Artikel

Grid List

Amazon: fiksi vs realita

Sejarah dan Arkeologi

Penilaian: 5 / 5

Aktifkan BintangAktifkan BintangAktifkan BintangAktifkan BintangAktifkan Bintang

Film Wonder Woman berkisah tentang sebuah bangsa legendaris, Amazon, yang keseluruhannya hanya berkelamin perempuan. Mereka adalah petarung-petarung perkasa yang setara, bahkan lebih hebat, daripada laki-laki. Salah satu di antara mereka, Diana, memasuki dunia manusia dan, dengan kekuatan supernya, menjadi Wonder Woman. Ini semua bisa kita nikmati lewat tayangan layar perak. Yang barangkali tidak dituturkan dalam film itu adalah bahwa legenda tentang bangsa Amazon berakar pada kenyataan--kekaguman bangsa Yunani akan para wiranita (woman warriors) bangsa Scythia, yang turut berperang bersama kaum lelakinya.

Penilaian: 0 / 5

Nonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan Bintang

Sejak fajar menyingsing bagi Homo sapiens, langit malam telah menjadi sumber ketakjuban bagi spesies ini. Bagi mahluk-mahluk yang mengembara di padang rumput Afrika, tentu saja malam membentangkan satu pemandangan luar biasa nun jauh di sana. Kerlip bintang-bintang dan rembulan yang bagaikan lentera, tentu merupakan sumber misteri yang tiada tara. Kita mungkin tidak akan pernah tahu siapa yang pertama kali menghitung jarak jeda antara satu purnama ke purnama berikutnya; namun inilah kali pertama Manusia mengenal kalender.

Penilaian: 5 / 5

Aktifkan BintangAktifkan BintangAktifkan BintangAktifkan BintangAktifkan Bintang

Ini adalah jaman di mana hoax memenuhi media sosial. Dari mulai isu mengenai simbol palu-arit pada muka uang kertas Republik Indonesia, sampai munculnya kelompok-kelompok yang percaya bahwa bumi sebenarnya datar. Menariknya, banyak di antara para penyebar dan pendukung hoax ini adalah orang yang berkesempatan mengenyam pendidikan tinggi. Bagaimana mungkin orang yang sudah diajari ilmu pengetahuan malah mendukung dan menyebarkan hoax? Para peneliti pun tertarik dengan gejala ini dan mulai mengadakan penyelidikan mendalam. Temuan mereka menegaskan bahwa, sebelum kita menjadi Manusia, kita adalah pertama-tama bagian dari Dunia Hewan.

Kala Kebencian Merajalela

Kimia dan Kehidupan

Penilaian: 0 / 5

Nonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan Bintang

Jauh di masa lalu, ketika manusia masih hidup dalam kelompok-kelompok kecil yang berburu berpindah-pindah, kemampuan mengenali kawan dari lawan adalah salah satu ketrampilan sosial yang penting. Di jaman di mana peradaban belum lagi lahir, gagal mengenali lawan bisa berujung maut. Agar ketrampilan sosial yang vital ini bisa diajarkan dengan cepat, ia pun disederhanakan: kawan itu baik, lawan itu jahat. Sial bagi kita, pranata sosial, yang dikembangkan untuk kelangsungan hidup itu, kita warisi sampai sekarang dalam bentuk prasangka. Untungnya, kita sekarang juga memiliki sains; yang tengah bekerja keras untuk membongkar mekanisme yang menghasilkan prasangka dan kebencian terhadap "orang luar" ini.

Cheetah, dilahirkan untuk berlari

Evolusi

Penilaian: 0 / 5

Nonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan Bintang

Kita manusia saat ini menguasai dunia karena kecerdasan kita. Tapi kita harus terima bahwa, secara fisik, kita tidak ada apa-apanya dibandingkan kemegahan alam di sekitar kita. Berikut ini adalah hewan-hewan luar biasa yang dapat dengan mudah mempermalukan para atlet profesional. Inilah para pemegang rekor yang sejati di atas planet kita.

Machu Picchu dari Udara

Sejarah dan Arkeologi

Penilaian: 0 / 5

Nonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan Bintang

Pada ketinggian 2,4 km di atas permukaan laut (lebih tinggi dari lapisan awan stratocumulus), dengan luas 32.500 hektar (sedikit kurang dari luas Surabaya), berdirilah sebuah kota di puncak pegunungan Andes, di Peru: Machu Picchu. Kota yang dibangun di abad ke-15 ini sempat hilang selama 400 tahun; sebelum ditemukan kembali di tahun 1911. Kini ia telah direstorasi dan dinobatkan sebagai salah satu Kota Warisan Dunia oleh UNESCO. Saksikan kemegahannya.

Katakan Tidak pada Profil Palsu

Sosial dan Politik

Penilaian: 0 / 5

Nonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan Bintang

Kita baru mendengar tentang tertangkapnya banyak pegiat hoax yang tergabung dalam sebuah grup bernama Saracen. Pemberitaan media menyebutkan bahwa grup ini memiliki sekurangnya 400.000 akun palsu untuk menyebarkan berita hoax yang mereka produksi. Mengapa harus sekian banyak? Kalau berita palsu itu menyebar di kalangan akun palsu mereka sendiri, bukankah tidak ada bahayanya? Tapi, persis di sinilah apa yang disebut Bandwagon Effect bermain.

Penilaian: 0 / 5

Nonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan Bintang

Penelitian telah menunjukkan bahwa orang yang banyak prasangka terhadap kelompok lain, mereka yang berideologi konservatif dan hitam-putih, biasanya memiliki kemampuan kognitif rendah.

Terorisme tidak kenal agama!

Psikologi dan Pendidikan

Penilaian: 0 / 5

Nonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan Bintang

Ledakan bom di Sarinah, Kamis lalu, 14 Januari 2016, menimbulkan beragam reaksi. Dari mulai yang sedih dan pedih, sampai yang lantang menantang balik para teroris. Tapi pertanyaan terpenting yang harus kita ajukan adalah: bagaimana ceritanya seseorang bisa jadi teroris? Bagaimana seseorang bisa begitu tega mencabut nyawa orang lain, bahkan dengan membahayakan diri sendiri?

Jabat erat dengan maaf

Psikologi dan Pendidikan

Penilaian: 0 / 5

Nonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan Bintang

Setiap sistem kepercayaan yang pernah dan masih ada di muka bumi mengakui bahwa tidak ada manusia yang bebas dari kesalahan. Bahkan agama-agama menyandarkan alasan keberadaan mereka pada layanan 24x7 untuk menyediakan pengampunan bagi kesalahan itu. Agama-agama menjanjikan bahwa Sang Sesembahan adalah Yang Maha Pengampun. Sayangnya, sekalipun menyembah Yang Maha Pengampun, manusia sulit sekali memaafkan manusia lain. Dendam bisa berlangsung tujuh puluh atau tujuh ratus turunan. Mengapa manusia sulit sekali memaafkan manusia lain?

Lachish, kota yang sejaman dengan Sodom

Agama dan Etika

Penilaian: 0 / 5

Nonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan Bintang

"Sodom" telah menjadi kata yang sinonim dengan laknat dan kehancuran akibat homoseksualitas. Namun barangkali tidak banyak yang tahu bahwa Sodom dan Gomorra bukanlah kasus terisolasi pada masanya. Bahkan, nyaris seluruh Timur Tengah, pada masa berdirinya Sodom, mempraktekkan homoseksualitas--sekalipun dengan tingkat berbeda-beda. Pandangan tentang homoseksualitas sebagai sebuah dosa, yang dipelopori oleh orang Ibrani, justru merupakan pandangan minoritas di masanya.

Pendidikan anak adalah pondasi

Psikologi dan Pendidikan

Penilaian: 0 / 5

Nonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan Bintang

Seorang anak bagaikan kertas putih bersih. Akan menjadi apa si anak kelak, tergantung pendidikan yang diberikan padanya. Pendidikan itulah yang akan menorehkan tinta kasih-sayang, atau kemurkaan, atau keuletan, atau keingintahuan, atau ketidakpedulian. Sebulan yang lalu, Mei 2015, American Psychological Association mengeluarkan hasil penelitian ekstensif mereka atas sistem pendidikan Amerika, dan menggariskan duapuluh prinsip bagi pendidikan dasar. Penelitian ini dibuat guna menghasilkan pengajaran yang efektif dan menggairahkan semangat belajar siswa.

Artikel

Grid List

mobil listrik

Energi dan Lingkungan

Penilaian: 5 / 5

Aktifkan BintangAktifkan BintangAktifkan BintangAktifkan BintangAktifkan Bintang

Keinginan melihat mobil listrik beroperasi di jalan-jalan Indonesia telah muncul dalam dua periode pemerintahan terakhir. Target utama tentu saja untuk memproduksi mobil listrik dan industri pendukungnya seperti baterai ion-litium made-in Indonesia. Pertama kali ide ini dikemukakan oleh Dahlan Iskan, menteri BUMN era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada tahun 20121. Tetapi kemudian ide ini tenggelam oleh berbagai isu kontroversial yang menyertainya. Terakhir, Presiden Joko Widodo menyatakan dukungannya terhadap mobil listrik (Kompas2, Republika3, CNN Inodnesia4). Tidak sedikit yang mencibir ide ini dengan berbagai alasan seperti kesinambungan ketersedian baterai ion-lithium sebagai alat penyimpan dan pengubah energi kimia ke energi listrik dan sebaliknya; belum siapnya infrastruktur pengisian ulang baterai; dan masalah pajak impor mobil listrik. Dengan timbul tenggelamnya ide mobil listrik, sangat wajar jika para pemangku kepentingan dalam bidang ini bertanya, apa yang berbeda dalam wacana mobil listrik kali ini, dibandingkan dengan era Dahlan Iskan?

Thomas Alva Edison

Biografi

Penilaian: 0 / 5

Nonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan Bintang

Thomas Alva Edison adalah satu sosok yang banyak disaput legenda. Penemuannya yang begitu banyak dan sangat berguna, bahkan tak tergantikan selama berpuluh tahun, membuatnya menjadi idola banyak orang. Dan, sebagai idola, tentu banyak kabar burung dan kisah menakjubkan yang disematkan padanya. Tapi, dari sekian banyak kisah menakjubkan itu, tidak banyak yang tahu bahwa Thomas Alva Edison adalah anak seorang pemberontak.