Kutukan Raja Tut: Berupa Jamur dan Bakteri?

Firaun Tut-ankh-amun

Sejarah dan Arkeologi
Typography

Penilaian: 0 / 5

Nonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan Bintang
 

Tut-ankh-amun adalah salah satu Firaun Mesir paling populer yang dikenal manusia modern karena makamnya ditemukan dalam keadaan nyaris utuh, dengan harta berlimpah yang tersimpan di dalamnya. Demikian pula dengan nasib apes yang berturut-turut dialami oleh beberapa orang yang turut serta dalam ekspedisi pencarian dan penggalian makam firaun ini.

 

Tut-ankh-amun, firaun Mesir yang kini populer dengan julukan "Raja Tut", adalah salah satu firaun dari dinasti ke-18. Firaun ini memerintah kerajaan besar itu dari tahun 1332-1323 SM. Nama aslinya Tut-ankh-aten (Aten yang Hidup), adalah penerus dari Firaun Akhen-aten. Dia mengubah namanya menjadi Tut-ankh-amun dalam upaya membalikkan ajaran ayahnya bahwa di dunia ini hanya ada satu ilah, yakni Aten. Tut-ankh-amun mengembalikan panteon Mesir, sehingga Mesir kembali menyembah banyak dewa. Dia meninggal karena kombinasi kecacatan genetik (kedua orang tuanya bersaudara dekat), infeksi tulang kaki akibat terhantam senjata musuh pada sebuah pertempuran, dan malaria. Berkat jasanya mengembalikan para dewa Mesir ke tempat sepantasnya, dia pun dipuja sebagai "dewa yang menjelma" oleh rakyat Mesir. Untuk keperluan melindungi dewa mereka, makamnya pun disegel dengan berbagai kutukan; yang dipercaya akan melancarkan pembalasan kejam pada semua orang yang cukup bernyali untuk mengganggu makam itu. 

Kisah Kutukan Firaun ini menjadi sensasi internasional setelah beberapa anggota penting dari tim ekspedisi penggalian makam Raja Tut meninggal karena sebab yang tidak masuk akal. Contohnya adalah kematian Lord Carnarvon. Dia tergigit nyamuk malaria tak lama sesudah penggalian, lalu tanpa sengaja menyobek luka gigitan itu ketika bercukur. Tak butuh waktu lama sebelum dia meninggal karena keracunan darah akibat infeksi luka tersebut. Beberapa kematian yang menyusul sesudahnya membangkitkan kehebohan mengenai Kutukan Firaun ini. 

Sekalipun demikian, kalangan ilmuwan tetap skeptis terhadap kutukan ini; karena sebagian besar dari anggota tim tetap hidup selamat sejahtera sampai akhir hidup mereka, bertahun-tahun kemudian. Bahkan Howard Carter, pemimpin ekspedisi itu, hidup sehat sampai akhir hayatnya di tahun 1939. Dari 58 anggota tim, hanya 8 orang yang meninggal dalam jangka waktu 12 tahun sejak penggalian itu berlangsung.

Kini para ahli berpendapat bahwa makam para firaun memang "terkutuk"--dalam pengertian mengandung bahaya maut apabila dimasuki tanpa perlengkapan keselamatan yang memadai. Bahaya terbesar dari pembukaan sebuah makam kuno seperti itu datang dari jamur dan bakteri kuno yang tersimpan di dalamnya, terutama dari jenis Aspergillus niger dan Aspergillus flavus. Jamur dan bakteri dapat terus hidup dalam kondisi tanpa sinar matahari dan udara yang sangat lembab. Di dunia luar, jamur dan bakteri berevolusi sejalan dengan perkembangan ketahanan tubuh manusia. Tiap kali lahir generasi jamur dan bakteri baru, yang mengandung jenis racun baru, lahir pula generasi manusia yang memiliki kekebalan terhadap racun tersebut. Tapi, dengan terisolasi di dalam makam, jamur dan bakteri mengalami arah perkembangan yang sama sekali berbeda. 

Dengan demikian, manusia yang memasuki makam tanpa peralatan keselamatan, beresiko berhadapan dengan varian jamur dan bakteri yang sama sekali tak dikenal. Sangat mungkin tubuh manusia tersebut tak memiliki antibodi yang diperlukan untuk menangkal racun unik itu. Sangat mungkin, hal ini merupakan penjelasan mengapa 6 dari 8 kematian yang dikaitkan dengan kutukan itu mengandung gejala keracunan. Ini juga dapat menjelaskan mengapa sebagian besar anggota tim tidak terkena "kutukan"--yakni karena mereka memiliki antibodi yang memadai untuk menangkal serangan jamur dan bakteri mematikan tersebut. 

Jika saja para pendeta Mesir Kuno tahu bahwa torehan mantera mereka masih kalah ampuh dibandingkan racun dari jamur dan bakteri, barangkali mereka akan lebih banyak menanam jamur beracun daripada melukis mantera di dinding dan pintu makam.

Referensi:

http://news.nationalgeographic.com/news/2005/05/0506_050506_mummycurse.html

Silakan berlangganan pada layanan Newsletter kami, untuk mendapatkan kabar apabila ada artikel baru yang diunggah.

"Sains mungkin dapat menyembuhkan hampir semua penyakit manusia; namun sejauh ini belum dapat menyembuhkan penyakit yang terburuk: ketidakpedulian."

Hellen Keller