Yunani, Peradaban yang Besar Bersama Homoseksualitas

Homoerotika dalam Seni Yunani Kuno

Sejarah dan Arkeologi
Typography

Penilaian: 0 / 5

Nonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan Bintang
 

Dalam dunia yang didominasi ajaran Samawi, homoseksualitas dipandang dengan hina. Kisah Sodom dan Gomora terus dipakai untuk membenarkan penghukuman dan diskriminasi terhadap pelaku homoseksualitas. Kisah ini menyiratkan bahwa homoseksualitas dilaknat Tuhan, dan pelakunya harus dihancurkan. Tapi sejarah dunia mencatat banyak peradaban yang besar dan produktif, dan pada saat bersamaan membenarkan perilaku homoseksual. Di antaranya adalah Kebudayaan Yunani Kuno.

Contoh paling terkenal dari peradaban besar yang memperkenankan perilaku homoseksual adalah Yunani Kuno. Kebudayaan Yunani Kuno tidak mengenal kata "homoseksual", tidak dalam makna yang kita kenal sekarang. Yang mereka kenal adalah Paiderastia, sebuah hubungan erotik antara seorang pria yang lebih tua dengan pria lain yang lebih muda. Hubungan erotik ini hanya satu aspek dari Paiderastia, karena pria yang lebih tua itu bertindak sebagai mentor untuk membimbing anak asuhnya menjadi seorang lelaki Yunani sejati.

Kesaksian tertua mengenai relasi Paiderastia ini terdapat dalam salah satu karya sastra Yunani Kuno yang tertua: Iliad. Saga karya Homer ini mengisahkan konflik antara Yunani dan Troya, dan mengandung salah satu pasangan pria-pria paling terkenal: Achilles dan Patroclus. Setelah melalui banyak interpretasi dan reinterpretasi oleh kebudayaan yang menabukan homoseksualitas, hubungan kedua pria ini telah mengalami banyak gubah ulang. Dalam berbagai sinema modern, seperti dalam film Troy yang dibintangi oleh Brad Pitt, Achilles digambarkan sebagai pria yang lebih tua dan Patroclus adalah kemenakannya. Dengan gubah-ulang ini, kasih Achilles pada Patroclus, dan duka mendalam yang dialaminya akibat gugurnya sang pasangan, dapat dijelaskan dengan baik. Namun Homer jelas menggambarkan bahwa Patroclus adalah pria yang lebih tua, bahkan berjanggut, dan Achilles digambarkan sebagai pahlawan muda yang tampan-rupawan. Terlebih lagi, Homer menggunakan istilah philos untuk menggambarkan relasi antara Achilles dan Patroclus. kata ini, dalam sastra Yunani Kuno, digunakan untuk merujuk satu cinta yang mendalam--baik sebagai kamerad dalam perang, maupun sebagai kekasih.

Keterkaitan erat antara hubungan dua pria, sebagai kamerad sekaligus sebagai kekasih, mungkin berpuncak pada dibentuknya satu pasukan elit di kota Thebes, Tentara Suci Thebes, yang terdiri dari 150 pasangan homoseksual. Jumlah 300 ini senantiasa dipelihara sepanjang sejarah eksistensi pasukan khusus ini. Entah ada apa dengan orang Yunani dan angka 300 ini. Tentara Suci Thebes menjaga kotanya tidak terkalahkan, bahkan dari beberapa gelombang invasi Sparta, dari tahun 424 SM sampai tahun 338 SM--ketika mereka dihancurkan sampai ke orang terakhir dan kota mereka diratakan dengan tanah oleh Phillip II, raja Makedonia yang merupakan ayah dari Alexander Agung.

Alexander sendiri diduga memiliki hubungan sesama jenis dengan salah satu panglimanya yang paling terpercaya, Hephaestion. Sekalipun tidak ada bukti langsung mengenai hubungan seksual antara mereka, hubungan erotik antar pria bukan hal yang janggal di kalangan tentara Makedonia. Dan, sekalipun Alexander memiliki beberapa istri dan anak, dalam beberapa kesempatan dia pun secara terbuka menunjukkan kesediaannya melakukan keintiman seksual dengan laki-laki--seperti dengan Bagoas, salah satu kasim (orang kebiri) favoritnya.

Luasnya penerimaan hubungan erotik antar lelaki di jaman Yunani Kuno barangkali paling tergambar dari pemujaan kebudayaan ini terhadap tubuh telanjang seorang pria. Kita tahu bahwa Olimpiade, yang diawali di jaman ini, diikuti oleh para atlet pria yang harus tampil berlomba dengan telanjang bugil. Bahkan kata gymnasium itu sendiri, yang merupakan pusat pendidikan fisik dan mental bagi anak-anak lelaki Yunani, berasal dari akar kata gymnos yang artinya "telanjang".

Kebudayaan Yunani telah menghasilkan sederetan panjang pemikir gemilang dan prajurit perkasa--tanpa perlu ketakutan akan homoseksualitas, bahkan dengan menjadikannya satu unsur integral dalam keagungan budaya mereka.

Referensi:

http://www.amazon.com/Homosexuality-Civilization-Louis-Crompton/dp/0674022335

 

Silakan berlangganan pada layanan Newsletter kami, untuk mendapatkan kabar apabila ada artikel baru yang diunggah.

"Sains adalah kunci masa depan kita dan, jika kamu tidak percaya pada sains, kamu membuat semua orang terbelakang."

Bill Nye