstein